Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Persahabatan Kyai Mansur dengan Pendiri Muhammadiyah
Nama Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Kyai Haji Mas Mansur akan selalu terkenang dalam sejarah perjuangan kaum Muslimin di Indonesia. Keduanya berperan penting dalam mensyiarkan gema Islam ke seluruh lapisan masyarakat sejak Indonesia masih berada di bawah kuasa kolonialisme Belanda. Melalui organisasi Islam Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dan KH Mas Mansur mampu membawa perubahan bagi umat Muslim di Indonesia. Pertemuan dua tokoh penting Muhammadiyah ini terjadi pada permulaan abad ke-20, tepatnya pada 1915, atau tiga tahun setelah Muhammadiyah berdiri. Dikisahkan Sutrisno Kutoyo dalam biografi Pahlawan Nasional: Kyai Haji Mas Mansur , nama KH Ahmad Dahlan telah sering didengar KH Mas Mansur sejak ia tinggal di Mesir dan Mekah. Ketika pada 1915 berkesempatan kembali ke tanah air, KH Mas Mansur tidak langsung pulang ke rumahnya di Surabaya, tetapi memilih pergi ke Yogyakarta untuk menemui KH Ahmad Dahlan. Pertemuan pertama tersebut memberi kesan yang amat mendalam bagi Mansur muda. Ketika itu usianya baru menginjak 20 tahun, sementara KH Ahmad Dahlan berusia 48 tahun. Bagi KH Mas Mansur, KH Ahmad Dahlan adalah sosok seorang ayah. Wajah yang tenang dan selalu dihiasi senyuman ketika berbicara membuat kiyai muda itu nyaman berbincang lama dengannya. Meski baru pertema bertemu, KH Mas Mansur merasa sosok pendiri Muhammadiyah itu memiliki budi pekerti tinggi. “Dalam kehidupan Kyai Haji Mas Mansur, maka tokoh Kyai Haji Ahmad Dahlan mempunyai pengaruh yang besar. Antara pribadi Kyai Haji Mas Mansur dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan, dua tokoh yang harus ditulis dengan tinta emas dalam sejarah kebangunan umat Islam di Indonesia, terdapat hubungan yang mendalam,” ungkap Kutoyo. Namun perjumpaan tahun 1915 itu hanya terjadi singkat. KH Mas Mansur harus segera pergi ke Surabaya untuk menyelesaikan urusannya. KH Ahmad Dahlan lalu menganjurkan kepada pemuda Mansur untuk kembali ke Yogyakarta ketika memiliki waktu yang lebih lapang. Ia ingin membicarakan banyak hal dengan KH Mas Mansur, termasuk tujuannya mendirikan Muhammadiyah, yakni memperbaiki keadaan umat Islam di Indonesia. Paruh pertama tahun 1916 kedua tokoh ini berkesempatan mengadakan pertemuan keduanya. KH Mas Mansur kembali mengunjungi KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Kali ini KH Mas Mansur datang di waktu luang sehingga tidak akan ada gangguan seperti pada pertumuan sebelumnya. Ia benar-benar berusaha bertukar pikiran dengan KH Ahmad Dahlan karena jika ditinjau dari segi ilmu, KH Ahmad Dahlan adalah guru bagi KH Mas Mansur. Pada pertemuan ini KH Ahmad Dahlan menerangkan jika orang perlu kembali kepada tauhid, dan kehidupan umat Muslim secara sadar harus didasarkan pada ketentuan Islam. Sehingga alat terbaik untuk memperbaiki umat Islam di Indonesia hanyalah kitab suci Al-Qur’an dan Hadits dari Nabi Muhammad SAW dan para ulama terdahulu. Tapi bukan berarti pencarian terhadap ilmu pengetahuan mesti dikesampingkan, atau malah dihilangkan. Bahkan salah besar jika banyak umat Muslim yang masih menganggap bahwa Islam itu hanya soal shalat atau ibadat saja. Manusia hidup di dunia, kata KH Ahmad Dahlan, karenanya perlu juga dibekali pengetahuan, serta menaruh perhatian akan segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. “Pendirian Kyai Haji Ahmad Dahlan ini sesuai pula dengan pendirian yang dianut oleh Kyai Haji Mas Mansur, yaitu bahwa sebab-sebab yang menjadikan kaum Muslimin Indonesia itu mundur, ialah karena pendidikan kepada akhirat terlalu dalam. Akibatnya mereka melupakan akan kehidupan dunianya. Mereka terlalu mendalam perasaan bahwa Al mautu haqqun (mati itu pasti), sehingga kaum Muslimin Indonesia lupa bahwa hayat itu mesti pula diperhatikan dan dimanfaatkan,” tulis Kutoyo. Menurut KH Mas Mansur, gurunya itu senang sekali mengupas keterangan-keterangan tafsir. Beliau selalu menyelidiki terlebih dahulu makna dalam setiap perkataan dalam ayat satu per satu. Kemudian perkataan dalam ayat itu dikaitkan dengan ayat-ayat lain. “Kemudian barulah beliau sesuaikan sehingga keterangan beliau itu hebat, dalam, serta tepat,” ucapnya. Bagi KH Ahmad Dahlan juga setiap hal yang bersangkutan dengan ibadah harus dikembalikan kepada ketentuan agama. Sedikit pun tidak boleh dilebihkan dan tidak ada yang perlu dikurangi. Meski begitu KH Ahmad Dahlan tetap memiliki sikap pendekatan ilmiah. Sebelum ilmunya disebar kepada umat, ia seringkali mengadakan penelitian secara teratur agar tidak ada kesalahan dalam penyampaiannya. “Kyai Haji Ahmad Dahlan selalu menganjurkan sedikit bicara dan banyak bekerja. Biar lambat dan tenang tetapi terus, lebih baik dari pada cepat tetapi terjungkir sesudah beberapa langkah,” ungkap Kutoyo.
- M. Jusuf Kerjai Solichin GP Saat Tertidur
PERINTAH Presiden Sukarno agar Kahar Muzakkar ditangkap hidup atau mati sebelum 17 Agustus 1964 menjadi tugas berat yang harus dilaksanakan dengan sukses oleh Pangdam Hasanuddin Kolonel M. Jusuf. Untuk itu, Jusuf meminta tambahan pasukan dari Siliwangi. “Untuk menumpas Kahar Muzakkar, selain berhasil mendapat 2 brigade infantri dari Siliwangi plus Yon 330, Panglima Jusuf juga mendapat dukungan sejumlah perwira staf dari Siliwangi. Salah seorang yang kemudian berperan penting dalam operasi pemulihan keamanan di Sulawesi Selatan adalah Kolonel Infantri Solichin GP. Oleh Jusuf ia dijadikan Kepala Staf Operasi ‘Kilat’,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf Panglima Para Prajurit. Keputusan Jusuf memilih Solichin GP tepat. “Penghujung 1964 pasukan Siliwangi, di bawah komando Solichin, berhasil memburu Kahar Muzakkar dan sisa-sisa gerombolan DI/TII sampai memasuki wilayah Sulawesi Tenggara,” tulis Syafruddin Usman dalam Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar . Operasi militer yang digelar mulai April 1964 itu berhasil diselesaikan pada 3 Februari 1965 dengan tertembaknya Kahar, mantan atasan Jusuf selama revolusi. Karena kinerja apik Solihin itulah Jusuf tak pernah melupakannya. Termasuk ketika Jusuf sudah diangkat Presiden Sukarno menjadi Menteri Perindustrian Ringan di Kabinet Dwikora I. Saat menjabat sebagai menteri itu Jusuf masih tetap menyandang jabatan Pangdam Hasanuddin karena Menpangad Letjen A. Yani sampai wafatnya belum sempat menunjuk pengganti Jusuf. Akibatnya, Jusuf mesti mondar-mandir Jakarta-Makassar. Menetapnya Jusuf di Jakarta baru terjadi setelah G30S. Menpangad Jenderal Soeharto yang membutuhkan tenaga Jusuf, akhirnya mencari orang yang pas untuk meminpin Kodam Hasanuddin. Setelah berkonsultasi dengan Jusuf, Soeharto menunjuk Solichin. Penunjukan itu tak diberitakan langsung kepada Solichin. Akibatnya ketika dia bertemu Jusuf dalam sebuah kesempatan di Makassar tak lama kemudian, dia menolak ajakan Jusuf untuk menghadiri acara syukurannya karena merasa lelah. Namun karena Jusuf memaksa, Solichin tak kuasa menolak. Sesampainya di Jakarta, Solichin tak dibawa Jusuf ke rumahnya atau penginapan, tapi langsung ke tempat acara. Tenda dan deretan kursi serta podium langsung menyambut pandangan matanya. Namun karena lelah dan kantuk yang tak tertahankan, Solichin akhirnya mulai tertidur saat Jusuf menyampaikan pidatonya. Meski masih mendengar secara samar ketika Jusuf mengatakan tugasnya di Makassar sudah berakhir mulai hari itu, Solichin akhirnya kalah oleh kantuknya dan pulas. Sementara, Jusuf terus melanjutkan pidatonya yang juga diisi dengan kejahilannya. “Selanjutnya saya akan melaksanakan tugas baru di Jakarta. Yang akan menggantikan tugas saya sebagai Panglima di Kodam XIV Hasanuddin ini adalah perwira yang sedang ngorok di sebelah saya ini,” kata Jusuf, dikutip Atmadji. Pidato Jusuf sontak disambut gelak-tawa para hadirin. Sebaliknya, pidato itu membuat panik Letnan Said, ajudan Solichin. Sang ajudan buru-buru membangunkan komandannya sambil memberitahu apa yang baru saja dikatakan Jusuf. Solichin yang kaget setelah bangun, langsung duduk dengan tegak. Sikap itu tak mendapat respon apapun dari Jusuf. Usai acara, kejahilan Jusuf pun diprotes Solichin. “Pak, kalau menunjuk saya menjadi panglima, kasih tahu dulu dong. Jangan di saat saya lagi tidur. Saya jadi malu, nanti bagaimana penilaian rakyat kepada saya?” “Ah, kau bereskan saja nanti!” jawab Jusuf santai.
