- 8 Agu 2019
- 2 menit membaca
Diperbarui: 25 Jun
BAGI Kolonel Pnb. (Purn.) Pramono Adam, seberapapun beratnya tugas yang diemban, ia mesti dijalankan dan diselesaikan. “Kita senang aja,” ujarnya kepada Historia.
Tanggungjawab itu selalu menjadi prinsipnya selama menjadi perwira Angkatan Udara, termasuk ketika dia di-BKO ke Kodam Mulawarman dalam rangka Dwikora, 1963-1965. Dia, kala itu berpangkat letnan, mesti bolak-balik menerbangkan helikopter angkut sedang Mi-4 melintasi hutan “perawan” Kalimantan tanpa dilengkapi flight guidance, peralatan navigasi dan komunikasi.
Justru dari penugasan di “kegelapan” itu dia banyak belajar. “Kita memperhatikan sifat hutan, ada yang berbunga begini, ada tanah longsor, ada macam. Itulah alat bagi kami navigasi. Nggak ada yang nunjukan pada kita. Jadi mengikuti jejak di darat. Istilahnya dead reckoning,” sambung lelaki berusia 83 tahun yang biasa disapa Pram itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















