top of page

Hasil pencarian

9861 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jalan Hidup Idham Chalid

    Dari sambungan telepon, suara itu terdengar sangat antusias. Terasa semangatnya begitu meluap-lupa ketika membicarakan sosok Idham Chlaid yang tak lain adalah kakeknya tercinta. Kenangan semasa kecil dengan Abah, sapaan keluarga untuk Idham Chalid, rasanya tidak mungkin bisa ia lupakan. Di mata Grandy Ramadhan, Idham adalah orang yang sangat rendah hati dan sederhana pola hidupnya. Bahkan pada saat Idham Chalid memegang jabatan yang cukup tinggi di pemerintahan, gaya hidup sang kakek tetap sederhana. Ia ingat betul setiap kali keluarga berpergian ke suatu tempat, sang kakek selalu memilih tempat menginap yang sederhana, tapi tetap nyaman, alih-alih harus tinggal di tempat yang mewah dan mahal. “Beliau sangat anti hidup bermewah-mewahan, bahkan untuk barang-barang yang beliau pakai pribadi tetap lebih mengutamakan fungsi dibandingkan kemewahan   barangnya. Itu yang beliau tanamkan ke anak-anak dan cucu-cucunya. Saya banyak diajari oleh beliau,” ujar Grandy kepada Historia . Idham Chalid lahir di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1921. Ia anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H. Muhammad Chalid merupakan penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah. Sejak kecil Idham mendapat pendidikan agama yang baik dari keluarganya. Ia juga terdaftar sebagai murid di Madrasah Al-Rasyidiyah di Amuntai. Setamat dari madrasah tersebut, Idham melanjutkan sekolah di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Setelah aktif di berbagai gerakan perjuangan, pada usia 30 tahun Idham dipercaya sebagai Sekertaris Jenderal Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU). Pada 1956, empat tahun setelah menjabat Sekjen, Idham diberi kepercayaan menjadi Ketua Umum PBNU. Ia menjadi Ketua Umum PBNU termuda (usia 34 tahun) dan terlama (selama 28 tahun). Membangun Politik di NU Pada 1950-an perpecahan di tubuh Masyumi kian meluas. Sejumlah tokoh NU di dalam partai yang dibentuk untuk menyalurkan aspirasi politik umat Islam Indonesia tersebut semakin jelas menunjukkan kekecewaannya terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil partai. Menurut Greg Fealy dalam Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967 , sejak ketegangan di kongres 1949, hubungan antara Masyumi dan NU tidak pernah membaik. Akibatnya pada 1952, NU memutusukan berpisah dari Masyumi. Kondisi itu berimbas juga kepada Idham. Ia yang sejak 1950 duduk sebagai wakil Masyumi di Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) harus memilih di mana dirinya akan berlabuh. Dikisahkan Ahmad Muhajir dalam Idham Chalid: Guru Politik Orang NU , setelah melalui berbagai pertimbangan, Idham memutuskan untuk lebih terlibat di NU ketimbang Masyumi. Salah satu alasan dari keputusan itu adalah kedekatan Idham dengan Wahab Chasbullah, Rais ‘Aam PBNU yang sangat besar pengaruhnya dalam proses perpisahan NU dari Masyumi. “Wahab inilah yang memiliki peranan penting dalam karir Idham di NU. Dengan kelihaian Wahab, namun penuh kehati-hatian, serta faktor insting politik yang tajam membuat Idham mengalami kemajuan pesat di bawah bimbingannya, dengan belajar banyak mengenai teknik berogranisasi, berdebat dan berpidato, sambil juga membangun jaringan dukungan sendiri dalam partai,” kata Muhajir. Setelah melepas kedudukan di parlemen, Idham aktif di gerakan Pemuda Ansor. Pada 1952, ia kemudian menjabat sebagai ketua PB Ma’arif, organisasi yang berafiliasi kepada NU di bidang pendidikan. Di tahun yang sama, ia diangkat menjadi Sekjen PBNU. Baru dua tahun menjabat, Idham terpilih sebagai wakil ketua PBNU. Kedudukannya kian penting manakala ia dipercaya memegang jabatan Ketua Lajnah Pamilihan Umum Nadhlatul Ulama (Lapunu), sebuah dewan yang khusus menangani Pemilu bagi partai NU. Tugas sebagai ketua Lapunu tidaklah mudah, mengingat Pemilu 1955 menjadi ujian pertama bagi NU. Hajat demokrasi pertama rakyat Indonesia itu harus bisa menjadi ajang pembuktian NU setelah mereka keluar dari Masyumi. Ketua Lapunu dituntut membuat strategi terbaik untuk memenangkan suara dalam Pemilu tersebut. Dan Idham berhasil membuktikannya. Dalam Pemlilu 1955, NU meraih keberhasilan yang mengejutkan. Mereka berhasil mengumpulkan 45 kursi, dengan total suara yang dikumpulkan sebesar 18,4 persen. Menurut Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren , keberhasilan itu tidak lepas dari penggunaan metode kampanye yang efektif dari kubu NU, juga kemampuan NU menggalang solidaritas di lingkungan kaum santri. Berkat hasil positif dalam Pemilu 1955, NU mendapat jatah lima kursi menteri di Kabinet Ali Sastroamijoyo II, termasuk jabatan Wakil Perdana Menteri yang diserahkan pada Idham. “Dengan usianya yang baru 35 tahun, dan tanpa pengalaman sebagai menteri, pengangkatannya mencerminkan bahwa NU tidak hanya menaruh harapan besar terhadap perkembangan karir Idham, tetapi juga tidak mempunyai calon lain yang layak,” terang Muhajir. Pada Muktamar NU ke-21 di Medan pada Desember 1956, Idham terpilih sebagai ketua umum PBNU. Di bawah kepemimpinannya, NU terus melanjutkan pergerakannya di gelanggang politik dalam negeri. Dalam posisinya tersebut, ia juga sempat kembali menduduki kursi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Djuanda. Sementara kedudukannya sebagai ketua umum PBNU berakhir pada 1984. Ia digantikan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai organisasi masyarakat yang tidak terlibat politik praktis serta tidak berafiliasi dengan partai mana pun. Dalam perubahan politik yang terjadi begitu cepat di dalam negeri, utamanya sejak manuver politik Sukarno menjelang dekade 1960-an, Idham tetap mengambil jalan hidup di dunia politik. Ia menjadi wakil ketua MPRS (1963-1966), Menteri Kesejahteraan Rakyat (1966-1967; 1967-1968; dan 1968-1973), Ketua DPR/MPR (1971-1977), Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (1973). Di tubuh NU sendiri kedudukan sebagai ketua umum berakhir pada 1984. Setelah tidak lagi di dunia politik, Idham memimpin Perguruan Darul Ma’arif di Cipete Selatan, Jakarta Selatan; Lembaga Pendidikan Darul Qur’an; dan Rumah Yatim di Cisarua. Ia mengehembuskan nafas terakhirnya pada 11 Juli 2010, setelah berjuang menghadapi sakit sejak 1999. Sosok Kiai Idham kemudian diabadikan oleh Bank Indonesia dalam uang pecahan 5.000 rupiah.