- Konflik Muslim-Hindu India dari Masa ke Masa
DI balik melesatnya India sebagai salah satu kekuatan dunia di bidang militer dan gemerlapnya industri hiburan lewat Bollywood-nya, negeri itu dari masa ke masa senantiasa menyimpan konflik bersandarkan agama. Pekan ini minoritas muslim di negeri itu kembali terjebak dalam kerusuhan yang cenderung mendekati genosida dari mayoritas warga Hindu. Kerusuhan Muslim-Hindu kembali meletus di Delhi sepanjang Minggu hingga puncaknya Selasa (23-25 Februari 2020). Kerusuhan bermula dari unjuk rasa kaum muslim yang memprotes Amendemen Undang-Undang Kewarganegaraan yang kental nuansa anti-Islam. Amandemen itu berbunyi bahwa imigran Sikh, Buddha, Hindu, hingga Kristen dari tiga negara tetangga: Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan, dibolehkan menjadi warga negara India dengan syarat yang dipermudah. Bila sebelumnya regulasi naturalisasi jadi warga negara India mensyaratkan wajib tinggal di India selama 11 tahun, dengan amandemen kini syarat itu cukup enam tahun saja. Para politisi BJP (Bharatiya Janata Party) yang menopang kekuasaan Perdana Menteri India Narendra Modi, membela amandemen itu. Pengecualian terhadap Muslim, kata mereka, lantaran di tiga negara itu sudah mayoritas muslim dan tak semestinya jadi imigran ilegal di India. Sontak pernyataan itu menuai penentangan banyak pihak yang menyimpulkan amandemen itu justru akan mendelegitimasi warga Muslim. Protes pun menyeruak kemudian dan mendapat tentangan dari mayoritas kaum Hindu. Beberapa korban mengklaim barisan kepolisian turut membantu massa anti-Islam melakukan serangan terhadap warga Muslim di titik-titik konflik di timur laut India dan utamanya di Maujpur, Mustafabad, Jaffrabad, dan Shiv Vihar. Tak hanya rumah-rumah dan pertokoan, masjid-masjid pun turut jadi sasaran amuk massa anti-Islam. “Massa membakar rumah, toko dan mobil saya. Saat saya berusaha memadamkan api, massa melemparkan batu ke arah saya. Seseorang bahkan melempar gas air mata ke dalam rumah saya. Dari samping rumah, saya melihat polisi dan massa bersama-sama melakukan pembakaran. Saya dan keluarga saya harus melarikan diri melompat dari balkon atas,” kata Bhura Khan lirih kepada BBC , Rabu (26/2/2020). Pengamat politik Universitas Brown, Bhanu Joshi, menyatakan kepada BBC juga bahwa kerusuhan massa anti-Islam itu memang “disokong” polisi atau polisi mendiamkan tindakan massa sehingga kejadian yang lebih parah terjadi. Itu cenderung genosida terhadap Muslim seperti pada kerusuhan 1984 dan 2002 yang bisa saja terulang. Dalam tiga hari kerusuhan di Delhi itu, sekira 20 warga Muslim tewas. Dendam Masa Silam Aksi-aksi kekerasan terhadap Muslim di India tentu bukan perkara baru. Akarnya jauh membentang ke belakang di abad ke-8 (tahun 712-740) seiring kampanye penaklukan Asia Selatan (Afghanistan, Pakistan, dan India) oleh Kekhalifahan Umayyah. Hingga abad ke-16 tak terkira berapakali konflik terjadi antara kekhalifahan dari Jazirah Arab dengan dinasti-dinasti Hindu di India. Dalam tulisannya yang dimuat di Violent Internal Conflicts in Asia Pacific , “Hindu-Muslim Conflict in India in a Historical Perspective”, Marc Gaborieau memaparkan penyebab konflik selain karena kampanye penyebaran Islam dari Jazirah Arab ke India di Abad Pertengahan itu, kekerasan sporadis Muslim-Hindu juga tak pernah punah gegara sejumlah kebijakan kolonial Inggris sejak abad ke-19. Salah satu akibatnya, pemisahan India-Pakistan pada 1947. Sementara konflik-konflik di abad ke-20 turut disuburkan oleh Islamofobia yang dipicu sejumlah aksi terorisme mengatasnamakan Islam. “Karena hegemoni politik kaum Muslim di Asia Selatan didirikan lewat penaklukan, bukan ekspansi damai seperti di Indonesia dan itu berjalan selama enam abad sejak berdirinya Kesultanan Delhi di awal abad ke-13 hingga kemunduran mereka di abad ke-18 yang disertai penaklukan Inggris dari 1765-1818,” ujar Gaborieau. Ilustrasi kampanye Pasukan Kekhalifahan Umayyah untuk menaklukkan Tanah India (Foto: Youtube MyNation) Pemicu konflik yang paling banyak mencetuskan kerusuhan di era kolonialisme Inggris adalah soal ritual agama. G.R. Thursby dalam Hindu-Muslim Relations in British India menguraikan, di era itu kebanyakan warga Muslim dan Hindu tinggal berdampingan namun jarang harmonis. Banyak ritual warga Hindu menggunakan tabuhan gendang yang nyaring dan itu dianggap mengganggu ibadah salat umat Muslim. Sebaliknya, ritual kurban Idul Adha di mana banyak sapi disembelih bikin sakit hati umat Hindu yang mensakralkan sapi. “Setidaknya tercatat ada 31 kerusuhan besar sepanjang 1923-1928 dan kebanyakan terjadi di dekat masjid. Seperti kerusuhan Kalkuta pada April-Mei dan Juli 1926 yang menewaskan 140 orang. Penyebabnya gara-gara seorang penabuh gendang bersikeras memainkan musik dekat masjid di waktu salat untuk prosesi Arya Samaj,” ungkap Thursby. Kerusuhan Berujung Pembantaian Pasca-pemisahan India dan Pakistan, lanjut Thursbys, sejumlah kerusuhan yang terjadi justru ditunggangi isu-isu politik. Kaum Muslim dengan kendaraan politik All-India Muslim League masih mempertahankan hegemoni politik masa lalunya. Sementara mayoritas kaum sayap kanan nasionalis-Hindu berusaha mengikisnya. Kerusuhan Muslim-Hindu skala besar terjadi pertamakali di India merdeka pada 13 Januari 1964 di Kalkuta. Kronologinya bermula dari hilangnya sebuah benda keramat di sebuah masjid di Srinagar, ibukota Jammu dan Kashmir. Kaum Muslim menuduh pelakunya orang-orang Hindu. Sebagai pelampiasan, mereka menyerang pengungsi Hindu yang baru keluar dari Pakistan Timur (kini Bangladesh). Serangan itu menyebabkan 29 pengungsi Hindu tewas. Kejadian itu memicu pembalasan oleh kaum Hindu di Bengali Barat dan menjalar ke Kalkuta. Di kota itu tercatat setidaknya 100 warga Muslim tewas dan 438 luka-luka. Sementara, 70 ribu warga Muslim lainnya yang menjadi tunawisma sebagai imbas pengeroyokan, penusukan, pemerkosaan, hingga pembakaran oleh massa anti-Islam. Kerusuhan besar Muslim-Hindu berikutnya terjadi di Gujarat medio September-Oktober 1969. Mengutip laporan Depdagri Negara Bagian Gujarat yang disusun Pingle Jagamohan Reddy dkk. pada 1971, kerusuhan itu menewaskan 24 warga Hindu dan 430 muslim. Kerusuhan yang berupa pembunuhan, pembakaran, dan penjarahan itu dibidani perselisihan antaretnis dan agama terkait urusan perut. Warga Hindu merasa dirugikan dengan membanjirnya imigran Muslim yang dianggap merebut lapangan pekerjaan mereka di pabrik-pabrik. Kerusuhan pun pecah pada 18 September yang menyebar di kota-kota di Gujarat, seperti Ahmedabad, Vadodara, Mehsana, Nadiad, Anand, dan Gondal. Sempat reda pada 26 September, kerusuhan itu membara lagi sepanjang 18-28 Oktober. Kerusuhan tak kalah besar terjadi di Desa Nellie, Assam pada 18 Februari 1983, di dikenal sebagai “Pembantaian Nellie”. Pembantaian terhadap pengungsi Muslim dari Bangladesh itu terjadi akibat gerakan dari organisasi pemuda All Assam Students Union dan All-Assam Gana Sangram Parishad yang menentang imigran Muslim Bangladesh. Ahmedabad terbakar kala terjadi Kerusuhan Gujarat 2002 (Foto: Wikipedia) Kejadiannya bermula dari keputusan Perdana Menteri India Indira Gandhi yang memberi hak suara dalam pemilu kepada enam juta imigran Muslim Bangladesh yang mengungsi di Desa Nellie. Keputusan itu ditentang oleh organisasi pemuda Hindu All Assam Students Union dan All-Assam Gana Sangram Parishad. Kedua organisasi terus menyebarluaskan sentimen anti-imigran Muslim dan direspon orang-orang Suku Tiwa (Lalung). Mereka pun bersatu menyerang permukiman imigran di Desa Nellie. Pembantaian pada 18 Februari itu terjadi selama enam. Tak pandang bulu, mereka membunuhi perempuan maupun anak-anak imigran Bangladesh. Rumah-rumah dan tanah imigran juga dirusak. Militer baru berhasil mengkondusifkan situasi empat hari berselang. Akibat Pembantaian Nellie, menurut pemerintah India, 2.191 jiwa melayang. Beberapa sumber tak resmi menyebutkan jumlah korban lebih dari 10 ribu. Pembantaian Nellie jadi genosida terburuk di dunia sejak Perang Dunia II yang dialami jutaan Yahudi oleh Nazi-Jerman. Kerusuhan tak kalah memilukan terjadi di Bhalgapur pada Oktober-November 1989. Kerusuhan dipicu oleh munculnya sejumlah hoaks terkait isu politik. Akibatnya, warga Muslim bentrok dengan polisi yang dibantu warga Hindu yang melakukan pembakaran, penjarahan, hingga pembunuhan di Distrik Bhalgapur. Sepanjang dua bulan masa mencekam itu, lebih dari seribu jiwa melayang, 900 jiwa di antaranya warga Muslim. Belum lagi kerusuhan Bhalgapur hilang dari ingatan, kerusuhan kembali pecah di Mumbai 6 Desember 1992-26 Januari. Pemicu kerusuhan adalah peledakan Masjid Babri oleh para aktivis Hindu dari Partai Shiv Sena. Sekira 900 orang tewas akibat kerusuhan itu. Kerusuhan yang juga bikin pedih kembali terjadi pada Februari-Maret 2002, dikenal sebagai “Pembantaian Gujarat”. Menukil artikel Christophe Jaffrelot bertajuk “Communal Riots in Gujarat: The State at Risk?” yang dimuat dalam Heidelberg Papers in South Asian and Comparative Politics , korban tewasnya lebih dari seribu jiwa, 790 warga Muslim dan 254 Hindu. PM Modi yang pada kejadian itu masih menjabat Ketua Menteri di Gujarat, disebutkan Jaffrelot turut mengorkestrasikan pembantaian oleh Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), organisasi nasionalis Hindu di mana Modi merupakan mantan kadernya.
