- 9 Okt 2023
- 5 menit membaca
Diperbarui: 11 Jun
PERJALANAN mengunjungi sejumlah wilayah di Indonesia pada 1950-an menjadi pengalaman yang berkesan bagi Nina Consuelo Epton (1913–2010). Tak heran bila tiga tahun setelah perjalanan pertamanya, wanita yang pernah bekerja sebagai wartawan BBC London itu kembali ke Indonesia untuk melakukan ekspedisi. Kali ini misinya menemui Suku Baduy yang ia sebut sebagai “the invisible people” atau “orang-orang tak terlihat”.
Dalam bukunya, Magic and Mystic of Java, Epton berkisah awal mula perkenalannya dengan Suku Baduy. Wanita kelahiran Hampstead, London tahun 1913 itu mulai tertarik dengan suku yang mendiami wilayah Banten tersebut sejak membaca tentang mereka di buku The History of Java karya Sir Thomas Stamford Raffles. Mantan Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa itu menulis bahwa Suku Baduy yang tinggal di pedalaman Banten merupakan keturunan dari orang-orang yang lari ke dalam hutan setelah runtuhnya bagian barat kota Pajajaran pada abad kelima belas.
Meski tidak sempat bertemu orang-orang Baduy selama masa tugasnya di Hindia Belanda, Raffles memiliki ketertarikan dan rasa ingin tahu yang besar terhadap masyarakat tersebut. Oleh karena itu, ia mengumpulkan informasi mengenai Suku Baduy dan menuliskannya ke dalam salah satu bagian bukunya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