  • Bentrok Militer Amerika dan Australia Semasa Perang Dunia

    KOTA Brisbane hampir dipastikan terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade tahun 2032. Hal itu disampaikan Presiden IOC Thomas Bach dalam jumpa pers di markas IOC di Swiss, Rabu, 24 Februari 2021. “Setelah diskusi yang mendalam, kami secara aklamasi menyetujui rekomendasi tersebut. Berdasarkan keputusan ini, komisi mulai melakukan diskusi yang rinci dengan Komite Brisbane 2031 dan juga Komite Olimpiade Australia mengenai potensi mereka menjadi tuan rumah Olimpiade 2032,” ujar Bach sebagaimana dikutip detik . com , 25 Februari 2021. Apabila terpilih, Brisbane bakal menyingkirkan kandidat-kandidat lain seperti Budapest (Hungaria), Doha (Qater), Istanbul (Turki), dan Jakarta (Indonesia). Selain itu, Brisbane juga berhasil mengikuti jejak dua kota Australia yang pernah menjadi tuan rumah olimpiade (Melbourne, 1956; Sydney, 2000). Brisbane bakal kedatangan banyak orang luar. Keramaian orang luar pernah terjadi di Brisbane 80 tahun silam. Namun, keramaian saat itu bukan mengharumkan nama Brisbane tapi justru mencorengnya, dikenal sebagai Pertempuran Brisbane. Pertempuran Brisbane bermula dari pengungsian tentara Amerika Serikat. Setelah Filipina diduduki Jepang dalam Perang Dunia II, Jenderal Douglas MacArthur memboyong pasukannya ke Australia. Brisbane dijadikan markas olehnya pada Juli 1942 setelah sebelumnya bermarkas di Melbourne. “Dia adalah penggerak utama di balik invasi Amerika pada masa perang di Australia setelah terpilih sebagai tempat yang paling cocok untuk melancarkan serangan balik terhadap Jepang,” tulis Robert Macklin dalam The Battle of Brisbane . Kedatangan MacArthur disambut penduduk kota dengan meriah. Mereka menganggap pasukan MacArthur sebagai penyelamat. “Seorang perempuan menggambarkan reaksinya saat melihat orang Amerika: Mereka adalah dewa dan mereka datang untuk menyelamatkan kita dari Jepang,” tulis John Tilston dalam Meanjin to Brisvegas: Snapshots of Brisbane’s Journey from Colonial Backwater to New World City . Sambutan hangat penduduk membuat pasukan Amerika senang. Selain mendapat tempat untuk mengkoordinasi perlawanan terhadap Jepang, mereka mendapat kawan baru dan banyak kemudahan lain. “Sebagian besar orang Australia menyambut orang Amerika sebagai penyelamat dan, setidaknya pada hari-hari awal, orang Amerika menanggapinya dengan hangat,” tulis Robert Macklin. Dipilihnya Brisbane sebagai markas MacArthur membuat jumlah pasukan Amerika terus bertambah di kota yang saat itu berpenduduk 300-an ribu jiwa itu. Perakitan pesawat-pesawat militer Amerika kemudian dilakukan di kota itu. Sebagai multiplier effect  darinya, ekonomi Brisbane menjadi berputar lebih cepat. “Ada sekitar 70.000 tentara Amerika di kota itu pada awal 1942. Meskipun masa sulit secara ekonomi, beberapa orang mendapat banyak uang jika mereka memberikan layanan apapun kepada orang Amerika. Sopir taksi, misalnya, mendapat uang darinya. Orang Amerika tidak tahu nilai mata uang lokal dan memberi tips dengan murah hati,” sambung Tilston. Para serdadu Amerika memiliki kemampuan finansial lebih baik dibanding para serdadu Australia. Gaji mereka hampir dua kali lipat dari gaji serdadu Ausrtalia. Selain seragam mereka lebih baik bahan maupun desainnya dibanding seragam militer Australia, para serdadu Amerika difasilitasi lebih banyak oleh negerinya. Kantin Amerika menjual banyak pilihan barang yang bagi para serdadu Australia saat itu merupakan barang terjatah atau langka dan tak terjangkau. Kelebihan-kelebihan para serdadu Amerika itu membuat gadis-gadis Australia tertarik. Para gadis umumnya membandingkan mereka dengan pasukan Australia. “Jalanan yang padat dipenuhi dengan seragam, dari pakaian opera putih dan biru para doughboy (julukan serdadu infantri Amerika, red .) di R&R atau mereka yang menelepon ke Brisbane dalam perjalanan ke utara, atau kain khaki kasar dan berpotongan buruk, usang dari beberapa tentara Australia yang tidak bertempur di New Guinea. Pakaian terbaik dari semua itu adalah para perwira Amerika dengan pakaian hijau zaitun yang sesuai, sejauh ini mengungguli penduduk sipil Brisbane, tidak ada yang mampu membeli pakaian berpotongan rapi, pas atau bahan yang begitu tampan. Perempuan lain mengatakan bahwa ‘baunya sangat wangi.’ Lotion  Aftershave tidak dikenal di Brisbane saat itu. Mereka juga punya sopan santun dibanding pasukan Australia. Mereka tidak takut untuk mengungkapkan kelembutan, bahkan sebagian wanita menganggap mereka agak maju dalam melakukannya,” tulis Tilston. Keunggulan finansial membuat lebih banyak gadis Australia memilih menerima ajakan kencan serdadu Amerika ketimbang serdadu senegeri mereka. Akibatnya para serdadu Australia kerap hanya bisa menelan ludah melihat para serdadu Amerika bebas minum bir di bar atau kafe sepuas mereka bersama para gadis lokal. Sementara, serdadu Australia kerap ditolak pegawai bar atau kafe dengan alasan bar sudah tutup atau bir sudah habis. Untuk memasuki kantin-kantin Amerika tempat di mana bir berlimpah, mereka pun tak bisa karena adanya larangan. Jalan-jalan kota, klub dansa, bioskop, kafe, bar dan tempat-tempat umum lain akhirnya lebih banyak dipenuhi serdadu Amerika yang mengencani gadis setempat. Pada gilirannya, bukan hanya gadis setempat (dijuluki “cuddle bunnies”) yang mengencani para serdadu Amerika namun juga perempuan sudah menikah (“lizzies lounge”). Banyak dari mereka yang kemudian menikah. Kondisi timpang antara dua pasukan Sekutu itu sampai membuat bingung sejarawan Inggris Christopher Thorne. “Saya terus terang terpesona pada kemabukan yang pernah saya lihat di antara orang Australia. Di Brisbane, warga Australia berseragam berputar-putar di jalan sepanjang hari dan sepanjang malam. Mereka bukan pemabuk yang bahagia. Mereka hanya basah kuyup, dengan seragam longgar mereka tergantung seperti karung. Seragam mereka cukup untuk membuat mereka merasa rendah diri, dibandingkan dengan orang Amerika. Dan tentu saja pasukan Amerika mendapatkan semua gadis cantik dan mereka punya lebih banyak uang, dan kantin Amerika lebih bersih dan lebih lengkap, dan orang Amerika punya derap dan mengemudi dan sangat ingin mendapatkan perkelahian. Orang Australia yang pulang setelah dianiaya di Mesir dan Singapura hanya bisa merenung dan minum,” tulisnya, dikutip Macklin. Kesenjangan itu akhirnya membuat para serdadu Australia iri. Keirian mereka diperparah oleh arogansi yang kerap diperlihatkan serdadu Amerika. “Perlakuan lusuh ini membuat para Digger (julukan pasukan Australia) marah pada rakyat mereka sendiri seperti pada orang Amerika. Suasana hati itu berubah dan beberapa tentara Australia mulai meminta uang dari orang Amerika di jalan. Mengemis dengan ancaman kekerasan menjadi salah satu ciri paling menjijikkan dalam kehidupan Brisbane,” tulis Robert Macklin dalam The Battle of Brisbane . Gesekan-gesekan pun kerap terjadi antara kedua pasukan mulai pertengahan Oktober 1942. Korban tewas atau luka-luka jatuh dari kedua belah pihak. Baku tembak antara kedua pasukan di Inkerman, misalnya, menewaskan satu persnoel masing-masing. Dalam kondisi tak kondusif itu, pada pukul 18.50 tanggal 26 November 1942 Prajurit James R. Stein dari Kompi Sinyal 404 AD Australia keluar dari pub sebuah hotel tempatnya minum dalam kondisi mabuk. Dia menuju Kantin PX milik Amerika, sekira 50 meter dari tempatnya awal. Dia lalu bergabung dengan tiga personil militer Australia yang sedang minum-minum dan mengobrol. Saat sedang asyik mengobrol itulah tiba-tiba Stein didatangi Prajurit Anthony O’Sullivan dari Kompi 814 PM Amerika. Stein diminta menunjukkan pass masuknya. Namun karena Stein tidak menemukannya meski sudah mencari dalam waktu lama, Sullivan menjadi kesal dan meminta Stein agar beranjak. Sikap Sullivan membuat ketiga tentara Australia kawan ngobrol Stein meminta Sullivan agar kalem dan membiarkan Stein. Saling umpat pun terjadi. Namun karena Sullivan mengangkat pentugannya, para serdadu Australia pun menyerang Sullivan. Keributan terjadi. Hal itu menarik perhatian tentara Australia lain dan warga yang ada di sekitar. Mereka lalu mendukung untuk menghajar para prajurit Amerika. Para serdadu Amerika kewalahan. Meski kemudian datang bantuan dari anggota PM Amerika, kalah jumlah membuat mereka akhirnya mundur sambil membawa Sullivan yang terluka. Para prajurit Australia dan massa terus mengejar mereka. Kantin PX lalu hancur diamuk massa. Kantor Klub Palang Merah Amerika yang tak jauh dari sana juga ikut dikepung dan dirusak. Para petugas jaga Kantin PX dibantu aparat kepolisian Queensland terus berupaya menghalau massa. Namun, massa gabungan prajurit Australia dan warga kota terlanjur marah. Perkelahian pun tak terhindarkan. Dalam sekejap, perkelahian menyebar ke bagian lain kota. Pukul 20 waktu setempat perkelahian telah melibatkan 2000 hingga 5000 orang. Beberapa personil PM Australia langsung melepaskan pita di lengan mereka dan bergabung ke dalam perkelahian. Sementara, sebuah truk berisi tiga prajurit Australia yang dikemudikan Kopral Duncan Caporn tiba dengan mengangkut beberapa kotak amunisi, granat, dan empat senapan sub-machine Owen. Batalyon 738 PM Amerika langsung mempersenjatai personilnya dengan senapan. Dua di antaranya, Prajurit Norbert Grant dari Kompi C dan Prajurit Mercier, langsung maju ke halaman depan. Tindakan tersebut menarik perhatian beberapa anggota massa Australia yang langsung mendekatinya dan mencoba merebut senjatanya. Perkelahian terjadi. Ketika Gunner Edward S. Webster (personil Resimen Anti-Tank ke-2Australia) hendak merebut senapannya, Grant lebih dulu menusuknya. Sementara itu, leher Grant telah dicekik oleh tentara rekan Webster. Tiga kali pelatuk senapan Grant tertarik dalam pergumulan itu sehingga tiga peluru dimuntahkan dari senapan yang diperebutkan itu. Salah satu peluru langsung menembus dada Webster dan membunuhnya seketika. Dua peluru lain mengenai pipi Prajurit Kenneth Henkel dan dada Prajurit Ian Tieman. Grant yang bingung langsung lari kembali ke dalam PX. Dalam perjalanan, dia sempat memukul kepala orang Australia dengan senapannya hingga patah gagang. Di bagian lain, Prajurit Amerika Joseph Hoffman tengkoraknya retak dalam perkelahian itu. Kendati keributan telah selesai pada pukul 22, malam berikutnya antara 500 hingga 600 personil militer Australia kembali mengepung personil militer Amerika di gedung Palang Merah. Tak jauh dari sana, di persimpangan antara Jalan Ratu dan Jalan Edwards, massa Australia memukuli para serdadu Amerika. Penulis Australia yang bersuamikan orang Amerika, Margaret Scott, bahkan tak luput dari serangan ketika sedang melintas. “Penulis itu, Margaret Scott, percaya bahwa sejumlah orang Amerika telah ditendangi sampai mati dan satu orang ditembak, tetapi tidak ada catatan resmi mengenai kematian tersebut. Namun, lusinan –dan kemungkinan puluhan– orang Amerika terluka,” tulis Raymod Evans dan Jacqui Donegan dalam “The Battle of Brisbane” yang dimuat di politicsandculture.org . Kerusuhan itu akhirnya padam setelah masing-masing pihak menerjunkan PM dalam jumlah besar untuk menertibkan. Masing-masing kesatuan yang terlibat lalu dipindahkan. Grant dimejahijaukan Februari tahun berikutnya, namun dia dibebaskan karena alasan membela diri. Lima orang Australia dihukum, yang terberat dipenjara enam bulan. “Sejak 1942, Brisbane adalah salah satu pos pementasan terakhir di garis depan. Suatu malam, dengan cara yang tak terduga dan tak terkira, kota itu menjadi garis depan itu sendiri. Orang Australia memiliki keluhan dan mereka memiliki alasan kuat untuk dirugikan. Orang-orang Amerika memiliki segalanya –gadis, kantin, dan yang lainnya– dan orang-orang kita benar-benar dikucilkan di kota mereka sendiri,” kata Mayor Bill Thomas, yang bertugas menginvestigasi penyebab gangguan anti-Amerika pada 1943, dikutip Macklin.*