- Kisah Budisucitro, Buangan Digul Nomor 1
Pada Januari 1926, tiga orang pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) diburu pemerintah kolonial Belanda. Mereka menghilang dan kemudian diketahui melarikan diri ke Singapura. Ketiga pemimpin itu adalah Musso, Soegono, dan Budisucitro. Nama terakhir kemudian ditangkap pasca gagalnya pemberontakan PKI. Dia dibuang ke Boven Digul dengan nomor deportasi 1. Di kamp Tanah Merah, selain terkenal sebagai buangan nomor 1, Budisucitro juga cukup terhormat. Bersama Aliarcham, ia seringkali menjadi perwakilan para tahanan dalam berbagai persoalan. Misalnya ketika tunjangan 30 sen perhari hendak dicabut, Budisucitro, Aliarcham, dan Said Ali, dikirim untuk menanyakan keputusan itu. Adu debat dengan kontrolir membuahkan hasil, tunjangan tidak jadi dicabut. Peran Budisucitro berlanjut. Pada 24 hingga 27 Januari 1928, diadakan kongres untuk membentuk Centrale Raad Digoel (CRD) atau Dewan Pusat Digul. CRD berisi 21 anggota yang mendapat suara terbanyak dalam pemilihan langsung. Pemilihan tersebut baru rampung pada 27 Februari 1928. Budisucitro berada di urutan kedua dengan mendapat 462 suara, sedangkan urutan pertama dipegang oleh Aliarcham dengan 515 suara. CRD kemudian membentuk komisi , sebuah tim yang akan menyusun Anggaran Dasar CRD. "Terpilih Aliarcham, Soenarjo dan Budisucitro," tulis Mas Marco Kartodikromo dalam Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel . Sejak awal masa pembuangan, telah terjadi perpecahan karena perdebatan tentang siapa yang bertanggungjawab terhadap gagalnya pemberontakan. Perpecahan membelah kaum buangan menjadi dua. Mereka yang tetap "keras" terhadap kolonialisme dan mereka yang mulai "jinak". Sebagai mantan pemimpin PKI, Budisucitro tentu saja mengambil sikap tegas terhadap kolonial. Bersama Mas Marco Kartodikromo, Thomas Najoan dan pemimpin PKI yang lain, ia dipindahkan ke Gudang Arang, lalu ke Tanah Tinggi. "Ketika pada suatu saat pertentangan hebat merobek-robek Tanah Merah, pemerintah Belanda memandang Budisucitro menjadi ancaman, maka ia pun dibuang ke Tanah Tinggi di hulu," tulis Molly Bondan dalam Spanning The Revolution . Gudang Arang letaknya beberapa puluh kilometer di hulu Sungai Digul. Sementara Tanah Tinggi juga terletak di tepi Sungai Digul. Dibuang ke Tanah Tinggi berarti menjalani kehidupan yang lebih berat dan lebih sepi dari kamp Tanah Merah. Tempat ini ternyata berhasil membuat para pembangkang menyerah. "Di Tanah Tinggi, Budisucitro tanpa disangka-sangka menyerah dan pulang ke Tanah Merah. Begitu pula dengan Najoan dan Marco. Padahal, Budisucitro, Najoan, dan Marco termasuk pimpinan PKI yang keras," tulis Soe Hok Gie dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan . Begitu kembali dari Tanah Tinggi, Budisucitro diangkat menjadi kepala kampung. Jabatan barunya mengubah penampilannya pula. Ia terlihat memakai jas putih, celana putih, lengkap dengan lars dan helm. Sejak itu pula ia mulai tidak disukai sebagian besar orang buangan. Musababnya, pajak pendapatan mulai ditarik dari para tahanan. "Kamu tidak akan pernah dipulangkan jika tidak mau membayar," kata Budisucitro untuk menakut-nakuti tahanan yang enggan membayar. Mereka yang berkeinginan dipulangkan ke kampung halaman kemudian akan berusaha mencari uang dan membayar kepada Budisucitro. Budisucitro kemudian menyerahkan sen demi sen kepada pemerintah kolonial. Padahal, ia tidak mendapat bayaran sepeser pun atas pekerjaannya itu. Semakin hari Budisucitro menjadi pembicaraan dan cemoohan karena dianggap telah berkhianat terhadap partainya dahulu. Bahkan, mereka menjulukinya "Stalin Setalen" yang artinya Stalin 25 sen. Rumah Budisucitro berada di lokasi yang strategis, di sisi persimpangan jalan, tempat bertemunya jalan dari dermaga dengan jalan yang membelah Kampung B dan Kampung C. Di sebelah kirinya adalah rumah yang diberikan kepada Bung Hatta ketika Bung Hatta dibuang ke Digul pada 1935. "Barangkali inilah alasannya, mengapa rumah itu disediakan untuk Bung Hatta; cocok bagi penguasa yang mau memata-matainya," tulis Molly Bondan. Di Digul, Kadirun, mertua M.H. Lukman, mendirikan Malay-English School, sekolah bagi anak-anak Digul. Sekolah ini kemudian dimatai-matai oleh Budisucitro. Budisucitro mengumpulkan laporan tentang kejadian-kejadian kecil hingga pertemuan-pertemuan sambil lalu. Ia kemudian menyusun laporan sebagai bukti bahwa beberapa tahanan tengah merencanakan pemberontakan. Budisucitro bahkan mendesak pemerintah untuk membuang mereka ke Tanah Tinggi. Budisucitro tampaknya telah benar-benar berubah. Tindakannya menunjukan bahwa ia telah berhasil dijinakkan dan bahkan mengabdi pada pemerintah kolonial. Perubahan sikapnya itu akhirnya membuahkan hasil bagi dirinya sendiri. Buangan nomor 1 itu dipulangkan ke Jawa dengan kapal Albatros pada 19 Maret 1938. "Sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Budisucitro masuk Partai Sosialis Amir Sjarifuddin, barangkali ia takut masuk Partai Komunis baru karena para anggotanya yang lama tentu masih ingat pada pengkhiatannya ketika di Digul," sebut Molly Bondan. Pada 1948, menurut surat kabar yang dibaca Mohammad Bondan, suami Molly, Budisucitro ditembak mati oleh Tentara Nasional Indonesia di daerah Pati, Jawa Tengah. Saat itu diduga Budisucitro hendak meloloskan diri dari Madiun, di mana ia terlibat pemberontakan. Menurut Koesalah Soebagyo Toer dalam Tanah Merah yang Merah, Budisucitro sempat menjadi anggota Badan Eksekutif Keresidenan Pati, dengan Residen Milono. Peristiwa Madiun membuatnya dipenjara di Blora hingga kemudian ditembak mati oleh Polisi Istimewa di utara markas kepolisian. "Ia ditembak di kepala hingga batok kepalanya tersingkap. Korban-korban penembakan waktu itu diketahui sebelumnya oleh penghuni penjara, karena pembuat nisan dengan namanya adalah mereka," tulis Koesalah berdasarkan wawancara dengan Sarmidi, seorang mantan pejuang kemerdekaan.
- Sekelumit Kisah Mahathir Mohamad
PERDANA Menteri Malaysia Mahathir Mohamad melepaskan jabatannya pada Senin, 24 Februari 2020. Koalisi Pakatan Harapan yang ia bentuk bersamaAnwar Ibrahimpada 2018 pun turut bubar.“Dr. M”, julukan Mahathir, juga mundur dari kursi tertinggi Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM),kendaraan politikyang didirikannya pada 2016. Mahathir memang bukan termasuk jajaran “Bapak Pendiri Bangsa” negeri jiran. Namun 22 tahun pemerintahannya begitu sarat kontroversi, membuatnya dikenang bak “Macan dari Negeri Jiran”. Didikan Keras Zaman Sulit Keras dan kontroversial. Dua karakter itu melekat pada sosoknya sepanjang 22 tahun memimpin Malaysia. Dua karakter itu jelas buah dari pertautan sifat pribadinya dan pendidikan serta lingkungan tempat masa kecilnya bertumbuh. Dalam memoarnya, A Doctor in the House , ia mengisahkan garis keluarganya. Ia lahir pada 10 Juli 1925 dari pas angan Mohamad Iskandar asal Penang dan Wan Tempawan yang masih kerabat dengan Kesultanan Kedah . Mahathir lahir sebagai anak kesembilan dari 10 bersaudara di rumah sederhana di perkampungan Seberang Perak, Alor Setar yang merupakan ibukota Kesultanan Kedah. Meski bukan bangsawan, Iskandar punya kedudukan lumayan tinggi. Kesultanan Kedah mendatangkannya khusus dari Penang Free School pada 1908 untuk mengepalai sekolah menengah (SMP, red. ) berbahasa Inggris pertama di Kedah, Government English School (kini Kolej Sultan Abdul Hamid). Sekolah itu merupakan sekolah khusus kaum elit dan aristokrat Kedah. Namun besarnya keluarga membuat biaya kebutuhan dasar yang harus dipenuhi Iskandar besar pula. Akibatnya Mahathir dan saudara-saudaranya hanya bisa memulai pendidikan dasardi sekolah rakyat. “Orangtua saya tak mampu belikan sepatu, oleh