- 18 Okt 2023
- 5 menit membaca
Diperbarui: 11 Jun
TEPAT setelah jam lima pagi, Nina Epton terbangun oleh kilatan cahaya dan suara berisik di belakang rumah kepala desa. Cahaya itu berasal dari obor yang dibawa penduduk desa ke dan dari sungai. Sementara suara berisik berasal dari dapur di mana para wanita tengah menumbuk padi untuk memisahkan gabah dari sekam.
Setelah sarapan, Epton bersama rombongan melanjutkan perjalanan untuk menemui Suku Baduy Dalam, yang ia sebut the invisible people atau orang-orang tak terlihat. “Kami kini telah terbiasa berjalan tanpa alas kaki, dan kami membuat kemajuan yang baik sehingga kami sampai di Ciboleger, desa terdepan di perbatasan wilayah Baduy, sebelum tengah hari,” tulis Epton, mantan wartawan BBC London, dalam Magic and Mystic of Java.
Desa Ciboleger berada di lereng bukit berhutan lebat dan dikeliling hamparan sawah yang membentang luas. Bersama dengan Darmono, Japar, dan para porter yang membawa barang-barang keperluan ekspedisi, Epton menuju rumah kepala desa Ciboleger. Setelah tiba di sana, Japar menyeberang ke wilayah Baduy untuk menyampaikan berita kedatangan mereka bersama pesan Hilman Djajadiningrat tentang Epton dan rombongannya, kepada puun di desa terdekat.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















