top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Tante Netje 54 Tahun Jadi Ratu

Perempuan Bugis yang lama berkuasa. Penguasa visioner yang membuat sekolah di zamannya.

7 Mei 2024

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Siti Aisyah We Tenriolle alias Tante Netje, ratu Tanette. (Wereldmuseum).

MAKAM itu bentuknya lain dari makam-makam yang lain di Pancana, Tanette, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Makam itu menyerupai bangunan kecil, seperti makam-makam pembesar Eropa. Namun, yang dimakamkan di dalamnya bukanlah pejabat Eropa, melainkan seorang perempuan. Dia adalah ratu di Tanette yang dulu sangat sohor meski wilayah kerajaannya tak besar.


Ratu itu bernama La Rumpang Megga Dulung Lamuru. Ia berkuasa di Tanette sedari tahun 1840 hingga 1855. La Rumpang adalah pengganti La Patau (1829-1840), yang tak berkuasa lagi setelah melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda.


La Rumpang punya dua cucu. Seorang laki-laki bernama La Makkawaru dan seorang perempuan bernama We Tenriolle alias Siti Aisyah. Bila mengacu pada kebiasaan umum bahwa pengganti penguasa biasanya seorang laki-laki, mestinya yang bakal naik takhta adalah La Makkawaru. Namun, rupanya La Makkawaru punya tabiat suka berjudi dan madat. Maka, We Tenriolle pun dianggap layak menjadi Datu atau Raja di Tanette.



We Tenriolle, seperti dicatat D.A.F. Brautigam dalam Nota Betreffende Het Zelfbestuurend landschap Tanette, naik takhta berkat usulan kakeknya, La Rumpang. Putri dari La Tunampare' alias To Apatorang gelar Arung Urung dan Colliq Pudjie gelar Arung Pancana itu menjadi penguasa Tanette sejak 1856 hingga 1910.


Tak semua anggota keluarganya setuju atas pengangkatan We Tenriolle sebagai raja. Colliq Pudjie termasuk yang tampak tak ingin We Tenriolle berkuasa. Namun, pemerintah kolonial tak mempermasalahkannya sehingga membiarkan We Tenriolle jadi raja. Maka, We Tenriolle tetap menjadi penguasa Tanette sejak 1856-1910. Salah satu akibat dari berkuasanya We Tenriolle, ibunya yang tak suka terpaksa tinggal di Makassar.


“Ketika We Tenriolle menjadi kepala negara, Kerajaan Tanette terdiri dari sejumlah banua (daerah) yang masing-masing seolah-olah berdiri sendiri di bawah pemerintahan seorang kepala pemerintahan sendiri, dan beberapa palili atau daerah vasal,” catat Harsya Bachtiar dalam "Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita"termuat di Satu Abad Kartini.


Menurut catatan J.A. Bakkers dalam Tanette en Barroe (Celebes), luas Tanette kira-kira 61.180 hektar. Pada 1861, penduduknya sekitar 13.362 jiwa.



We Tenriolle tak kalah dari suaminya, La Sangadji Unru gelar Datu Bakka dari Soppeng. We Tenriolle cukup dipandang oleh orang-orang Belanda. Orang-orang Belanda biasa memanggilnya Tante Netje. We Tenriolle dianggap sebagai raja yang cukup modern di masanya. Tak banyak raja di Indonesia yang sepertinya.


Kemodernan We Tenriolle dibuktikan salah satunya dari upayanya membangun sekolah di wilayahnya sekitar tahun 1908. Sekolah itu untuk anak perempuan dan laki-laki. Selain itu, seperti ibunya, We Tenriolle punya minat dalam kesusastraan kuno Bugis. Keduanya berkontribusi dalam memperkenalkan karya sastra La Galigo


We Tenriolle turun takhta pada 1910. Jadi, dia berkuasa sekitar 54 tahun. Cukup lama untuk ukuran kekuasaan di Indonesia. Dia kemudian menjalani masa tuanya hingga meninggal dunia pada 1919. Setelah meninggal, jenazahnya dimakamkan di daerah Pancana. Makam itu belakangan menjadi besar mirip makam raja-raja Sulawesi Selatan.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Bapak Persandian Indonesia

Bapak Persandian Indonesia

Roebiono Kertopati dikenal sebagai Bapak Persandian Indonesia. Separuh hidupnya didedikasikan untuk memimpin lembaga sandi negara.
Jenderal Reformis Agus Widjojo Telah Berpulang 

Jenderal Reformis Agus Widjojo Telah Berpulang 

Agus Widjojo jenderal berpikiran maju. Meski sejatinya korban 1965 juga, Agus enggan mendendam dan pilih menyerukan perdamaian untuk semua.
Milisi Lokal Belanda di Subang

Milisi Lokal Belanda di Subang

Dalam Perang Kemerdekaan Indonesia, di Front Karawang-Bekasi Belanda punya pasukan lokal HAMOT. Di Front Subang ada Troepen Spier.
The Cideng Camp: A Hell on Earth

The Cideng Camp: A Hell on Earth

Japan declared the Cideng Camp a “protected” ghetto, but in reality, the internees' lives were hellish.
Kisah Pertemuan Pangeran Makassar dan Padri Spanyol

Kisah Pertemuan Pangeran Makassar dan Padri Spanyol

Dekat dan belajar banyak ilmu modern dari orang Portugis dan Spanyol, Karaeng Karunrung sangat anti-Belanda. Tegas melawan VOC.
bottom of page