karenanya saya bersekolah tanpa sepatu. Selepas sekolah selalu berlanjut belajar mengaji Al-Quran,” kataMahathir di memoarnya. Selepas mengaji punMahathir dan saudara-saudaranya harus langsung pulang karena sang ayah sudah menunggu mereka untuk mengajarkan bahasa Inggris pada petang. Pasalnya, anak-anak Iskandar tak mendapat pelajaran bahasa Inggris di sekolah. Harapan Iskandar, agar mereka bisa masuk GES yang ia dirikan lewat jalur selektif, semacam beasiswa. Masa kecil Mahathir Mohamad yang penuh perjuangan sebagai anak dari keluarga kelas menengah (Foto: cronkitehhh.jmc.asu.edu ) Namun dari beberapa anak Iskandar, hanya Mahathir yang bisa lulus. Saudari-saudari Mahathir pun tak diterima GES yang saat itu baru membuka asrama putri. “Dia (ayah) sangat kesal karena dia sendiri jadi pejabat pemerintah dan dia diundang ke Kedah untuk membangun sebuah sekolah. Akan tetapi sekolah putri yang dihadirkan kemudian di sekolah itu, menolak menerima saudari saya,” sa mbu ng Mahathir. Meskiberjasa ikut membangun sekolah itu, Iskandar dianggap sekadar bawahan dan pegawai pemerintah non-bangsawan. Ibunda Mahathir walau punya gelar “Wan”, hubungan kekerabatannya dengan kesultanan terbentang jauh. Keluarga Iskandar pun dianggap keluarga biasa dari kalangan “proletar”, sebagaimana yang diingat Tunku Abdul Rahman, pangeran Kedah yang menjadi perdana menteri pertama Malaysia. “Dia (Mahathir) bukan siapa-siapa. Ayahnya hanya pegawai bawahan biasa di Kedah. Saya tidak bergaul dengan ayahnya. Kami punya perkumpulan di Kedah, seperti perkumpulan pegawai dan perkumpulan anggota kerajaan dan lain-lain. Mereka punya perkumpulan pegawai bawahan sendiri,” ujar Tunku Abdul Rahman, dikutip Barry Wain dalam salah satu biografi Mahathir, Malaysian Maverick: Mahathir Mohamad in Turbulent Times. Biografi yang dituliskan jurnalis politik asal Australia itu juga menyebutkan latarbelakang keluarga Mahathir yang sensitif dan tak diungkap di memoar Mahathir. “Mohamad Iskandar adalah ‘Melayu Penang’, atau lebih tepatnya Jawi Peranakan, yang artinya orang lokal yang terlahir muslim dengan darah India. Iskandar, ayah Mohamad, adalah imigran dari selatan India yang merantau ke British Malaya dan menikahi orang Melayu,” tulis Wain. Mahathir Mohamad (kedua dari kanan) saat meneruskan sekolah pada 1946 setelah sempat terhenti di masa perang (Foto: mtholyoke.edu ) Latarbelakang leluhurnya itu tak pernah Iskandar kisahkan secara terang-benderang kepada keluarganya, termasuk Mahathir. Sebaliknya, Mahathir juga tak pernah bertemu kakek dari garis ayahnya lantaran Iskandar sudah wafat sebelum Mahathir lahir. “Mohamad Iskandar tak mengenal saudaranya dari India, juga tak bicara bahasa India. Walau beberapa anggota keluarga berspekulasi bahwa Iskandar berasal dari Kerala, Mahathir sendiri justru tak yakin kakeknya merupakan imigran, karena tak ada catatan tertulis tentang sosoknya dan ayahnya (Mohamad Iskandar) tak pernah menyebut tentangnya. Mahathir juga tak pernah membicarakan tentang keluarganya secara terbuka ke publik,” sambung Wain. Kedai Kopi hingga Panggung Politik Usia Mahathir baru sekira 16 tahun ketika Jepang mendepak Inggris dan menggantikan kolonialis lama itu menduduki Semenanjung Malaya. Seperti kebanyakan pemuda Melayu, hidup Mahathir mesti berbelok tajam dari mimpi awalnya akibat pendudukan Jepang. “Saya tak pernah menyangka Jepang akan menginvasi Malaya, namun runtuhnya Prancis di Eropa membuat Jepang bisa menempatkan pasukan di Indocina Prancis. Inggris yang khawatir , memperkuat Alor Setar dengan pasukan East Surrey Regimental dan juga pasukan Gurkha,” k at a Mahathir dalam memoarnya. Seme n tara, pemerintahan Kesultanan Kedah menerapkan kebijakan ARP (Air Raid Precautions). Mahathir di barisan pelajar turut serta masuk Auxiliary Fire Service. Ia dilatih mengatasi kebakaran untuk antisipasi pemadaman api jika terjadi pemboman oleh Jepang. Namun ketika Jepang masuk Malaya via Kelantan pada 8 Desember 1941, pasukan Inggris malah mundur. “Dengan invasi Jepang, roda pemerintahan (kesultanan) Kedah berhenti berputar dan semua saudaraserta saudara ipar saya yang bekerja di pemerintahan tiba-tiba harus menganggur. Para pedagang Cina melarikan diri dan kemudian penjarahan marak terjadi,” sambungnya. Banyak kawan Mahathir kemudian bergabung ke Heiho atau barisan tentara pembantu Jepang. Beberapa milisi, sebagaimana di Indonesia, pun bertumbuhan.Antara lainKesatuan Melayu Muda (KMM). Seingat Mahathir, ia pernah mendengar kabar bahwa Sukarno yang kelak jadi presiden pertama Indonesiasempat melawat ke Malaya bertemu para petinggi KMM guna membicarakan rencana mendirikan Indonesia Raya sebagai bentuk kolaborasi KMM dengan Heiho Malaya serta Heiho Indonesia. “Namun mayoritas rakyat Malaya tak mendukung pergerakan itu dan malah menginginkan Sekutu menang perang terhadap Axis (Jerman-Italia-Jepang). Saya sendiri sudah sibuk terbelit kemiskinan. Dengan modal seadanya saya dan saudara-saudara saya memilih berjualan pisang di jalanan Pekan Melayu,” lanjut Mahathir. Mahathir Mohamad di masa muda kala merintis karier di politik di Partai UMNO pada 1969 (Foto: Twitter @officialchedet) Di jalan itu pula Mahathir bertemu lagi dengan kawan-kawan sekolahnya.Mereka lantas mengajak Mahathir buka usaha bareng. Tak pikir dua kali, Mahathir berkenan, mengingat usahanya menjajakan pisang dengan menggelar lapak di jalanan tak menguntungkan dan butuh upaya lain untuk membantu mencari nafkah keluarga. Bersama dua kawannya , Mahathir pun membuka kedai kopi di Pasar Pekan Rabu, semacam Pasar Rebo di Jakarta yang hanya buka di hari Rabu. Selain menjajakan kopi, mereka juga menjajakan pisang goreng sebagai teman ‘ngopi’ para pelanggan dan minuman cendol sebagai menu lainnya . Usaha itu berjalan hingga Perang Dunia II usai. Nasib Mahathir berbalik 180 derajat usai Perang Dunia II. Setahun usai perang, ia menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah untuk kemudian melanjutkan studi medis lewat beasiswa ke King Edward VII College of Medicine (kini Yong Loo Lin School of Medicine) di Singapura. Di masa kuliah itulah Mahathir mulai terjun ke politik. Ia jadi aktivis anti-pendatang dengan ikut berunjuk rasa terhadap pemerintahan Malayan Union yang memberi kewarganegaraan kepada orang-orang non-Melayu. Ia mulai bergabung dengan UMNO. Pada pemilu pertama di Malaysia, 1959, ia sudah menduduki kursi ketua UMNO cabang Kedah. Mahathir baru bisa masuk lingkaran pemerintahan pada 1973 setelah ditunjuk sebagai anggota senat di Dewan Negara oleh Perdana Menteri Abdul Razak Hussein. Setahun kemudian,iamenjabat sebagai menteri pendidikan; wakil perdana menteri pada 1976 merangkap menteri perdagangan dan industri, serta menteri pertahanan. Menyusul mundurnya Perdana Menteri Hussein Onn dengan alasan kesehatan, nama Mahathir diajukan Tengku Razaleigh dan Ghazali Shafie sebagai suksesor. Pasalnya, di antara dua kandidat UMNO, Mahathir dan Ghafar Baba, yang fasih bahasa Inggris dan punya pendidikan lebih tinggi adalah Mahathir. Pertemuan Mahathir Mohamad dengan Soeharto di Malaysia, Juni 1993 (Foto: Repro "Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President") Per 16 Juli 1981, Mahathir resmi memegang jabatan perdana menteri. Indonesia jadi negara pertama yang dikunjunginya karena kekagumannya terhadap program-program pembangunanPemerintahan Soeharto. “Saya selalu mengikuti perkembangan berbagai kebijakan yang dijalankan pemerintahan beliau. Maka kunjungan luar negeri saya yang pertamakali setelah saya dilantik (perdana menteri) menggantikan Datuk Hussein Onn pada 1981 adalah kepada Presiden Soeharto,” tutur Mahathir yang dikutip Mahpudi dkk dalam Pak Harto: The Untold Stories .