  • Kerajaan Bisnis Mangkunegara IV

    SETELAH berakhirnya Perang Jawa (1825-1830), para penguasa di seluruh wilayah Jawa Tengah mulai melakukan perbaikan tatanan ekonomi yang sebelumnya sempat terabaikan. Mereka membangun kembali lahan-lahan pertanian dan perkebunan untuk menutupi segala kebutuhan produksi pangan di wilayahnya, baik untuk keperluan konsumsi rakyat maupun bisnis istana. Sejumlah penguasa berhasil melakukan perbaikan ekonomi dalam waktu singkat, hanya beberapa tahun pasca perang. Namun tidak sedikit penguasa yang memerlukan waktu lebih lama untuk membuat ekonomi kerajannya kembali stabil. Seperti menimpa Praja Mangkunagaran, yang baru memperoleh keamanan ekonomi ketika Mangkunegara IV bertakhta. Ia menjadi penguasa Karang Anyar yang mempelopori sistem perekonomian modern. “Untuk menopang keuangan praja, ia tidak hanya mengandalkan pajak secara tradisional sebagaimana yang umumnya berlaku di kerajaan Jawa, tetapi mengembangkan perusahaan-perusahaan perkebunan dan industri pengelolaannya untuk menopang perekonomian praja,” ungkap sejarawan Wasino dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunagaran 1896-1944.

