- 21 Agu 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 22 Feb
KALAH dalam pemilihan panglima besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 12 November 1945, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo mengisyaratkan untuk mengundurkan diri. Dia menganggap hasil pemilihan itu sebagai suara ketidakpercayaan terhadap dirinya.
Kendati menang dalam pemilihan, Soedirman tak serta merta jadi panglima besar. Sampai beberapa lama, pemerintahan Sutan Sjahrir tak jua melantiknya. Ada dua alasan. Sjahrir adalah seorang antifasis Jepang, sementara Soedirman jebolan PETA (Pembela Tanah Air), organisasi militer bentukan Jepang. Pemboikotan ini juga dipakai sebagai alat tawar-menawar; menekan militer agar menerima Amir Sjarifuddin, teman separtainya di Partai Sosialis, sebagai menteri pertahanan, sementara yang terpilih adalah Sultan Hamengkubuwono IX.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















