- 28 Sep 2022
- 3 menit membaca
Diperbarui: 25 Nov 2025
PADA akhir 1930-an, di Semarang ada dua orang pejuang bernama Sayuti. Keduanya sama-sama wartawan. Satu di majalah Pesat, satunya lagi di De Locomotief. Keduanya juga sering datang pada rapat-rapat pergerakan kemerdekaan dan sering tampil berpidato.
Sayuti yang satu, berperawakan kecil dan bermata kecil. Maka, ia kemudian dijuluki Sayuti Melik. Nama Melik kemudian juga menjadi nama samarannya. Sedangkan untuk membedakan dengan Sayuti Melik, Sayuti yang lainnya dijuluki Sayuti Melok.
“Kebetulan pada waktu itu Sayuti yang lainnya tadi sudah menggunakan kacamata, jadi kelihatan melok-melok,” kata Sayuti Melik dalam Wawancara dengan Sayuti Melik.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