  • Jawa Terbelah Tiga di Salatiga

    MESKI pilar-pilarnya masih kokoh, rumah di Jalan Brigjend Sudiarto Salatiga itu tampak tak terawat. Cat putihnya mulai kusam, plafonnya pecah-pecah. Sementara halamannya biasa dipakai untuk menaruh gerobak-gerobak pedagang kaki lima. Padahal, lokasi rumah itu merupakan tempat ditandatanganinya Perjanjian Salatiga, satu titik penting dalam sejarah kekuasaan tanah Jawa. Masyarakat Salatiga mengenal rumah yang berada di samping Alun-Alun Pancasila itu sebagai Gedung Pakuwon. Menurut Eddy Supangkat dalam Salatiga: Sketsa Kota Lama, nama Pakuwon diberikan karena rumah itu pernah ditinggali pejabat Salatiga yang bergelar “Akuwu”. Menurut Lulut Ayuning Rejeki dalam tesisnya "Perlindungan Hukum terhadap Cagar Budaya di Kota Salatiga" di UKSW , sebenarnya rumah itu belum ada ketika Perjanjian Salatiga ditandatangani. Bangunan yang dulu dipakai kemungkinan berupa rumah joglo yang dibangun dari kayu dan atap rumbia. Rumah dengan dinding-dinding tebal itu kemungkinan baru dibangun pada pertengahan abad ke-19. Sengketa Saudara Perebutan tahta Wangsa Mataram memang rumit. Kisahnya bermula ketika Pangeran Arya Mangkunegara, putra sulung Amangkurat IV, diasingkan ke Srilanka karena melawan VOC. Dengan dukungan VOC, tahta jatuh ke tangan Pangeran Prabusuyasa yang kemudian bergelar Susuhunan Pakubuwana II. Pakubuwana II kemudian membangun Keraton Surakarta. Naiknya Pakubuwana II bukan tanpa perlawanan. Adiknya, Pangeran Mangkubumi, menuntut hak atas tahta itu. Sementara putra Mangkunegara, yakni Raden Mas Said, juga menentangnya sekaligus dendam kepada VOC yang telah membuang ayahnya. Tiga tokoh inilah yang kemudian mengobarkan perang panjang di Jawa pada abad ke-18. Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris, ketika Pakubuwana II wafat pada 1749, ia metitipkan kerajaan pada VOC dan meminta dukungan agar anaknya naik tahta sebagai Pakubuwana III. “Namun paman-paman raja muda itu menolak fait accomli  dan melanjutkan perang,” sebut Lombard. Mangkubumi kemudian mengobrak-abrik Pekalongan (1752) serta merebut Ponorogo dan Madiun. Belakangan, Mangkubumi berhasil diajak berunding VOC dengan siasat devide et impera -nya. Melalui Perjanjian Giyanti pada 1755, wilayah kerajaan dibagi dua untuk Pakubuwana III dan Mangkubumi. Pakubuwana III mendapat kekuasaan atas Surakarta, Banyumas, Blora, Ponorogo, Wonosobo, Kediri dan Blitar. Sementara Mangkubumi mendapat wilayah Grobogan, Madiun, Pacitan, Jipang dan Japan (Mojokerto). Mangkubumi kemudian mendirikan kota baru beserta keratonnya di Yogyakarta. Ia bergelar Sultan Hamengkubuwana I. Meski Pakubuwana III dan Hamengkubuwana I telah berdamai, persoalan belum selesai. Keponakan mereka, Raden Mas Said, masih mengancam tahta keduanya. Raden Mas Said tak mengakui Perjanjian Giyanti karena tak dilibatkan dan tak mendapat bagian apa-apa. Ia juga merasa dikhianati Mangkubumi yang dulu bersama-sama melawan Surakarta dan VOC. Jawa Terbelah Lagi Raden Mas Said kini sendirian. Tapi pangeran yang punya julukan gahar Pangeran Sambernyawa itu ternyata bisa membuat lawannya kewalahan. Padahal lawannya terdiri dari tiga kekuatan: Pakubuwana III, Hamengkubuwana I, dan VOC. Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, pada Oktober 1755 Raden Mas Said berhasil mengalahkan satu pasukan VOC. Setahun setelahnya, ia hampir berhasil membumihanguskan Keraton Yogyakarta. “Pasukan-pasukan dari Surakarta, Yogyakarta, dan VOC tidak sanggup menawan Mas Said, tetapi jelas pula bahwa dia tidak mampu menaklukkan Jawa karena menghadapi lawan gabungan semacam itu,” tulis Ricklefs. Setelah peperangan itu berlangsung selama dua tahun, perundinganpun kembali terjadi. Sebuah pertemuan dilakukan di Kalicacing, Salatiga pada 17 Maret 1757. Empat pihak yang terlibat, yakni VOC, Raden Mas Said, Pakubuwono III, dan Patih Suryanegara yang mewakili Hamengkubuwana I, menghadirinya. Salatiga sendiri dipilih karena merupakan wilayah VOC dan berada di luar Vorstenlanden (wilayah kekuasaan Surakarta dan Yogyakarta). Perjanjian Salatiga membuat Pakubuwana III menyerahkan 4000 cacah tanah, meliputi Karanganyar dan Wonogiri. Sementara Raden Mas Said, menurut Ricklefs, secara resmi mengucapkan sumpah setia kepada Surakarta, Yogyakarta, dan VOC. Meski demikian, belakangan Raden Mas Said membuat satu poros kekuasaan baru. Ia menandai munculnya satu lagi raja Jawa di antara Pakubuwana III dan Hamengkubuwana I. Raden Mas Said kemudian menggunakan gelar Mangkunegara I. “Pada awalnya Mas Said mengaku sebagai vassal Sunan dan mendirikan keratonnya di ibukota rajanya, akan tetapi dalam kenyataan ia membentuk suatu dinasti otonom yang telah bertahan dengan segala kemegahan sampai masa kini, yaitu Mangkunegaran,” jelas Lombard. Sejak itu, Hamengkubuwono I terus berhasrat menyingkirkan Mangkunegara I. Bahkan sejak awal, ia tak menyerahkan sepetak tanahpun serta mencemooh penyelesaian dalam Perjanjian Salatiga. Cita-cita menyatukan Jawa sebenarnya masih berlanjut dan tahta Surakarta mencadi incaran. Namun, diplomasi melalui perkawinan antarkeraton justru menambah rumit persoalan. “Perjanjian tahun 1755 dan 1757 jelas merupakan peristiwa penting dalam sejarah Mataram. Hilanglah impian akan pembentukan kesatuan Jawa yang telah diusahakan oleh raja-raja pertama,” tulis Lombard. Meski permusuhan masih berlanjut, tak ada lagi peperangan hingga 1825. Masa-masa pasca-Perjanjian Salatiga juga relatif damai. Pertanian di Jawa kembali hidup setelah bertahun-tahun porak-poranda karena perang. Kini tempat di mana Perjanjian Salatiga dilaksanakan hampir dilupakan. Kabarnya, pemilik bangunan adalah orang Semarang yang sejak lama dicari Pemerintah Kota Salatiga yang hendak melakukan pemugaran. Jika berhasil dibebaskan, bangunan itu menjadi penting sebagai cagar budaya untuk merawat narasi sejarah Jawa dan Salatiga sendiri.*