- Ketika Islam Masuk ke Galuh
Ketika Pakuan Pajajaran (terletak sekitar Bogor sekarang) jatuh akibat proses Islamisasi Kesultanan Banten pada 1579, keseimbangan kekuatan politik di wilayah Tatar Sunda menjadi goyah. Hilangnya pemerintahan di Pakuan Pajajaran berarti hilang pula pengaruh Hindu-Buddha di Jawa bagian barat. Islam pun menjadi kekuatan tunggal di tanah Pasundan. Imbas kejatuhan itu, para penguasa Sunda yang sebelumnya ada di bawah naungan Pakuan Pajajaran kembali terpecah. Mereka mulai membangun pemerintahan di tempat asalnya masing-masing, dengan harapan dapat kembali menghidupkan kekuatan Sunda seperti sedia kala. Seperti yang dilakukan Prabu Cipta Sanghyang di Galuh (1528-1595), putra Prabu Haur Kuning. Menurut sejarawan Nina H. Lubis dalam Sejarah Kota-Kota Lama di Jawa Barat, ketika Kesultanan Banten berhasil mengislamkan Pakuan Pajajaran, Kesultanan Cirebon juga bergerak masuk ke wilayah Galuh. Islam pun akhirnya berkembang di sana. Namun itu hanya sebatas kekuasaan di Kawali saja karena Prabu Cipta Sanghyang sempat memindahkan kekuasaannya ke Cimaragas, Ciamis, sehingga Galuh mampu menghindari arus islamisasi dari para ulama Cirebon. Tapi keadaan itu tidak berlangsung lama. Kuatnya pengaruh Islam di Ciamis membuat Galuh perlahan kehilangan tempat berlindung yang aman. “Islam dikembangkan dari Cirebon ke Galuh melalui Maharaja Kawali,” ungkap sejarawan dari Universitas Padjadjaran itu. Tim Peneliti Sejarah Galuh dalam Galuh Ciamis dan Tinjauan Sejarah , menyebut jika Islamisasi Kesultanan Cirebon dilakukan melalui jalur perkawinan. Kisahnya dimulai ketika putra mahkota Galuh, Ujang Ngekel, jatuh cinta kepada putri Maharaja Kawali bernama Tanduran di Anjung. Tetapi cinta Ujang Ngekel tidak mendapat restu penguasa Kawali karena ia masih menganut Hindu, sementara Kawali sendiri telah sepenuhnya Islam. Demi cintanya, Si Putra Mahkota pun bersedia masuk Islam. Melihat kesungguhan itu, Kawali akhirnya meminta Cirebon untuk mengislamkannya. Setelah masuk Islam Ujang Ngekel menikahi Tanduran di Anjung. Namun hal itu belum memberi pengaruh besar terhadap penyebaran Islam di Galuh. Bahkan ketika ia naik takhta, dengan gelar Prabu Galuh Permana, menggantikan Prabu Sanghyang Cipta, Islam belum berkembang. Barulah pada masa Adipati Panakean, putra Prabu Galuh Permana, ajaran Islam mulai tumbuh pesat. Terutama setelah Mataram berhasil merangsak ke Galuh, dan secara luas ke Tatar Sunda. “Sejak akhir abad ke-16 M, Mataram berupaya menguasai Kerajaan Galuh,” tulis Mumuh Muhsin Z dalam makalah Ciamis atau Galuh , yang disajikan pada seminar sejarah “Menelusuri Nama Daerah Galuh dan Ciamis: Tuntutan dan Harapan”, 12 September 2012 di Ciamis. Pengaruh kuat Mataram di Galuh semakin terasa pada masa Sultan Agung. Penguasa Galuh ketika itu, Adipati Panakean, diangkat sebagai wedana Mataram. Status pemerintahan Galuh pun menjadi vasal Mataram. Dari hasil penelusuran Tim Peneliti Sejarah Galuh, berdasar sumber-sumber kolonial, didapati batas-batas Kerajaan Galuh yang jatuh ke tangan Mataram, yakni: Sungai Citanduy sebelah timur, perbatasan Sumedang di sebelah utara, Sungai Cijulang di selatan, dan Galunggung serta Sukapura di sebelah barat. Islamisasi Pertama Sebelum masuknya Cirebon dan Mataram, upaya islamisasi di Galuh telah lebih dahulu dilakukan oleh rakyatnya sendiri. Diungkapkan Rokhimin Dahuri dalam Budaya Bahari: Sebuah Apresiasi di Cirebon upaya itu datang dari putra kedua Raja Galuh, Bratalegawa, yang kemudian mendapat gelar Haji Purwa. Bratalegawa dikenal sebagai seorang saudagar Sunda yang sukses. Ia senang melakukan perjalanan niaga hingga ke luar negeri. Ketika sedang berdagang di India, Bratalegawa banyak berinteraksi dengan para pedagang Arab yang beragama Islam. Dalam penelitian Nina H. Lubis, dkk, Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat disebutkan bahwa lamanya interaksi menjadi sebab Bratalegawa mulai tertarik mengenal lebih dalam Islam. Meski ketika itu Haji Purwa masih menjadi penganut Hindu yang taat. “Ia diislamkan oleh saudagar Arab yang kebetulan bertemu di India,” tulis Nina. Bratelegawa kemudian menikahi seorang wanita Muslim dari Gujarat, Farhana binti Muhammad. Keduanya lalu memutuskan pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah kembali, Bratalegawa mengganti namanya menjadi Haji Baharudin al-Jawi. “Oleh karena ia merupakan haji pertama di Galuh, maka ia disebut Haji Purwa (pertama),” ungkap Rokhimin. Dari Mekah, Haji Purwa bersama keluarganya pergi ke Jawa Barat. Mereka tiba di Galuh pada 1337 M. Dibantu kawan Muslimnya dari Arab, Haji Purwa berusaha mengislamkan para penguasa Galuh, keluarganya sendiri. Namun upaya Haji Purwa itu mengalami kegagalan. Pengaruh Hindu yang masih terlalu kuat di Tatar Sunda membuat ia gagal meyakinkan Galuh untuk beralih menganut Islam. Setelah gagal mengislamkan Galuh, Haji Purwa memutuskan untuk keluar dari pusat kerajaan. Ia memilih tinggal di Caruban Girang (Cirebon Girang), yang ketika itu masih berada di bawah kekuasaan Galuh. Di sana secara perlahan ia menyebarkan Islam. Penyebaran Islam di Cirebon itu tidak mengalami kesulitan, utamanya di wilayah pesisir, karena penduduk di sana sudah banyak berinteraksi dengan para pedagang Muslim.
- Sastra Dakwah tentang Hari Kiamat
Jamaah calon haji dari Indonesia pada masa kolonial menempuh perjalanan laut hampir enam bulan untuk mencapai Mekkah. Dari Indonesia, mereka singgah dulu di Singapura. Di sini mereka biasanya membeli sejumlah bahan bacaan. Tema yang paling diminati adalah tentang hari kiamat. "Pas sebagai bacaan dalam perjalanan akbar menunaikan haji untuk mawas diri mengenang mati atau pelipur hati menghadapi kematian," kata Edwin Paul Wieringa, guru besar filologi Indonesia dan kajian Islam dari Universitas Cologne, Jerman, dalam kuliah umum bertajuk "Dari Kudus ke Bombay dan ke Jawa Lagi: Sastra Keagamaan tentang Hari Kiamat" di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), Depok, Jawa Barat, 19 Februari 2020. Bacaan bertema kiamat itu tercetak dalam tulisan tangan. Mereka terbit antara masa 1900-1920-an. Aksaranya Arab dengan bahasa Melayu atau Jawa. Edwin menemukan buku kuno bertema kiamat ketika meriset di Perpustakaan Nasional Singapura, Oktober 2019–Januari 2020. Jumlah buku semacam itu ada belasan. Dalam kuliah umum di FIB-UI, Edwin hanya memaparkan dua karya bertema kiamat temuannya: Singir Kiyamat karya Sumardi dan Syair Ibarat dan Khabar Kiamat anggitan Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif al-Banjari. Edwin mengaku belum banyak menguliti karya lainnya. Tapi pembacaan terhadap dua karya tadi saja telah mengungkap banyak hal: bacaan jamaah calon haji sewaktu di perjalanan, pandangan orang tentang kiamat, jaringan penerbitan Hindia Belanda–Singapura–India, keberlanjutan tema kiamat dalam bentuk komik pada 1960-an, dan fungsi filologi. Edwin menjelaskan, isi dua buku kuno tentang kiamat itu serupa. "Pada intinya menjelaskan bahwa hidup di dunia dan segala materi di dunia ini hanyalah bersifat sementara," kata Edwin. Kedua pengarangnya tak banyak mengeksplorasi kemungkinan estetik dan penafsiran sufistik terhadap surga dan neraka. Penggambaran surga dan neraka dalam dua buku kuno termaksud begitu gamblang. Surga adalah tempat penghiburan dan kebahagiaan bagi orang-orang saleh yang mengamalkan ajaran agama, sedangkan neraka menjadi tempat penyiksaan dan kesengsaraan bagi pelanggar ajaran agama Islam. "Pesannya lebih diutamakan daripada keindahannya," kata Edwin. Karena itulah, Edwin menempatkan dua buku kuno termaksud ke dalam kategori sastra dakwah. Menurutnya, sastra dakwah menghalalkan cara untuk mencapai tujuannya. Ia tak ambil pusing soal keindahan dan bentuk. Edwin Paul Wieringa, guru besar filologi Indonesia dan kajian Islam dari Universitas Cologne, Jerman, dalam kuliah umum bertajuk "Dari Kudus ke Bombay dan ke Jawa Lagi: Sastra Keagamaan tentang Hari Kiamat" di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), Depok, Jawa Barat, 19 Februari 2020. Mengenai latar belakang pengarang dua buku kuno termaksud, Edwin menngukapkan bahwa Sumardi bukanlah seorang ulama. Dia mungkin seorang penduduk Kudus. Tapi Edwin tak tahu banyak soal lainnya. Sedangkan Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif al-Banjari berasal dari Martapura, Kalimantan. Dia sohor sebagai ulama dan penulis sejumlah kitab. Sebagian besar kitabnya terbit di Singapura. Singapura merupakan kota utama untuk percetakan dan penjualan kitab-kitab agama Islam dari Hindia Belanda selama masa kolonial. Para pengarang kitab dari Hindia Belanda selalu mengoper karyanya ke Singapura untuk dicetak dan dijual. Selain Singapura, kota favorit lainnya bagi pengarang kitab dari Hindia Belanda ialah Bombay di pesisir barat India. Tapi Bombay tidak menjual kembali kitab tersebut. Kitab itu justru dikirim ke Singapura dan dijual kembali untuk orang-orang Hindia Belanda yang pergi haji. Mengapa pengarang kitab dari Hindia Belanda jauh-jauh melempar karyanya ke dua kota ini? "Sebab kedua kota tersebut berada di bawah koloni Inggris yang lebih liberal terhadap pelaksanaan agama. Sedangkan pemerintah kolonial Hindia Belanda lebih ketat dalam penerbitan buku-buku Islam," terang Edwin. Edwin mencatat, buku-buku terkait kiamat cetakan Bombay dan terbitan Singapura selalu menjadi yang terlaris di antara kitab-kitab keagamaan Islam. Hal pendukungnya ialah bentuk bukunya ringkas, harganya murah, dan temanya melintas zaman. Terbukti tema tentang kiamat terus bertahan. Bahkan pada 1960-an, tema ini diadaptasi ke dalam komik surga dan neraka. Komik itu menggunakan cara penggambaran dan penafsiran yang sama dengan dua buku kuno tadi. Gambar-gambarnya jelas sekali menunjukkan adegan penyiksaan di neraka dan suasana penghiburan di surga. Edwin juga menyatakan tema tentang hari kiamat masih digemari oleh generasi sekarang. Dengan demikian, peluang generasi sekarang mengenal buku-buku kuno terbuka lebar. Sebab buku-buku kuno ternyata telah memuat hal-hal yang dibicarakan oleh generasi sekarang. Tapi dia mengingatkan pembacaan generasi sekarang terhadap buku-buku kuno akan berbeda dan lebih sulit. "Membaca dan menilai teks dari zaman dahulu kala, yaitu bukan zamannya sendiri sangat sulit karena pengetahuan kita tidak begitu besar mengenai bahasa dan sistem kode yang terkandung dalam teks kuno," ujar Edwin. Karena itulah, Edwin memandang filologi dapat berperan untuk membantu pemahaman terhadap isi buku-buku kuno tersebut. Filologi ialah ilmu yang mempelajari teks-teks di dalam suatu bahasa tertentu. Ringkasnya, filologi membantu orang menafsirkan sebuah teks. Tidak hanya teks pada masa sekarang, tetapi juga pada masa lampau. Dengan filologi, generasi sekarang akan mampu mengungkap alam pikiran masyarakat pada masa lampau. Bagi Edwin, kerja mengungkap alam pikiran dan keadaan masyarakat pada masa lampau selalu menarik. "Saya tak habis mengerti mengapa ada orang yang tidak tertarik dengan filologi, ilmu bahasa, dan sastra," kata Edwin menutup kuliah.
