- Eko Rusdianto
- 10 Sep 2023
- 8 menit membaca
Diperbarui: 1 hari yang lalu
SELASA, 28 Januari 1947, ketika matahari pagi sudah setinggi tombak, penduduk dikumpulkan di sebuah lapangan Suppa, ada suara pistol meletus dan ratusan orang terkapar, lalu dimakamkan dalam tiga liang besar.
Saat itu, Sikati berusia sekitar 25 tahun, bersama seorang bayinya tidur dengan pulas di rumahnya di Kampung Ujung, Desa Malongi-longi, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang. Jaraknya sekitar 10 kilometer menuju Suppa. Ketika suara azan subuh dari surau-surau belum terdengar, tiba-tiba datang suara gaduh. Ada serdadu ramai teriak, memerintahkan semua penghuni rumah untuk keluar.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