  • Bung Karno Jajan

    CIBINONG, Bogor awal tahun 1960-an. Jumari masih ingat “durian runtuh” menghampirinya malam itu. Sekira jam 9, ketika dirinya akan bersiap membereskan dagangan, tetiba sebuah mobil sedan berhenti tepat  di depannya. Dari kaca mobil bagian belakang, seraut wajah yang tak asing lagi baginya muncul. “Hei Mang, itu rambutan rapiah, bukan?” tanya lelaki setengah tua itu dalam bahasa Sunda. Sambil melayani, Jumari mengingat-ingat siapa gerangan orang yang tengah membeli rambutan-nya itu. Begitu ingat, meledaklah kegembiraan pedagang buah-buahan asal Ciawi, Bogor tersebut. “Bapak? Ini teh Bapak Presiden?! Woi aya Bapak Presiden euy! ” teriaknya memberitahu orang-orang yang ada di sekitarnya. Sang presiden hanya tertawa. Sontak orang-orang berkerumun di sekitar mobil tersebut. Dua pengawal kemudian turun untuk mengatur supaya orang-orang yang ingin bersalaman dengan Presiden Sukarno tidak berebutan. Dengan ramah dan tenang, Bung Karno melayani keinginan khalayak. Setelah menanyakan ini dan itu kepada Jumari dan orang-orang, dia kemudian pamit dan melanjutkan perjalanan ke arah Jakarta. “Beliau hanya mengambil 5 ikat rambutan dan langsung dibayar pengawalnya. Padahal kalau mau, saya ingin memberikan semua dagangan saya untuk beliau. Tidak apa juga kalau harus rugi hari itu,” ujar lelaki kelahiran tahun 1932 itu sambil terkekeh. Semenjak muda, Bung Karno memang memiliki kebiasaan ngelayap  untuk jajan makanan. Tradisi itu berlanjut saat dia menjadi presiden RI. Bahkan menurut Guntur Sukarnoputra, tak jarang ayahnya itu mengajak juga putera-puteri-nya untuk berburu makanan. “Bapak selalu mengajak kita keliling-keliling kota Jakarta untuk rileks di malam hari secara incognito,” ungkap Guntur dalam bukunya, Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku. Guntur berkisah suatu hari Bung Karno mengajak dirinya untuk makan di Layar Terkembang. Itu nama suatu restoran sate Madura terkenal saat itu yang letaknya berada di kawasan Cilincing, perbatasan antara Bekasi dengan Jakarta. Sambil menunggu sate dihidangkan, Bung Karno lantas berjalan-jalan di halaman restoran dan saat itulah dia kemudian bertemu dengan seorang anak muda yang tengah berjualan durian. Tanpa ragu-ragu sang presiden langsung menanyakan harga buah kesukannya itu. “Eta kadu sabaraha, Jang? (Itu duren berapa harganya, Jang?) “Eh…Eh…” “Sabaraha?” “Apaan yah?” “Hah…Kau bisa bahasa Sunda?” “ Nd… Ndakkk, Pak… ” “Ah… Dari mana kau punya asal?” “ Di sini-sini saja, Pak…” “Oh, Bapak kira kau berasal dari Priangan… Jadi durennya harganya satu berapa?” Sadar yang tengah menawar dagangannya itu adalah presiden-nya, sang penjual duren malah jadi gugup. “ Harganyaaa…Ah, berapa aja deh, Pak…” “Lho? Yang beneeerrr! Harganya berapa satu?” Sang penjual duren pun pada akhirnya menyebut harga. Setelah cocok, Bung Karno pun memilih sendiri duren-duren itu dan membawanya ke Istana Negara untuk dinikmatinya bersama para pengawal dan para pembantu. Soal berburu makanan ternyata tidak hanya dilakukan oleh Bung Karno di Bogor dan Jakarta saja. Saat dia tengah berkunjung ke luar kota pun, sang presiden kerap melakukan kebiasaannya itu. Priyatna Abdurrasyid (eks Jaksa Agung) masih ingat, bagaimana setiap ke Bandung, Bung Karno selalu singgah di tukang sate ayam favoritnya yang terletak di Jalan Asia Afrika. “Dengan menumpang jip dan memakai kaos putih oblong, celana pendek dan sandal, Bung Karno didampingi (Brigjen) Sabur (komandan Resimen Tjakarabirawa) keluar untuk makan sate,” kenang Priyatna dalam otobiografinya, Dari Cilampeni ke New York: Mengikuti Hati Nurani  (disusun oleh Ramadhan K.H.) Sebelum pergi, kata Priyatna, biasanya Bung Karno akan mencari terlebih dahulu Mayor Jenderal Ibrahim Adjie (Panglima Kodam Siliwangi saat itu) di Pakuan. Begitu bertemu perwira tinggi yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu, Bung Karno tanpa ragu-ragu akan berteriak: “Ji coba beri aku uang seribu rupiah! Aku mau makan sate nih.” Tanpa banyak bicara, Adjie pun akan merogoh saku celananya dan langsung memberikan uang ribuan kepada Bung Karno.*

  • Pekik Merdeka Gaya Soeharto

    Pesawat Hercules mendarat di Bandar Udara Mandai, Makassar. Dengan mengenakan stelan safari dan peci di kepala, Letnan Jenderal Soeharto turun dari kabin. Bagi sang jenderal, Makassar bukanlah tempat yang asing. Dia pernah bertugas di sana sewaktu memimpin Komando Operasi Mandala Pembebasan Irian Barat. Namun, kedatangannya kali ini dalam kapasitasnya yang baru sebagai pejabat presiden.

