top of page

Sayuti Melik Merasa Bebas di Dalam Penjara

Penjara tak menyurutkan perjuangan Sayuti Melik. Ia justru pernah merasa merdeka ketika berada di dalam penjara.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sayuti Melik. (Perpusnas RI).

28 Mar 2020
2 menit membaca

Diperbarui: 25 Nov 2025

SAYUTI Melik bukan hanya pengetik naskah Proklamasi. Sejak 1923, ia sudah menulis di berbagai surat kabar dari Islam Bergerak, Penggugah, hingga Sinar Hindia. Tulisan-tulisannya seringkali mengkritik pemerintah kolonial dan membuatnya selalu diawasi oleh pemerintah.


Ketika usianya baru 16 tahun pada 1924, Sayuti Melik dipenjara di Ambarawa atas tuduhan menghasut rakyat. Kemudian pada 1926, ia ditangkap karena dituduh terlibat pemberontakan 1926. Ia dipenjara di Banyumas dan pada 1927 dibuang ke Boven Digul. Ia baru keluar dari Digul pada 1933.


Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia, Volume 3, menyebut pasangan suami istri Sayuti Melik dan S.K. Trimurti seringkali bergiliran masuk keluar penjara akibat tulisan mereka yang kritis terhadap pemerintah.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page