top of page

Sejarah Batalyon 700

Dulu terdapat kompi yang berisi mayoritas orang Toraja. Kamampuan tempur dan keandalannya membuatnya dimekarkan menjadi batalyon raider.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Serah terima jabatan Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) Raider 700/Wira Yudha Cakti dari Letkol Inf Apriadi Nidjo kepada Mayor Inf Sarman yang dipimpin Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Andi Muhammad, S.H. (laman resmi TNI AD, https://tniad.mil.id/)

11 Des 2023
3 menit membaca

Diperbarui: 2 hari yang lalu

KOLAM Makale di Tana Toraja merupakan tempat ikonik yang menawarkan keindahan pemandangan alam sekitar. Lokasi di mana Monumen Patung Lakipadada berada itu menjadi tempat favorit masyarakat setempat berolahraga di hari libur ataupun bersantai sambil menikmati aneka makanan yang dijajakan para pedagang. Damai suasananya.


Namun, siapa sangka di tempat damai dengan toleransi tinggi dari penduduknya itu pernah terjadi keributan yang sampai melibatkan penggunaan senjata api. Keributan yang terjadi ketika Indonesia baru seumur jagung itu justru datang dari orang-orang “bersaudara”.


Setelah tahun 1952, wilayah Tana Toraja “diamankan” oleh Kompi II Batalyon 720. Kala itu, Toraja sangat rentan dari gangguan gerombolan Kahar Muzakkar. Komandan Batalyon Infanteri 720 itu awalnya Kapten Andi Sose, sementara komandan kompi adalah Letnan Satu Frans Karangan. Batalyon ini sejarahnya terkait dengan Harimau Indonesia yang dipimpin Wolter Mongisidi.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page