  • Setelah Serangan Umum 1 Maret

    MELALUI Serangan Umum, selama enam jam kota Yogyakarta direbut oleh TNI dan rakyat yang bergerak serentak sejak pukul enam pagi 1 Maret 1949. Itu membuktikan bahwa Republik Indonesia belum habis, dan tersiar hingga seantero dunia. Meski pada siang hari serdadu Belanda berhasil menguasai kembali Yogya, pukulan telak pada Belanda datang dari medan diplomasi. Di medan pertempuran, Belanda memang mampu mendatangkan bala bantuan dari Magelang pada tengah hari. Mengutip Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro , Komandan Batalyon Infantri V KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) “Andjing NICA” Kolonel Adrianus van Zanten yang mendengar Yogya diserang, segera minta bantuan ke Semarang. Maka datanglah Yonif X “Gadjah Merah” dengan satuan lapis bajanya . K onvoi me reka berangkat dari Magelang ke Yogya pukul 11 siang. “Jam 12 berkobar pertempuran sengit. Pasukan-pasukan kita diperintahkan mundur mengingat perhitungan-perhitungan taktis dan pertimbangan terhadap keselamatan rakyat. Pasukan Andjing Nica ini bila masuk kampung tidak pandang bulu. Siapa saja yang tampak tentu dibunuh walaupun anak kecil yang masih berumur 11-12 tahun,” tulis tim sejarah militer Kodam Diponegoro itu. Kolonel Adrianus van Zanten, Danyon "Andjing NICA" meminta bantuan pasukan "Gadjah Merah" (kiri) untuk merebut kembali Yogyakarta. ( nationaalarchief.nl ). Baca juga: Peringatan Serangan Umum 1 Maret Menuju Hari Besar Nasional Berbekal i nformasi dari peng intai an oleh sebuah pesawat Auster Belanda yang melayang di atas langit Yogya sejak pukul sembilan pagi , dua batalyon Belanda dengan satuan lapis bajanya itu segera mengamankan sejumlah area strategis setelah pertempuran. Sejumlah akses keluar-masuk kota Yogya j u ga diamankan hingga mengakibatkan sejumlah pasukan dari Sub-Wehrkreise (SWK) 105 terjebak di dalam kota. “Masih banyak prajurit yang berkeliaran dan terpaksa menempuh jalan keluar melalui saluran-saluran air bawah tanah atau sembunyi dan bermalam di tengah-tengah penduduk kota, untuk keluar esok harinya. Pasukan-pasukan SWK 105 baru mengundurkan diri dari Maguwo dan Tanjungtirto keesokan harinya, tanggal 2 Maret. Tetapi toh ternyata SO (Serangan Oemoem, red .) ini membawa hasil yang lebih daripada yang diharapkan. Hasilnya mempunyai keuntungan berganda baik dalam bidang psikologis, militer, maupun politik,” tulis tim sejarah itu. KMB Zonder PBB B eredarnya kabar Serangan Umum 1 Maret berdampak kian terpojoknya Belanda di meja diplomasi. Pemerintah Belanda yang sejak Agresi Militer II ( 19 Desember 1948 ) acap mengabaikan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB), mulai kepayahan mempertahankan propagandanya di d un ia internasional bahwa RI sudah musnah. Padahal,pada24 Desember 1948DK-PBB mengeluarkan Resolusi 63. DK-PBB memberi tekanan lagi lewat Resolusi 67 tertanggal 28 Januari 1949. Inti dua resolusi itu adalah Belanda mesti menarik pasukannya dari Yogya, mengembalikan para pemimpin RI, dan menarik garis demarkasi sebagaimana Perjanjian Renville (17 Januari 1948). Saking kesalnya dengan kebebalan Belanda yang enggan mem atuh i resolusi DK-PBB, Parlemen Amerika Serikat sampai menggugat bantuan “Marshall Plan” pemerintah Amerika kepada Belanda. Pada 7 Februari 1949 , Senator Negara Bagian Maine Ralph Owen Brewster be rsama sembilan senator lain mengajukan resolusi ke hadapan Senat Amerika, agar pemerintah Amerika menyetop bantuan apapun kepada Belanda untuk sementara waktu. “Aksi Belanda (Agresi II, red .) ibarat serangan diam-diam sebagaimana Jepang membokong Pearl Harbor, seperti serangan Jerman Nazi ke Belanda sendiri…apakah kita berniat mendukung imperialisme Belanda-Inggris-Prancis di Asia yang justru akan menciptakan iklim sempurna untuk komunisme? Atau kita berniat mendukung para nasionalis republik yang moderat di seantero Asia?” kata Brewster dalam pidatonya di hadapan Senat Amerika, dikutip Paul F. Gardner dalam Shared Hopes, Separate Fears: Fifty Years of US-Indonesian Relations. Baca juga: Agar Perlawanan Yogya Didengar Dunia Senator Ralph Owen Brewster dari Negara Bagian Maine. (Library of Congress). Tekanan juga datang dari negara-negara boneka bentukan Belanda (BFO/Bijeenkomst voor Federaal Overleg).Lewat sebuah komunike pada15 Februari 1949, lima fraksi BFO menuntut Perdana Menteri (PM) BelandaWillem Dreesagar pemerintah Belanda mau tunduk pada Resolusi 67 DK-PBB. Mereka juga menuntut pemindahan Presiden Sukarno dan para pimpinan republik laindari Prapat ke Pulau Bangka dan tak lagi distatuskan sebagai tawanan. Tekanan itu membat PM Drees memanggil Wakil Tinggi Mahkota Louis Beel pada pertengahan Februari. “Di Belanda, Dr. Beel mengadakan sejumlah pertemuan, tidak hanya dengan pemerintah, tetapi juga dengan Parlemen Belanda. Beel dikritik atas sikapnya terhadap seorang petinggi UNCI yang menyalahi etika diplomasi,” ungkap Batara R. Hutagalung dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 dalam Kaleidoskop Sejarah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Baca juga: Panglima Tentara Belanda dari Surakarta (Bagian I) Namun, PM Drees dibantu Beel masih memutar otak mencari cara agar Indonesia tak lepas begitu saja namun di sisi lain Belandaterlihat tetap mematuhi resolusi DK-PBB. Drees lantas mengeluarkan beleid (kebijakan) dalam empat poin: Pertama , Sukarno dkk. akan diberi kebebasan sesuai yang diperlukan untuk bisa berunding. Kedua , Belanda tetap takkan mengembalikan wilayah RI sesuai Perjanjian Renville. Ketiga , Beel diperintahkan membentuk sebuah pemerintahan interim tanpa keterlibatan para pemimpin RI. Keempat , kedaulatan akan diserahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kepada Negara Indonesia Serikat (NIS). Pada 23 Februari, skenario Belanda untuk menggelar Konferensi Meja Bundar (KMB) pun disusun Beel. KMB “versi Belanda” itu rencananya akan dihelat pada 12 Maret 1949 dengan mengundang Sukarno namun zonder campur tangan Komisi PBB. Pemerintah Belanda sekadar memberi notifikasi terkait KMB itu. Setibanya kembali Beel ke Jakarta pada 26 Februari, datang komunike dari Den Haag. “Keputusan penting mengenai sikap mengenai masalah Indonesia. Pemerintah yakin penyelesaian memuaskan semua masalah bergantung pada jalan yang setepat-tepatnya, yaitu mempercepat penyerahan kedaulatan Belanda atas Indonesia kepada suatu pemerintahan federal yang representatif. Agar penyerahan kedaulatan tersebut, yang menurut resolusi dewan keamanan (PBB) tertanggal 28 Januari, harus terlaksana selambat-lambatnya 1 Juni 1950, akan dilakukan jauh lebih cepat dari tanggal ini,” demikian komunike itu, dikutip A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan, Jilid 3: Diplomasi Sambil Bertempur. PM Belanda Willem Drees (kiri) & Wakil Tinggi Mahkota Louis Joseph Maria Beel. ( nationaalarchief.nl ). Maksud dari penyerahan kedaulatan lebih cepat dari tuntutan DK-PBB dalam Resolusi 67adalah Belanda hendak mengoperkedaulatan kepada NIS yang direncanakan pada 15 Juni 1949. Namun,KMB versi Belandaitu kuncinya terletak pada kesediaan Sukarno. “Beel mengisyaratkan mengalah dan akan melaksanakan resolusi DK PBB tanggal 28 Januari 1949, namun dengan cara Belanda dan tanpa melibatkan UNCI. Upaya mengulur waktu terus dilakukan, yakni menunda pengembalian presiden, wakil presiden, dan pembesar Indonesia lainnya ke Yogyakarta,” s ambung Batara. Baca juga: Tentara Kolonial Belanda dalam Pusaran Masa Untuk membujuk Sukarno, Beel melakukannya lewat suratnya kepada Sukarno. Di surat itu alamat penerimanya dituliskan: “Presiden Republik Indonesia”. Surat itu lantas ia titipkan pada Dr. Peter John Koets untuk disampaikan langsung pada Sukarno. “Niat baik” Beel itu diharapkannya akan disambut hangat Sukarno. Dr. Koets tiba di Bangka pada 28 Februari dan menyerahkan surat dari Beel sekaligus undangan KMB di Den Haag. Surat Beel untuk Sukarno itu membicarakan soal penyerahan kedaulatan kepada NIS pada 15 Juni 1949, rencana penarikan pasukan Belanda, dan sisanya akan distatuskan sebagaipasukan asing yang hanya akan bergerak sesuai permintaan pemerintahan NIS. Juga dibicarakan rencana pembentukan Uni Belanda-Indonesia sebagai badan kerjasama terkait kepentingan NIS dan Belanda. Rencana licik Beel itu kandas. Sukarno menolak. Pasalnya, tuntutan agar ibukota RI di Yogyakarta dan pemulangan dirinya dan para pembesar RI kembali ke Yogyakartaenggan dituruti Beel. Sukarno lalumemberikan alasannya lewat surat balasankepada Beel. “Mengingat kedudukan saya dan anggota-anggota pemerintah Indonesia di Bangka sekarang, yaitu terputus dari negara dan rakyatnya dan terpisah dari dasar kekuasaannya selaku pemerintah, saya secara resmi tidak dapat memutuskan untuk menghadiri konferensi itu atau untuk mengirim delegasi atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia. Andaikata kami menerima, kami hanya akan dapat menghadiri konferensi itu selaku orang-orang partikulir. Tanggung jawab seperti itu hanya dapat dipikul oleh pemerintah RI yang dapat menjalankan kekuasaan sepenuhnya di daerahnya dan berkedudukan di Yogyakarta,” kataSukarno, dikutip Batara. Baca juga: Negara Indonesia Timur Dengan berlangsungnya Serangan Umum 1 Maret 1949, para delegasi BFO mulai insyaf bahwa perlawanan RI masih terus bergulir dan fakta itu kontradiktif dengan propaganda Belanda selama ini. Sebelum tersiarnya Serangan Umum, para anggota BFO di luar Jawaminim informasi tentang situasi dan perkembangan perjuangan yang terjadi di Jawa. Mereka baru mendengar penguasaan Yogya selama enam jam dari siaran-siaran luar negeri pada 1 Maret 1949. Sejumlah delegasi BFO yang menjenguk Presiden Sukarno di Pulau Bangka pada 15 Maret 1949. BFO menggelar sidang pada 3 Maret 1949 dan mengasilkan resolusi yang mendesak Beel memulangkan para pimpinan RI ke Yogyakarta. Mereka juga menentang Beel yang bersikeras akan menghelat KMB pada 12 Maret 1949 tanpa keikutsertaan delegasi RI. “Ini tidak berarti bahwa wakil-wakil negara federal tersebut tidak lagi mengharapkan dibentuknya negara federasi yang dengan dukungan Belanda mereka akan menjadi dominan. Tetapi mereka merasa bahwa hal ini tidak akan tercapai kecuali jika pihak (republik) Indonesia diikutsertakan sebagai peserta minoritas (KMB),” ungkap George McTurnan Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia . Baca juga: Panglima Tentara Belanda dari Surakarta (Bagian II–Habis) Rencana KMB skenario Beel itu kian runyam setelah dia tahu BFO kembali bersidang pada 10 Maret 1949. Otomatis, KMB pada 12 Maret batal digelar. Selain BFO menolak turut serta karena tuntutan mereka untuk memulangkan Sukarno dkk. ke Yogya masih ditolak, Belanda mustahil membawa seluruh delegasi BFO dari Jakarta ke Den Haag dalam waktu semepet itu. “Dengan jawaban Presiden Sukarno kepada Beel, sirna sudah harapan Beel mengajak Sukarno-Hatta menghadiri KMB tersebut. Rencana Belanda untuk tetap menggelar KMB ‘versi Belanda’ (12 Maret) juga gagal total setelah Suriname dan Curaçao, salah satu bagian dari Kerajaan Belanda, menolak mengirim delegasi. Ini adalah pukulan terbesar bagi Belanda,” tandas Batara.

