top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Salim Said: Mereka Mestinya Baca Dulu

Aparat TNI perlu lebih banyak membaca dan belajar sebelum mengurusi persoalan sipil.

20 Jan 2019

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Salim Said dan salah satu bukunya yang disita. Sumber: Dari Gestapu ke Reformasi: Sebuah Kesaksian karya Salim Haji Said.

Untuk kesekian kalinya, aparat TNI melakukan razia buku. Jenis buku yang disasar dari tahun ke tahun masih sama: seputar Peristiwa 1965 yang berkaitan dengan PKI. Baru-baru ini, pihak Kodim (Komando Distrik Militer) 0312 bersama tim Kejaksaan Negeri di Padang menggeledah sejumlah toko buku dan menarik buku-buku yang dicurigai menyebarkan ideologi komunis.


Aparat sekonyong-konyong mengadakan razia tanpa kajian terlebih dahulu. Beberapa literatur yang diamankan itu merupakan hasil penelitian akademis ataupun reportase jurnalistik. Mereka memasuki domain sipil dengan dalil melaksanakan TAP MPR No. 23 tentang pelarangan ajaran komunisme.


Salah satu buku yang masuk daftar sita adalah Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto karya Profesor Salim Haji Said. Buku itu merupakan bagian kecil dari memoar Salim yang berjudul Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian yang diterbitkan Penerbit Mizan pada 2015. Beberapa bagian mengungkapkan kesaksian Salim tentang apa yang sebenarnya terjadi menjelang, selama, dan sesudah Gestapu. Salim ketika itu telah melek politik karena merupakan aktivis mahasiswa UI di samping menyambi sebagai wartawan. Menilik latar belakang penulisnya, buku ini bersifat semi otobiografi yang dituturkan dengan gaya tutur reportase naratif.


Dalam pengantarnya, Salim mengatakan bahwa buku itu diterbitkan bertepatan dengan peringatan 50 tahun Gestapu (Gerakan 30 September 1965) dan percobaan kaum komunis menguasai Indonesia. Melalui buku itu, Salim juga ingin mengenang korban-korban yang tewas, terpenjara, atau terbuang akibat aksi kaum komunis. Singkat kata, buku terebut dipersembahkan Salim kepada publik untuk memperingati kegagalan PKI.


“Mestinya kan mereka baca dulu. Atas dasar baca itu baru mereka bertindak. Bahwa ini ada kekeliruan karena mereka tidak baca,” kata Salim Said kepada Historia.


Menurut Salim tindakan razia itu menjadi masalah karena aparat tidak melakukan telaah terhadap isinya. Kalau saja mereka membaca sebelumnya, maka bisa diketahui mana buku yang perlu disita dan mana yang tidak perlu. Salim sendiri tidak heran soal kecerobohan tentara seperti ini menyadari minat dan daya baca mereka yang rendah.


“Ya baca saja buku itu, jelas kok. Buku saya itu bukan propaganda PKI. Jadi ya, karena keliru saja, kurang waktu untuk membaca. Tapi itulah kelemahan kita. Malas membaca. Nah, terjadilah hal seperti itu, ujar Salim.


Kelakuan tentara yang merazia buku ini terasa konyol andai mereka mengetahui siapa sosok Salim Said. Pada 1965, Salim merintis karier jurnalistiknya sebagai wartawan Angkatan Bersendjata, koran partisan dari TNI AD. Salim kemudian lebih dikenal sebagai jurnalis Tempo dan kritikus film. Di bidang akademis, Salim merampungkan studi doktoralnya di Ohio University dengan menulis disertasi tentang peran politik militer era revolusi berjudul “Genesis of Power: General Sudirman and the Indonesian Military in Politics, 1945-49” (1991).


Hingga kini, Salim berkhidmat sebagai guru besar ilmu politik Universitas Pertahanan yang menjadi tempat bagi para perwira TNI menimba ilmu akademiknya. Dia juga tercatat sebagai penasihat politik Kapolri, pengajar di Sekolah Staf dan Komando TNI AD, AL, dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Dalam arus publisitas, namanya kondang sebagai pengamat politik dan militer.


“Mestinya pimpinan dari penyita itu mendidik bawahannya bagaimana cara menyita buku. Tidak bisa begitu saja datang ke toko buku lalu menyita buku," kata Salim Said.


Meski terkesan semena-mena, Salim dapat memahami tindakan aparat yang asal saja mencokok bukunya dari rak lantaran fobia yang diwariskan dari masa ke masa. Sebabnya, Salim mengusung judul  bukunya “Gestapu 65” yang langsung diasosiasikan sebagai buku PKI. Pun demikian, Salim mengaku tenang-tenang saja menyikapi apa yang terjadi terhadap karyanya. Dia tidak tersinggung atau marah. Buku itu sendiri telah masuk cetakan keempat dan telah beredar luas sejak penerbitannya yang pertama kali.


“Saya tidak tersinggung, tidak marah," lanjutnya. “Ya begitulah bangsa kita, bertindak tidak berdasarkan informasi yang cukup.”



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page