Diperbarui: 1 Jul
PADA tahun saka memanah surya, dia lahir untuk menjadi narapati. Telah nampak tanda keluhurannya, bahkan selama dia ada dalam kandungan di Kahuripan. Saat dia lahir terjadilah gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh, dan halilintar yang menyambar-nyambar. Gunung Kampud pun bergemuruh, membunuh para durjana. Penjahat musnah dari negara.
Itulah tanda Batara Girinata menjelma bagai raja besar. Terbukti selama dia bertakhta, seluruh Jawa tunduk pada perintahnya. Di balik kisah mitologis dalam Nagarakrtagama itu, Jawa memang berulang kali diguncang gempa. Namun, bagi orang Jawa Kuno, bencana itu memiliki makna.
Slamet Muljana dalam Nagarakrtagama dan Tafsir Sejarahnya menerjemahkan peristiwa yang dicatat Mpu Prapanca dalam karya monumentalnya itu sebagai kisah kelahiran Raja Hayam Wuruk. Peristiwa alam yang terjadi ditafsirkan sebagai isyarat keluhuran sang bayi. Seperti gempa bumi di Banupindah, hujan abu diikuti guruh dan halilintar. Segala isyarat kebesaran itu terlaksana setelah baginda dewasa dan memegang tampuk kepemimpinan. Kerajaan aman dan tenteram, bebas dari kejahatan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