- Pesona Sejarah Carnevale Venezia
KECERIAAN jutaan warga dan turis di Venezia, Italiaberganti cemas. Topeng-topeng pesta marak warna nan berganti masker-masker medis. Carnevale di Venezia atau Karnaval Venesia yang termasyhur itu harus dihentikan sebelum perayaan puncaknya, 25 Februari 2020 di Piazza San Marco. Gegaranya,merebaknya kasus COVID-19 alias virus corona . Karnaval yang “11-12” dengan Karnaval Rio itu mestinya berlangsung pada18-25 Februari atau jelang ibadah puasa pra-Paskah dalam agama Katolik. Namunper Minggu (23/2/2020), pemerintah negara bagian maupun pemerintah regioni (semacam negara bagian) sepakat menghentikan karnaval dan memberlakukan lockdown (karantina) di 12 kota di utara Italia. Pemberlakuan karantina sementara yang diputuskan sampai 1 Maret 2020 itu tidak hanya berlaku untuk karnaval, namun juga untuk sejumlah aktivitas, seperti pameran fesyen Giorgio Armani atau laga-laga sepakbola Serie A yang dimainkan di utara Italia. “Kami harus memberlakukan tindakan drastis. Mulai malam ini Karnaval Venezia, juga gelaran-gelaran lain, termasuk olahraga, sampai 1 Maret akan dihentikan. Termasuk juga semua acara perkumpulan pribadi maupun publik harus dihindari. Sekolah-sekolah ditutup sampai akhir bulan ini,” ujar Presiden regioni VenetoLuca Zaia, dikutip Deutsche Welle , Minggu (23/2/2020). Karnaval Venezia yang sempat berjalan sebelum akhirnya dihentikan per Minggu, 23 Februari 2020 (Foto: Twitter @Venice_Carnival) Keputusan itu diambil setelah tiga dari 155 pasien terdampak virus corona tewas. Korban tewas terakhiradalah seorang lansia berusia 78 tahun, Adriano Trevisan, yang meninggal di rumahsakit di Padova, kota tetangga Venezia . Pesta Khas Venezia Selama berabad-abad, Karnaval Venezia yang khas dengan pesta topeng itu masih menyisakan misteri soal asal-usulnya. Marianne Mehling dalam Venice and the Veneto menyebutkarnaval itu dipengaruhi tradisi Saturnalia di era Romawi Kuno sekira (500 SM) . Jika “dikonversi” ke kalender Masehi, perayaan Saturnalia lazimnya digelar sepanjang 17-23 Desember.Dalam kurun itu para budak Romawi dibebaskan sementara untuk ikut berpesta sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Saturnus. Perayaannya berupa pesta minuman, makanan, hingga berjudi. Namun dalam masa itu para penikmat perayaan belum mengenal tradisi pesta topeng. Menurut Elizabeth Horodowich dalam A Brief History of Venice, cikal-bakal karnaval berkenaan dengan pesta makanan dan minuman sebelum puasa pra-Paskah Katolikbaru eksis pada 1094. Kala itu Venezia sudah berbentuk republik (Repubblica di Venezia).Pemimpin Venezia Doge (Adipati) Vitale Faliero yang mencetuskan karnaval itu. “Tertulis dalam dokumen Doge Vitale Falierebahwa catatan pertama tentang karnaval terjadi pada 1094 dan perayaannya digelar terbuka untuk publik jelang puasa pra-Paskah,” sebut Horodowich. Ilustrasi Karnaval Venezia di masa-masa awal Republik Venezia (Foto: venezia.it ) Pesta semacam karnaval yang lebih besar dan jadi cikal bakal Karnaval Venezia, menurut James H. Johnson dalam Venice Incogito: Masks in the Serene Republic, baru terjadi pada 1162, selepas Republik Venezia menang perang atas Ulrich II von Treven, Patriark Aquileia. Ulrich II ingin menguasai Venezia sehubungan dengan kampanye perluasan wilayah kekuasaan Kaisar Frederick Barbarossa (Frederick I), dari Germania ke Italia. Upaya Ulrich memicu Doge Vitale II Michiel memberi perlawanan sengit dengan mengirim armadanya ke Grado, basis kekuatan Ulrich II. Ulrich lantas terkepung dan ditawan. Beruntung nasibnya diselamatkan Paus Aleksander III yang turun tangan memediasi perdamaian. Sri Paus meminta Doge Vitale membebaskan Ulrich dengan imbalan selusin babi ternak dan 300 potong roti yang akan dikirimkan rutin setiap tahun. “Kekalahan Ulrich pada 1162 kebetulan bertepatan dengan masa-masa jelang puasa pra-Paskah menjadi anugerah tersendiri bagi para pemimpin kota (Venezia). Persembahan (dari Sri Paus) itu kemudian dijadikan jamuan setiap kali digelarnya perayaan di Alun-Alun San Marco dengan disemarakkan pesta dansa,” tulis Johnson. Ilustrasi Carnevale di Venezia oleh pelukis Pietro Longhi yang dibuat tahun 1751 (Foto: Museo dell' Settecento Veneziano) Tetapi perayaan itu belum dilengkapi pesta topeng dan parade kostum mewah nan glamor. Topeng baru dikenakan para kaum aristokrat maupun golongan menengah pada 1296 ketika pemerintah republik mengesahkan Karnaval Venezia sebagai hari libur publik. “Sejak saat itu Karnaval Venezia dikenal luas karena pesta topengnya, parade kostum, pertunjukan musik dan seni, serta hiburan malam yang lantas jadi daya tarik orang asing datang ke Venezia,” imbuhnya. Topeng dan Larangan Karnaval Penggunaan topeng merupakan hal paling khas dari Karnaval Venesia. Dengan topeng, para peserta karnaval seolah mendapatkan kebebasan tak terbatasuntuk bersenang-senang, baik berjudi atau bercinta terlarang tanpa harus takut diketahui siapapun. Dari sini pula konon kelegendaan Giacomo Casanova bermula. Casanova merupakan petualang cinta ternama di abad ke-18 yang dengan kharismanya mampu bikin banyak kaum hawa ‘kelepek-kelepek’. Dia tak peduli sang mangsanya masih gadis atau istri orang. Penggunaan topeng juga menghilangkan batas-batas kelas antara kaum bangsawan maupun rakyat jelata sepanjang karnaval. Lebih jauh, penggunaan topeng juga menciptakan lapangan pekerjaan baru: mascherari alias pembuat topeng. Mereka membuat topeng bervariasi,mulai dari berbahan porselain, kayu, hingga plastik di zaman modern. Adegan Giacomo Casanova tengah merayu seorang wanita di Karnaval Venezia dalam film "Casanova" yang rilis 2005 (Foto: IMDb) Variasi bentuk topeng juga bermacam-macam.Yang paling khas antara lain bauta atau topeng sederhana dan tak banyak corak namun menutupi 100 persen wajah. Selain itu ada colombina , semacam topeng setengah muka yang hanya menutupi mata, hidung, dan bagian atas pipi. Jenis yang juga jamak disenangi para penikmat karnaval adalah moretta (topeng gelap) atau servetta mutta (topeng pelayan bisu). Topeng ini lazimnya berwarna hitam yang nyaris menutupi seluruh wajah, kecuali sisi lingkar luarnya. T openg ini hanya dilengkapi sepasang lubang mata tanpa lubang untuk hidung dan mulut. Cara p em akai an nya pun bukan seperti topeng lain dengan karet atau tali, melainkan digigit sisi dalamnya bak topeng reog Ponorogo. Maka d ar i itu topeng ini dinamakan topeng pelayan bisu. Tak ketinggalan,adatopeng Medico Della Peste . Topeng ini berbentuk paruh burung, mengadopsi masker atau topeng ahli medis Prancisabad ke-17Charles de Lorme. De Lorme biasa menggunakan topeng berparuh saat menangani para korban wabah pes, kemudian diikuti para dokter di Jerman hingga Belanda. Karnaval Venesia akhirnya memancing perhatian para bangsawan dalam maupun luar negeri. Sejumlah aristokrat Eropa meluangkan waktu mereka untuk datang ke Venezia. Namun masa-masa indah itu berakhir pada akhir abad ke-18. Karnaval Venezia digelar terakhir kalinya pada Februari 1797 di era Republik Venezia, lantaran pada Mei di tahun yang sama republik itu dikuasai Jenderal (kemudian kaisar) Napoléon Bonaparte. Empat varian topeng paling populer: Bauta, Colombiana, Moretta, dan Medico Della Peste Seiring mundurnya Doge Ludivico Manin dan runtuhnya Republik Venezia, berakhir pula kejayaan karnaval. Kekuasaan Venezia lantas diserahkan Napoléon ke Kekaisaran Austria dalam rangka Perjanjian Campo Formio, 17 Oktober 1797. Di bawah kekuasaan Austria, karnaval apapun dilarang. “Perhelatan karnaval secara terbuka terus diberlakukan di masa kekuasaan Austria, hingga kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Italia pada 1866. Di masa itu karnaval sempat dibolehkan digelar meski tak secara terbuka dan khusus untuk event pribadi bangsawan tertentu, sampai kemudian diktator Benito Mussolini total melarangnya pada 1930-an,” ungkap Daniel Shafto dalam Carnival . Butuh waktu lama bagi sebagian warga Venezia untuk menghidupkan tradisi itu lagi pasca-Perang Dunia II, mengingat Italia turut luluh-lantak. Pada 1967, beberapa tokoh di Venezia coba menghidupkannya kembali dalam rangka pesta kostumserta pesta topeng pribadi. Pada 1979, pemerintah Italia akhirnya membuka mata akan tradisi ratusan tahun itu dan menyatakan Karnaval Venezia sebagai warisan Italia untuk dilestarikan. Karnaval itupun mulai digelar lagi dalam skala kolosal pada Februari 1980 dengan ditambah agenda yang dijadikan tradisi baru, yakni La Maschera Più Bella alias Kontes Topeng Terindah.
