top of page

Salim Said: Mereka Mestinya Baca Dulu

Aparat TNI perlu lebih banyak membaca dan belajar sebelum mengurusi persoalan sipil.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 21 Jan 2019
  • 3 menit membaca

Untuk kesekian kalinya, aparat TNI melakukan razia buku. Jenis buku yang disasar dari tahun ke tahun masih sama: seputar Peristiwa 1965 yang berkaitan dengan PKI. Baru-baru ini, pihak Kodim (Komando Distrik Militer) 0312 bersama tim Kejaksaan Negeri di Padang menggeledah sejumlah toko buku dan menarik buku-buku yang dicurigai menyebarkan ideologi komunis.


Aparat sekonyong-konyong mengadakan razia tanpa kajian terlebih dahulu. Beberapa literatur yang diamankan itu merupakan hasil penelitian akademis ataupun reportase jurnalistik. Mereka memasuki domain sipil dengan dalil melaksanakan TAP MPR No. 23 tentang pelarangan ajaran komunisme.


Salah satu buku yang masuk daftar sita adalah Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto karya Profesor Salim Haji Said. Buku itu merupakan bagian kecil dari memoar Salim yang berjudul Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian yang diterbitkan Penerbit Mizan pada 2015. Beberapa bagian mengungkapkan kesaksian Salim tentang apa yang sebenarnya terjadi menjelang, selama, dan sesudah Gestapu. Salim ketika itu telah melek politik karena merupakan aktivis mahasiswa UI di samping menyambi sebagai wartawan. Menilik latar belakang penulisnya, buku ini bersifat semi otobiografi yang dituturkan dengan gaya tutur reportase naratif.


Dalam pengantarnya, Salim mengatakan bahwa buku itu diterbitkan bertepatan dengan peringatan 50 tahun Gestapu (Gerakan 30 September 1965) dan percobaan kaum komunis menguasai Indonesia. Melalui buku itu, Salim juga ingin mengenang korban-korban yang tewas, terpenjara, atau terbuang akibat aksi kaum komunis. Singkat kata, buku terebut dipersembahkan Salim kepada publik untuk memperingati kegagalan PKI.


“Mestinya kan mereka baca dulu. Atas dasar baca itu baru mereka bertindak. Bahwa ini ada kekeliruan karena mereka tidak baca,” kata Salim Said kepada Historia.


Menurut Salim tindakan razia itu menjadi masalah karena aparat tidak melakukan telaah terhadap isinya. Kalau saja mereka membaca sebelumnya, maka bisa diketahui mana buku yang perlu disita dan mana yang tidak perlu. Salim sendiri tidak heran soal kecerobohan tentara seperti ini menyadari minat dan daya baca mereka yang rendah.


“Ya baca saja buku itu, jelas kok. Buku saya itu bukan propaganda PKI. Jadi ya, karena keliru saja, kurang waktu untuk membaca. Tapi itulah kelemahan kita. Malas membaca. Nah, terjadilah hal seperti itu, ujar Salim.


Kelakuan tentara yang merazia buku ini terasa konyol andai mereka mengetahui siapa sosok Salim Said. Pada 1965, Salim merintis karier jurnalistiknya sebagai wartawan Angkatan Bersendjata, koran partisan dari TNI AD. Salim kemudian lebih dikenal sebagai jurnalis Tempo dan kritikus film. Di bidang akademis, Salim merampungkan studi doktoralnya di Ohio University dengan menulis disertasi tentang peran politik militer era revolusi berjudul “Genesis of Power: General Sudirman and the Indonesian Military in Politics, 1945-49” (1991).


Hingga kini, Salim berkhidmat sebagai guru besar ilmu politik Universitas Pertahanan yang menjadi tempat bagi para perwira TNI menimba ilmu akademiknya. Dia juga tercatat sebagai penasihat politik Kapolri, pengajar di Sekolah Staf dan Komando TNI AD, AL, dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Dalam arus publisitas, namanya kondang sebagai pengamat politik dan militer.


“Mestinya pimpinan dari penyita itu mendidik bawahannya bagaimana cara menyita buku. Tidak bisa begitu saja datang ke toko buku lalu menyita buku," kata Salim Said.


Meski terkesan semena-mena, Salim dapat memahami tindakan aparat yang asal saja mencokok bukunya dari rak lantaran fobia yang diwariskan dari masa ke masa. Sebabnya, Salim mengusung judul  bukunya “Gestapu 65” yang langsung diasosiasikan sebagai buku PKI. Pun demikian, Salim mengaku tenang-tenang saja menyikapi apa yang terjadi terhadap karyanya. Dia tidak tersinggung atau marah. Buku itu sendiri telah masuk cetakan keempat dan telah beredar luas sejak penerbitannya yang pertama kali.


“Saya tidak tersinggung, tidak marah," lanjutnya. “Ya begitulah bangsa kita, bertindak tidak berdasarkan informasi yang cukup.”



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
bg-gray.jpg
Pernah berguru ke Rahmah El Yunusiyah dan H.R. Rasuna Said, Shamsiah Fakeh getol memperjuangkan kemerdekaan negeri dan kaumnya. Kini, buku memoar aktivis Malaysia berdarah Minang itu dilarang pemerintah Malaysia.
bg-gray.jpg
Dalam novel-novel karangannya, Motinggo Boesje menyuguhkan bumbu seksualitas dan erotisme yang digandrungi pembaca. Di akhir masa kepengarangannya, dia menekuni sastra serius.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
transparant.png
bottom of page