- 3 Nov 2011
- 3 menit membaca
Diperbarui: 13 Apr
MASHADI, petani asal Desa Pandansari, Brebes, Jawa Tengah, pusing dan gelisah. Dia mengeluhkan perubahan iklim dan gejala-gejala cuaca ekstrem yang membuatnya kesulitan menentukan waktu menanam bibit. Sejak dulu dia mempraktikkan pranata mangsa, ajaran orangtua dalam hal bercocok-tanam yang tak sebangun dengan penanggalan Masehi.
“Tapi sekarang, susah juga ditebak, kapan musim hujan datang,” ujar Mashadi.
Mashadi hanya contoh kecil dari banyak petani tradisional yang nasibnya kian sulit akibat perubahan iklim. Perhitungan berdasar pranata mangsa kerap meleset.
Sebelumnya, eksistensi pengetahuan tradisional ini juga terpinggirkan oleh kemajuan teknologi pertanian. Rekayasa genetika yang mampu melahirkan bibit-bibit jenis baru, beragam pupuk, serta peralatan modern membuat sistem pranata mangsa seperti tak punya masa depan. Hitung-hitungannya melulu soal produktivitas.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















