top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Sukarno dan Skandal Diplomat 20 Persen di Denmark

Kisah memalukan dalam sejarah diplomatik Indonesia. Seorang diplomat disebut-sebut menyediakan perempuan untuk Sukarno.

12 Jan 2023

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Kunjungan kenegaraan pertama Presiden Sukarno ke Denmark awal Mei 1959. (Ukendt/arkiv.dk).

Diperbarui: 3 hari yang lalu

SUKARNO geram. Tampilan muka sebuah majalah remaja terbitan Amerika Serikat memperlihatkan gadis striptis setengah telanjang, hanya memakai celana dalam, dan berdiri di samping Sukarno yang berpakaian seragam militer lengkap. Sukarno menyebut itu adalah rekayasa foto.


“Ini adalah perbuatan kotor yang dilakukan terhadap seorang kepala negara. Apakah aku harus mencintai Amerika kalau ia melakukan perbuatan seperti itu terhadap diriku?” ujar Sukarno dalam otobiografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page