  • Melacak Ekonomi Syariah di Indonesia

    BANK Syariah Indonesia (BSI) resmi beroperasi pada 1 Februari 2021. Presiden Joko Widodo berkesempatan membuka langsung operasional bank hasil merger tiga bank syariah BUMN itu. “Hari yang bersejarah bagi perkembangan ekonomi syariah di Indonesia,” kata Jokowi lewat siaran video.

  • Terjebak di Plataran (1)

    Perbatasan Ciamis—Tasikmalaya, awal Maret 1949. Kabar sedih itu datang begitu tiba-tiba. Dari seorang rekannya di MBT (Markas Besar Tentara) Yogyakarta, Letnan Dua Sayidiman Suryohadiprojo mendengar karibnya Letnan Dua Utoyo Notodirjo telah tewas dalam suatu operasi penyerangan yang dilakukan oleh militer Belanda pada 24 Februari 1949 di dukuh Plataran (masuk dalam wilayah Desa Gatak di wilayah Sleman, Yogyakarta). “Sejujurnya saya merasa kehilangan dan langsung menitikan air mata ketika mendapat berita Utoyo telah gugur,” kenang eks kadet Akademi Militer Yogyakarta (MA) angkatan pertama tersebut. Sama seperti Sayidiman, Utoyo merupakan salah satu 5 lulusan terbaik angkatan pertama MA pada 1948. Ketika gugur di Plataran, lelaki yang masih kerabat dekat Kesultanan Solo itu tercatat sebagai perwira penghubung di SWK (Sub Wehrkreise) ke-104, di mana pasukan MA berada. “Dia kerap bolak-balik pelosok-kota Yogya untuk menghadap Komandan Wehrkreise III Letnan Kolonel Soeharto dan Sri Sultan di Istana atau menyampaikan pesan kepada Kapten Marsudi, komandan gerilya kota Yogyakarta,” ungkap sejarawan Moehkardi. Keberadaan Letnan Utoyo di Plataran pada hari nahas itu bisa dikatakan sebagai suatu peristiwa yang tidak disengaja. Dia rencananya hanya singgah sebentar. Karena itu kendati dalam pertempuran tersebut Utoyo merupakan salah satu prajurit TNI yang paling tinggi pangkatnya, namun dia tak memiliki wewenang komando dan kurang dikenal oleh kesatuan-kesatuan yang lain. “Lain cerita jika dia merupakan komandan dari seluruh kesatuan yang ada di Plataran saat itu: saya yakin dia akan lebih bisa memimpin perlawanan secara lebih teratur dan korban di pihak kita tidak harus jatuh begitu banyak,” kata Sayidiman. Insiden di Plataran berawal dengan jatuhnya buku harian seorang VC (Vaandrig Cadet) bernama Abdul Djalil ke tangan militer Belanda. Sang empu buku harian sendiri tewas dalam pertempuran antara pasukan MA dari Peleton H2 dengan pasukan Belanda di Desa Sambiroto pada 22 Februari 1949. Menurut Moehkardi, sejatinya militer Belanda sudah lama mengincar pasukan MA yang mereka anggap sebagai pasukan pilihan ( keur-troepen ). Penyebutan itu dilontarkan oleh Letnan Kolonel F. Scheers, komandan Batalyon I Resimen Infanteri ke-15 Tentara Kerajaan Belanda (KL) dalam bukunya yang berjudul Djokjakarta . “Dengan terampasnya buku harian V.C. Abdul Djalil oleh militer Belanda, jalan untuk menemukan pasukan MA dan menghancurkannya menjadi terang,” ujar eks dosen sejarah di AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) itu. Buku harian sang kadet itu memang secara gamblang menyebut posisi-posisi pasukan TNI yang ada di bawah komando Wehrkreise III. Di antaranya dia menulis bahwa markas SWK 104 ada di Kringinan. Dan memang Desa Kringinan itu kemudian menjadi sasaran utama gerakan pembersihan yang dilakukan anak buah Letnan Kolonel J.Scheers, sebelum kemudian mereka melakukan pengejaran ke Plataran. Soal kemungkinan terjadinya gerakan pembersihan itu bukannya tidak disadari oleh pimpinan SWK 104 Mayor Soekasno.  Dalam rapat yang dilakukan pada 23 Februari 1949, Soekasno telah memutuskan untuk memindahkan markas SWK 104 ke Desa Gatak. Diputuskan pula, sambil melakukan gerakan pindah mereka akan melakukan serangan terhadap suatu pos penjagaan militer Belanda di Bogem pada dini hari 24 Februari 1949 . “Kepada para kadet diperintahkan untuk langsung mencari basis baru di utara sehabis serangan ke Bogem itu,” ungkap Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945—1949. Singkat cerita, begitu selesai menyerang Bogem, Peleton Z  Pasukan MA melaksanakan perintah itu. Namun dalam kenyataannya perintah tersebut tidak sepenuhnya dilaksanakan. Sebagian kadet MA masih juga ada yang kembali ke Kaliwaru. Sesampainya di markas lama mereka tersebut, karena rasa capek dan mengantuk yang sangat luar biasa, mereka tidur dan beristirahat. Hal yang sama juga dilakukan oleh Peleton H. Alih-alih bergegas pindah dari Selomartini, Desa Ngasem, mereka masih sempat tidur-tiduran dan duduk-duduk sembari menunggu hidangan kopi hangat yang tengah dibuat oleh Ibu Carik Selomartini. Dalm situasi seperti itulah tetiba sekira jam 05.30, terdengar serentetan tembakan dari arah barat daya, pertanda patroli Belanda tengah menjalankan aksi. Penghuni dukuh (termasuk Bapak dan Ibu Carik Selomartini) langsung bergegas mengungsi ke arah utara. Para kadet sendiri yang baru beberapa menit beristirahat langsung menyebar. Sementara itu, ketika tembakan dari pihak militer Belanda itu berbunyi, Peleton H2 pimpinan V.C. Nawawi tengah berjalan menuju basisnya di Desa Sindon. Melihat anak buahnya sudah terlihat payah dan kelelahan, maka diputuskan untuk mengirim 10 sukarelawan ke arah sumber tembakan itu. Regu kecil tersebut dipimpin oleh Wakil Komandan Peleton H2, V.C. B. Sormin. Begitu sampai di Desa Gatak, rombongan kecil pimpinan Sormin bertemu dengan Peleton Z. Selanjutnya mereka sama-sama  bergerak ke arah utara hingga sampailah di Plataran. Beberapa saat sebelum tembakan berbunyi, Mayor Soekasno baru saja tiba di Desa Gatak. Dia lantas memerintahkan Kopral Pardi untuk menjerang air. Air masih mengepul ketika terdengar letusan senjata yang cukup nyaring. Cepat-cepat Mayor Sukasno memerintahkan Kopral Pardi untuk menyelidiki dari mana asal tembakan itu. Belum 15 menit berlalu, Kopral Pardi sudah kembali dengan tangan berlumur darah karena terkena tembakan. “Belanda menyerang, Pak!” ujarnya sambil menahan rasa sakit. Mayor Sukasno langsung memerintahkan semua staf-nya (termasuk Letnan Dua Utoyo) agar mundur ke utara, ke arah Kalibulus. Di arah selatan, tembakan terdengar semakin ramai pertanda posisi tentara Belanda semakin mendekat. Begitu rombongan terakhir staf SWK 104 yang dipimpin oleh Letnan Dua Utoyo tiba di Plataran, dari Desa Gatak tentara Belanda yang berasal dari Kompi ke-3 Batalyon 1-15 RI menghujani mereka dengan tembakan gencar. Pasukan MA yang sudah berada di Plataran, secara spontan membalas tembakan itu. Terjadilah pertempuran yang sangat seru. Di tengah hujan peluru itulah terjadi perdebatan sengit di antara para kadet: apakah akan bertahan atau melakukan gerakan mundur. Kedua keputusan itu memang sama sulitnya. Jika bertahan mereka jelas kekurangan orang dan kalah persenjataan. Tapi jika pun melakukan gerakan mundur, mereka mau tidak mau harus melewati medan terbuka  berupa sawah yang akan menjadikan mereka sebagai sasaran empuk tembakan dari darat dan udara. Dalam kondisi panik itu, tetiba muncullah sebuah pesawat Capung (Piper Cub) di atas pertahanan mereka. Setelah berputar-putar mengawasi keadaan di bawah, pesawat kecil lalu menghujani Pasukan MA dengan granat. Otomatis situasi semakin tak terkendali. Tanpa komando, Pasukan MA bergerak panik ke segala arah. “Mengapa tidak kalian tembak saja Capung itu!” teriak Letna Dua Utoyo. Dia merasa kesal dan geregetan dengan situasi yang dilihatnya. Namun untuk mengambilalih komando, jelas Utoyo tidak berwenang. (Bersambung)

