Diperbarui: 13 Agu
RABU, 13 Agustus 1948. Musso tiba di Yogyakarta. Tokoh penting kaum komunis Indonesia itu lantas berkunjung ke Gedung Agung dan disambut hangat oleh Presiden Sukarno. Selain bernostalgia mengingat masa-masa kos di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, mereka berdua juga terlibat pembicaraan serius mengenai jalannya revolusi Indonesia.
Setelah hampir dua jam berbicara, Musso pamit. Sukarno menahannya sejenak. Dia lantas memberikan sebuah buku yang ditulisnya sendiri. Judulnya Sarinah. Menurut Fatmawati, Sukarno sengaja memberikan buku tersebut agar Musso paham bahwa Sukarno tidak setuju terhadap garis politik PKI saat itu.
“Dalam buku Sarinah ada bab yang mengupas tugas rakyat dalam tahap-tahap revolusi yang berjudul: Kepada Bangsaku. Itu merupakan kritik terhadap politik PKI,” ungkap Fatmawati dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