- Sejarah Kolam Renang Pertama di Indonesia
KOLAM renang telah ada di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Kolam renang pertama berada di Bandung, Jawa Barat, berawal dari kolam ikan sederhana yang dibangun pada 1904. Kolam renang Cihampelas itu terletak di sisi jalan kecil Tjihampelaslaan (Jalan Taman Hewan), yang menghubungkan Lembangweg (Jalan Cihampelas) dan Ghyselsweg (Jalan Tamansari). "Kolam renang Tjihampelas adalah kolam renang tertua di Bandung. Kolam renang ini semula merupakan kolam ikan milik Ny. Homann, istri pemilik Hotel Savoy Homann, Tuan Homann," tulis Sudarsono Katam Kartodiwirio dan Lulus Abadi dalam Album Bandoeng Tempo Doeloe . Kolam renang Cihampelas dibangun untuk melayani tamu-tamu hotel. Pada masanya termasuk lengkap dengan tiga buah kolam berstandar internasional. Kolam renang Cihampelas sempat menjadi tempat berlatih Perkumpulan Berenang Bandung (Bandoengse Zwem Bond) yang berdiri pada 1917. Kolam renang itu hanya diperuntukan bagi orang-orang Belanda dan Eropa. Plang larangan bagi pribumi sungguh menyakitkan. Mantan Jaksa Agung Letjen TNI (Purn.) Soegih Arto menjadi saksinya pada masa kecil. "Saya masih ingat waktu di Bandung guru olahraga setengah mati mencari kolam renang untuk pelajaran berenang," kata Soegih Arto dalam memoarnya, Sanul Daca . "Di kolam renang Centrum," lanjut Soegih Arto, "jelas tidak mungkin, karena tertulis dengan huruf besar VERBODEN VOOR HONDEN EN INLANDERS atau terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah DILARANG UNTUK ANJING DAN ORANG PRIBUMI. Begitulah derajat bangsa kita sewaktu dijajah Belanda, padahal ini sudah tahun 1940." Akhirnya, berkat seorang anggota Volksraad (Dewan Rakyat), para siswa diperbolehkan berenang di kolam renang Cihampelas. "Alangkah gembiranya kami, karena naik derajat setingkat di bawah bule, sedikit di atas anjing. Asyik juga berenang dengan bule-bule, apalagi wanitanya yang berbadan putih padat. Sayang pada waktu itu belum ada bikini," kata Soegih Arto. Jenderal TNI (Purn.) A.H. Nasution juga punya pengalaman berenang di kolam renang Cihampelas. Saat itu, dia sedang mengikuti pendidikan militer CORO (Corps Opleiding Reserve Officieren) di Bandung tahun 1940. "Tiap akhir minggu kami berenang di Cihampelas. Saya belum pernah sebelumnya berenang di dalam kolam renang, apalagi dengan cara gaya tertentu. Saya berenang di kali di masa kecil, karena itu harus mulai lagi belajar dari mula pangkal," kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas: Kenangan Masa Muda . Kolam renang Tjihampelas di Bandung, 1930-1935. (Tropenmuseum). Menurut Sudarsono Katam dan Lulus Abadi, selain kolam renang Cihampelas, kolam renang lain di Bandung adalah kolam renang Centrum (sekarang bernama kolam renang Tirta Merta), yang dibangun pada 1920 dengan gaya arsitektur modern tropis Indonesia, karya arsitek C.R. Wolff Schoemaker. Letak kolam ini di Bilitonstraat (sekarang Jalan Belitung). Kolam renang lainnya berada di kompleks Dago Teehuise (Dago Tea House) dan di Cimindi cukup dikenal masyarakat Bandung, tetapi telah ditutup sejak akhir tahun 1950-an. Pada 1950-an, kolam renang Cihampelas dan Centrum menjadi tempat berlatih atlet-atlet renang daerah dan nasional. Bahkan, renang menjadi olahraga pertama yang melakukan pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Bandung untuk menghadapi Olimpiade Roma 1960 dan Asian Games 1962 di Jakarta. "Sistem pelatnas ini kemudian diikuti oleh cabang-cabang lain sebelum akhirnya Sukarno menyetujui pelatnas Asian Games dipusatkan di kota kembang tersebut," tulis Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti dalam biografi M.F. Siregar, Matahari Olahraga Indonesia . Saat itu, M.F. Siregar ditunjuk sebagai pelatih kepala cabang olahraga air yang terdiri dari renang, polo air, dan loncat indah. "Sejak tahun 1950-an, Siregar punya kebiasaan meninggalkan rumah pukul 04.30 pagi untuk melatih renang dan polo air di klub Tirta Merta maupun di pelatnas renang yang saat itu dilaksanakan di Bandung, dan di perkumpulan renang Tirta Taruna dan pelatnas di Jakarta," tulis Brigitta dan Primastuti. Sayangnya, kolam renang Cihampelas barakhir nahas. Setelah sempat terbengkalai, akhirnya kolam renang pertama di Indonesia itu dibongkar untuk dijadikan hotel. Penghancuran itu disayangkan sejumlah pihak di antaranya Irsan Sutedja, mantan atlet renang dan anggota Komisi Teknik Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) KONI Jawa Barat. "Sejak tahun 1959," kata Irsan dikutip detik.com , "saya berlatih mengawali karier saya sebagai atlet renang di kolam Centrum dan Cihampelas itu."*
- Krakatau Semakin Memukau
Kritikus musik Indonesia mengatakan banyak musik bagus dari era 1980 dan 1990-an. Era ini ditandai oleh kehadiran beragam grup musik dengan karya berumur panjang. Salah satu grup musik itu Krakatau. Krakatau menghibur para penggemar mereka di Jakarta Selatan. (Fernando Randy/Historia). Krakatau muncul dari prakarsa Pra Budi Dharma, Dwiki Dharmawan, Budhy Haryono, dan Donny Suhendra. Semuanya kelahiran Jawa Barat. Karena itu, mereka menamai grup musiknya sebagai Krakatau. Sebuah gunung berapi di barat Jawa. Pemain Bass Pra Budi Dharma salah satu pendiri Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Donny Suhendra dan Dwiki Darmawan, pendiri Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Krakatau beraliran jazz dan sering gonta-ganti personel. Sekarang personelnya adalah Trie Utami pada vokal, Dwiki dan Indra Lesmana pada piano serta keyboard , Pra Budi pada bass, Donny pada gitar, dan Gilang Ramadhan pada drum. Aksi Trie Utama membawakan lagu Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Krakatau telah menciptakan sejumlah album bermusikalitas. Daya musikalitas ini diperoleh dari tempaan menahun para personelnya. Hingga mereka mempunyai kemampuan bermusik di atas rata-rata orang kebanyakan. Sempat vakum, kini Krakatau lahir kembali. (Fernando Randy/Historia). Serupa sebuah gunung berapi, ada masanya Krakatau begitu aktif. Lain waktu justru begitu tenang. Tak ada aktivitas. Misalnya pada tahun 2006, mereka vakum. Penyebabnya, alasan klasik grup-grup musik: jenuh dan sibuk dengan urusan masing-masing. Indra Lesmana, salah satu anggota Krakatau yang cukup bersinar di kancah musik Indonesia. (Fernando Randy/Historia). Waktu untuk kembali aktif datang juga. Krakatau bergemuruh kembali. Kali ini dengan nama Krakatau Reunion. Mereka membuat konser intim pada 2019. Disebut konser intim karena penontonnya tak banyak. Hanya 30 orang terpilih yang dapat menyaksidengarkannya dalam sebuah rumah yang diubah menjadi studio di Jakarta Selatan. Gilang Ramadhan, salah satu drummer terbaik Indonesia yang bergabung bersama Krakatau. (Fernando Randy/Historia). "Dengan adanya konser intim ini, kami ingin memberitahu bahwa kami akan kembali menggunakan nama Krakatau," ujar Gilang Ramadhan di sesela konser. Meski lama tak tampil bersama, semangat bermusik Krakatau terasa masih sangat besar. Trie Utami seolah tidak pernah kehabisan energi. Katanya, mungkin karena endapan energi dari masa lalu. Ekspresi Trie Utami saat tahu bahwa dirinya sering dikerjain anggota Krakatau lainnya. (Fernando Randy/Historia). Perempuan yang akrab disapa Mbak Iie itu bercerita tentang masa lalu Krakatau. "Dulu saya paling sering dikerjain. Disuruh nyanyi teriak dengan nada tinggi saat di studio rekaman. Suara saya dibilang kurang tinggi terus. Sampai mau habis. Pas saya lihat kebelakang, ternyata mereka ketawa-ketawa. Nyiksa bener, ya." Indra Lesmana saat beraksi bersama Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Lama tak latihan bersama membuat personel Krakatau sering lupa tempo. Tapi ini bukan masalah besar. Mereka justru menjadikannya bahan candaan. "Semakin melegenda, semakin pelupa. Jadi kami tidak ingin disebut seperti itu karena tak mau lupa caranya bermain musik," kata Indra Lesmana. Donny Suhendra sedang menyetel gitarnya. (Fernando Randy/Historia). Lagu dan logo Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Pernyataan tersebut itu langsung ditimpali Gilang. Menurutnya, kata legenda akan melenakan mereka. "Terkadang yang di kepala ini juga bukan hanya tentang musik. Banyak hal lain yang menjadi pikiran kami. Kami memang tidak ingin disebut legenda karena bisa semakin menjadi pelupa," kata Gilang. Dwiki Dharmawan benar-benar menghayati lagu-lagu Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Salah satu tato dan aksesoris ular milik vokalis Krakatau, Trie Utami. (Fernando Randy/Historia). Walau Krakatau enggan menyandang atribut legenda, orang-orang kadung menisbatkan legenda kepada mereka. Sebagai penghargaan atas karya album sebanyak sepuluh selama mereka mengusung nama Krakatau. Semuanya berkualitas tinggi. Gilang Ramadhan usai tampil bersama Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Tapi Krakatau merasa belum waktunya berhenti total. Mereka masih ingin terus berkarya bersama. "Mungkin seperti Gunung Krakatau sesungguhnya yang pernah meletus, kami juga pernah bubar. Namun semangat bermusik kami tetap sama, seperti halnya Gunung Anak Krakatau yang berdiri kukuh di sana," tutup Indra Lesmana. Bangku kosong di salah satu sudut studio tempat Krakatau berlatih. (Fernando Randy/Historia).
- Sebelum Pearl Harbor, Pesawat AL Jepang Pernah Tenggelamkan Kapal AL AS.
