- 1 Agu 2025
- 3 menit membaca
Diperbarui: 3 Mei
DI HADAPAN para kadet Koninklijk Instituut Marine (KIM/Institut Angkatan Laut Kerajaan Belanda) di Surabaya yang baru dilantik, hari itu Gubernur Jawa Timur Charles Olke van der Plas memberi sambutan. Pidatonya berisi hal yang menggugah, mengaitkan kondisi politik yang sedang “sakit” dengan sejarah Surabaya yang masyhur.
“Dapat dipastikan bahwa di pangkalan angkatan laut inilah, Oedjoeng Galoeh (Ujung Galuh) kuno yang dulunya merupakan pangkalan angkatan laut kekuatan maritim itu, yang armadanya enam abad lalu menguasai seluruh Kepulauan Nusantara, Malaka, pesisir Indo-Cina, dan Filipina,” terang van der Plas seperti diberitakan Bataviasch Nieuwsblad tanggal 7 Agustus 1940.
Kala itu KIM Surabaya yang baru seumur jagung, baru saja meluluskan para siswanya. Hal tersebut amat membantu militer Hindia Belanda. Sebab, KIM Den Helder di Belanda sudah tak bisa mencetak perwira Angkatan Laut lagi lantaran Belanda sudah diduduki Jerman Nazi. Terlebih, para kadet yang baru dilantik itu juga berisi orang-orang pribumi seperti Nasis Djajadiningrat, Adjiwibowo, dan Sidik Muliono.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.




.jpg)