VICTORIA Sabrina , kapal pesiar milik Victoria Cruises yang berbasis di New York, akan melakukan pelayaran perdana Mei 2020 nanti di Sungai Yangtze, China. Kapal pesiar mewah ramah lingkungan sepanjang 150 meter itu akan jadi kapal pesiar terbesar di dunia yang beroperasi di sungai. Pelayaran kapal Amerika di Sungai Yangtze bukanlah hal baru. Pada 1920-an, tanker-tanker milik Standard-Vacuum Oil, perusahaan minyak terbesar Amerika, dan kapal-kapal kargo Amerika hilir-mudik di sungai terpanjang China itu. Setelah ditandatanganinya perjanjian dengan pemerintah Republik China pada 1930, kapal-kapal perang Amerika juga rutin melayari sungai itu. Kapal-kapal perang itu mengawal kapal tanker dan kapal kargo Paman Sam agar tak dibajak dan dirompak, di mana kejahatan itu di Sungai Yangtze meningkat sejak akhir 1920-an. Kapal perang Amerika bahkan pernah jadi korban dalam pelayaran di Sungai Yangtze, dikenal sebagai Insiden USS Panay . Gegara Pendudukan Jepang Insiden USS Panay berawal dari direbutnya Shanghai oleh Jepang dalam Perang China-Jepang Kedua, 1937. Kejatuhan Shanghai membuat Chiang Kai-shek, kepala pemerintahan Republik China, mencari cara untuk melawan agresi itu. Oleh para penasehat militernya yang berkebangsaan Jerman, Chiang disarankan mengambil taktik pancingan. Yakni, membiarkan pasukan Jepang maju dari Shanghai ke ibukota Nanking dan terus masuk ke pedalaman lewat Sungai Yangtze. Saat pasukan Jepang sudah masuk jauh ke pedalaman itulah baru pasukan China menggempur dari sisi kanan-kiri sungai. Chiang menyetujui saran itu. Dengan masuknya Jepang ke Nanking pada November 1937, pertempuran sengit pun pecah karena militer China di bawah pimpinan Tang Shengzi mati-matian mempertahankannya alih-alih menyatakan Nanking sebagai kota terbuka. Pertempuran itu kemudian dikenal sebagai Pembantaian Nanking, karena pasukan Jepang memperkosa perempuan dan membunuhi penduduk sipil. Kondisi mengerikan itu mendorong penduduk yang selamat berbondong-bondong mengungsi. Perwakilan-perwakilan negara asing juga mengevakuasi warganya sejak November. Pada 11 Desember, Inggris dan Amerika kembali mengevakuasi warganya. Amerika menggunakan tiga kapal tanker milik Standard-Vacuum Oil, SSMei Ping, SS Mei An, dan SS Mei Hsia , dengan pengawalan kapal perang USSPanay . Konvoi itu berangkat pukul 8.30 pagi waktu setempat. Selain mengangkut 54 kru, Panay saat itu mengangkut empat staf Kedutaan AS dan 10 jurnalis AS dan asing. Konvoi yang dipimpin Panay itu mencapai titik 28 mil dari Nanking pada pukul 13.30 tanggal 12 Desember. Saat itulah beberapa pesawat pembom Yokosuka B4Y yang dikawal pesawat tempur A4N Nakajima Type 95 dari Grup Udara ke-13 AL Jepang pimpinan Letnan Okumiya Masatake terlihat terbang di atas mereka. Pesawat-pesawat itu ditugaskan ke Sungai Yangtze berdasar laporan intelijen yang menyatakan kapal-kapal Tiongkok yang dipenuhi tentara sedang bergerak naik ke Yangtze dari Nanking. Yakin akan keakuratan informasi intelijennya, pilot pesawat Yokosuka langsung melepaskan beberapa bomnya ke konvoi kapal Amerika di sungai. Satu bom berhasil mengenai satu kapal di konvoi itu yang terlihat sebagai kapal perang ( USS Panay ). Aksi Yokosuka langsung diikuti enam Nakajima menukik ke arah konvoi sambil memberondongkan senapan mesin dan menjatuhkan total 20 bom. USSPanay membalas serangan dengan menembakkan senapan mesin kaliber 30mm-nya meski saat itu lambungnya sudah sobek dan deknya terbakar. Namun tak satupun tembakan itu mengenai pesawat-pesawat Jepang tadi. Sebaliknya, kapal-kapal Amerika itu kembali didatangi pesawat-pesawat Jepang yang terus memberondong dan melepaskan bom-bomnya. “Setelah bombardir dan pemberondongan 20 menit terus-menerus itu, hasilnya amat menghancurkan. Kapal utama ( Panay , red .) dihajar di tengah sungai, dikelilingi peluru, terbakar, dan miring ke kanan. Dua kapal lain terdampar di tepi kanan Sungai Yangtze, yang lain di tepi kiri,” tulis Peter Harmsen dalam Nanjing 1937: Battle for a Doomed City . Meski sempat pergi, pesawat-pesawat Jepang itu kembali lagi karena Letnan Okumiya dimarahi atasannya lantaran tak menenggelamkan langsung kapal-kapal tadi. Kali ini mereka gagal menemukan kapal-kapal Amerika tadi dan hanya mendapati empat kapal lain yang berada lebih dekat dari kota Nanking. Okumiya langsung menjatuhkan bom 60 kilogramnya yang menghantam salah satu kapal. “Ketika dia berhenti (menyerang), dia melihat, dalam sepersekian detik, Union Jack di sisi lambung kapal. Dia menyadari kesalahannya,” sambung Harmsen. Bukan kapal Amerika, kali ini yang dihantam pesawat-pesawat Jepang merupakan kapal Inggris SS Wantung . “ SS Wantung berlayar dari Shanghai ke Wuhu untuk melakukan kerja penyelamatan di sana. Dia juga membawa muatan 100 ton kacang untuk Komite Zona Keamanan Internasional di Nanking,” tulis buku A Dark Page in History: The Nanjing Massacre and Post-Massacre Social . Kesalahan Okumiya segera disadari rekan-rekan pilotnya sehingga mereka tak jadi melepaskan tembakan dan bom. Pesawat-pesawat Jepang itu segera kembali ke pangkalan. Serangan kedua atas Panay membuat situasi di geladak kacau. Komandan Panay K apten James Joseph Hughes tertembak pahanya sehingga posisinya digantikan Letnan Arthur F. Anders. Personil militer lain yang tertembak yakni Pratu Charles Lee Ensminger dan Prajurit William Gorge Hulsebus. Sementara, penumpang sipil yang teridentifikasi tertembak adalah Sandro Sandri, kontributor suratkabar Italia La Stampa berusia 42 tahun, dan sekretaris Kedubes AS John H Paxton. Dokter kapal langsung menjadikan ruang mesin sebagai rumahsakit darurat. Sekira 45 korban serangan mengantri untuk mendapat perawatannya. Letnan Anders, yang tangannya tertembak dan lehernya terkena pecahan peluru, akhirnya memberi perintah lewat tulisan karena tak bisa bicara. Semua orang diperintahkannya meninggalkan kapal pada pukul 14.00 itu. Beberapa sekoci langsung membawa para kru dan penumpang ke sebuah pulau berilalang lebat, tempat para penumpang Panay bersembunyi. Dari rerimbunan ilalang, mereka melihat sebuah powerboat AL Jepang mendekati Panay sambil memberondong. Para serdadu Jepang itu lalu menaiki Panay dengan bendera Amerikanya yang masih berkibar. Lima menit kemudian mereka kembali ke powerboat dan pergi. Panay akhirnya tenggelam pukul 15.45 dan sempat diabadikan oleh kamera beberapa jurnalis yang menumpanginya. Karena takut, para penumpang Panay bertahan di yang dingin itu. Mereka baru menyeberang ke desa terdekat setelah keadaan aman. Namun, malamnya Pratu Ensminger dan Sandri tewas akibat luka-lukanya terlalu parah. Mereka semua akhirnya diselamatkan USS Oahu dan kapal Inggris HMS Ladybird . Berita serangan atas Panay pun sampai ke Tokyo dan Kedubes AS di Tokyo. Dubes AS untuk Jepang Joseph C. Grew pusing dan khawatir Amerika balas menyerang Jepang karena kasus Panay . Sebab, menurut FJ Bradley dalam He Gave the Order: The Life and Times of Admiral Osami Nagano, “Amerika memindahkan skuadron B-17 Flying Fortress ke Pangkalan Clark di Filipina sebagai tanggapan terhadap Insiden Panay.” Grew tak ingin kasus peledakan kapal AS USS Maine di Havana tahun 1898 yang memantik Amerika berperang dengan Spanyol terulang pada Jepang. Pemerintah Jepang akhirnya meminta maaf kepada pemerintah Amerika dan setuju membayar kompensasi sebesar 2,2 juta dolar. Permintaan maaf itu membuat pemerintah Amerika akhirnya memilih jalur diplomasi untuk menyelesaikan Insiden Panay . Berbeda dari pemerintah Jepang yang bersikeras serangan terhadap Panay karena salah identifikasi oleh pilotnya, rakyat Jepang menunjukkan simpati luar biasa kepada para korban dan keluarga mereka. Surat belasungkawa dan permintaan maaf hingga donasi uang dari masyarakat Jepang beragam kalangan, mulai anak-anak hingga pensiunan angkatan laut, terus membanjiri Kedubes AS di Tokyo dan konsulat-konsulat AS di kota-kota besar Jepang. Salah seorang yang bersimpati adalah bocah dari Nagasaki yang mengirim uang dan surat bertuliskan “Kepada pelaut Amerika”. “Dalam sebuah surat dua hari kemudian, konsulat di Nagasaki melaporkan kepada Grew bahwa pada 21 Desember seorang bocah lelaki dari SD Shin Kozen membawa surat dan sumbangan dua yen ke konsulat dan ditemani oleh kakak laki-lakinya. Konsul melampirkan kontribusi dan surat anak itu baik asli maupun terjemahannya. Surat itu berbunyi, ‘Musim dingin telah tiba. Setelah mendengar dari kakak saya bahwa kapal perang Amerika telah tenggelam beberapa hari lalu, saya merasa sangat menyesal. Dilakukan tanpa niat, saya meminta maaf atas nama para prajurit. Mohon dimaafkan. Ini adalah uang yang saya tabung. Tolong serahkan kepada para pelaut Amerika yang teluka.’ Bocah itu tidak menyebutkan namanya dalam surat itu, juga tidak mengungkapkannya ketika mengunjungi konsulat,” tulis Trevor K. Plante, arsiparis di unit Old Military and Civil Records, National Archives and Records Administration, dalam artikel yang dimaut archives.gov , “Japanese Expressions of Sympathy and Regret in the Wake of the Panay Incident”. Baik kompensasi resmi maupun donasi sukarela rakyat Jepang akhirnya tuntas dilaksanakan. Donasi yang terus berjalan hingga Februari 1938 dan memusingkan Dubes Grew itu –karena berpendirian menolak donasi apapun di luar kompensasi resmi, Washington memerintahkan untuk mengembalikan donasi itu; sementara Grew tak ingin Amerika menolak donasi karena melukai hati para pemberi donasi– akhirnya menghasilkan pendirian lembaga Japan-America Trust pada April 1938. Lembaga inilah yang mengalokasikan uang donasi untuk membiayai keperluan yang berhubungan dengan persahabatan Amerika-Jepang. “Kedua belah pihak lega dengan hasil dari masalah kontribusi Panay. Pembentukan Japan-America Trust menghapus semua kebutuhan untuk mengembalikan uang (donasi), dan tidak ada bagian dari pemerintah atau warga negara Amerika lain yang diuntungkan dari donasi tersebut,” sambung Plante.*
- Deregulasi, Cara Orde Baru Mengerek Pertumbuhan Ekonomi
PEMERINTAH telah menyerahkan draft Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja ke DPR pada pertengahan Februari 2020. RUU itu memuat revisi sejumlah pasal dalam hampir 80-an undang-undang di bidang ekonomi, pajak, lingkungan, ketenagakerjaan, dan banyak lagi. Bersama penyerahan itu, salinan RUU mulai tersebar dan dibaca oleh masyarakat.






