  • Politik Dua Kaki Francisco Franco

    GENERALÍSIMO Francisco Franco tersenyum puas. Di markasnya di kota Burgos, diktator fasis Spanyol itu telah menerima kabar resmi dari menteri luar negerinya, Jenderal Francisco Gómez-Jordana, bahwa pemerintah Inggris dan Prancis pada 27 Februari 1939 kompak mengakui dirinya sebagai kepala negara Spanyol yang sah. Sejak Januari, Katalan yang jadi basis kaum Republik sudah direbut golongan Nasionalis. Walau Perang Saudara Spanyol belum usai, Perdana Menteri (PM) Inggris Neville Chamberlain dan PM Prancis Édouard Daladier sudah menyatakan hal di atas kepada masing-masing parlemen pada 27 Februari 1939. Kabar itu disampaikan kuasa usaha Inggris di Burgos, Sir Robert Hodgson, kepada Jenderal Jordana yang meneruskannya ke kuping Franco. “Kemarin malam saat berbicara di Burgos, Jenderal Franco menyatakan: ‘Waktunya telah tiba. Hari ini, Inggris mengakui (pemerintahan) kita. Esok akan tiba giliran seluruh dunia’,” demikian laporan suratkabar The Manchester Guardian , 30 Februari 1939. Dua negara besar itu mulanya berpihak pada kaum Republik secara tidak langsung. Sejak 1936 Prancis bahkan membuka pintu perbatasannya untuk ratusan ribu pengungsi kaum Republik dari Katalan. Baca juga: Anarkisme dalam Perang Sipil Spanyol 1936 Francisco Franco seolah menjalankan politik dua kaki di antara Sekutu dan Blok Poros. (Biblioteca Virtual de Defensa). Ekonomi menjadi faktor utama yang membuat Franco tak memutus hubungannya dengan Inggris. Franco masih butuh menggandeng Inggris dan Amerika Serikat demi memulihkan negerinya usai tiga tahun dilanda perang saudara. Terlebih, di pemerintahannya masih banyak bercokol golongan aristokrat yang terbagi antara pro-Inggris dan pro-Jerman. Jerman dan sekutunya, Italia, banyak membantu langsung Franco dalam perang saudara. Sementara di sisi lain, Amerika dan Inggris jadi mitra dagang lewat ekspor-impor terbesar bagi Spanyol. Dengan pengakuan tersebut, Inggris dan Prancis jadi yang terakhir mengakui kedudukan Franco atas Spanyol sebelum pecahnya Perang Dunia II. Hal itu membuat Franco bangga. Kebanggaan Franco kian lengkap setelah merampungkan Perang Saudara Spanyol tepat pada 1 April 1939 sehingga mengak h iri Republik Spanyol II secara total. Suap Inggris dan Kejengkelan Hitler Saat mesin-mesin perang Jerman sudah mendobrak perbatasan Polandia pada 1 September 1939 yang membuka Perang Dunia II, Franco masih belum menentukan sikap. Ia sekadar menyatakan simpatinya kepada sesama pemimpin fasis, Hitler dan Benito Mussolini, kendati belum mau ikut Blok Poros. Ketika Prancis mulai diinvasi Jerman pada Mei 1940, Franco menetapkan kebijakan netral walau tetap bersimpati pada Hitler dan Mussolini. Pada 19 Juni, Franco mengirim surat kepada Hitler yang isinya adalah kemungkinan Spanyol untuk ikut ke Blok Poros meski dengan mengajukan syarat. Saat itu Franco sudah berniat merebut kembali Gibraltar dari Inggris. Itu hanya mungkin dilakukannya jika Spanyol mendapat bantuan besar dari Jerman. Pun dengan nafsu Franco untuk mencaplok Kepulauan Canary, Maroko Utara, dan Koloni Prancis di Kamerun. Hitler tentu senang jika sang generalísimo mau bergabung dengannya di Blok Poros. Melalui kawat, kedutaan besar masing-masing lalu mengatur hari-H pertemuan antara Franco dan Hitler. Hanya saja, Hitler tak mengendus kedutaan dan dinas intelijen Inggris, MI6, berusaha keras menarik Franco agar tak meninggalkan kebijakan netralnya. Baca juga: Spanyol 1936 Catatan laporan MI6 perihal itu baru dibuka ke publik pada 2013. Sebagaimana yang dihimpun The Guardian , 23 Mei 2013, laporan itu berisi komunike Duta Besar Inggris untuk Spanyol, Sir Samuel Hoare, kepada Kementerian Luar Negeri Inggris sejak Juni 1940, seiring munculnya niat Franco berpihak pada Hitler. “Saya pribadi mendesak pemerintah untuk memberi izin tanpa halangan lagi, dan jika Anda ragu, mohon dikonsultasikan dengan perdana menteri. Masuknya Spanyol dalam perang akan bergantung pada tindakan cepat kita,” tulis Dubes Hoare dalam salah satu dokumen yang dipublikasikan itu. Dubes Inggris untuk Spanyol, Sir Samuel Hoare (kiri) & Juan Alberto March Ordinas. (Library of Congress/ canverga.com ). Hoare dan agen-agen MI6 yang berkeliaran di Spanyol sudah membidik sekitar 30 jenderal di lingkaran terdekat Franco untuk disuap. Namun usaha itu perlu modal yang mencapai 14 juta dolar Amerika (kini sekira 200 juta dolar). Rencananya, uang suap itu akan dialirkan lebih dulu ke sebuah rekening bank Swiss di New York. Aliran dananya akan diatur Juan March, pengusaha cum agen ganda Spanyol-Inggris, untuk kemudian dikirim lagi ke rekannya di Madrid, Jose Jorro Andreo dan Rasado Silva Torres, sebelum dibagi-bagikan kepada 30 jenderal. “Aliran 14 juta dolar itu sempat tertahan di New York. Otoritas Amerika sempat menyangka uang itu akan digunakan March untuk mendukung Hitler. Tetapi Duta Besar Inggris di Washington meyakinkan Presiden (Franklin D.) Roosevelt bahwa kepentingan militer Inggris bergantung pada dibukanya aliran dana itu,” tulis sejarawan Pere Ferrer dalam Juan March: El hombre más misterioso del mundo (terj. Juan March: The Most Mysterious Man in the World ). Baca juga: Kisah Coca-Cola di Bawah Panji Nazi Hampir dua tahun beku, aliran dana di rekening milik March itu akhirnya cair setelah pemerintah Amerika membuka rekening tersebut pada 1942. Setelah itu barulah upaya penyuapan 30 jenderal dicoba. Namun, hanya kurang dari setengah mereka yang berkenan mengantongi uang suap yang besarnya antara 3-5 juta dolar untuk masing-masing. Ketika aliran uang itu masih dibekukan pihak Amerika, Franco dan Hitler sudah sempat bertemu di Gare d’Hendaye, sebuah stasiun dekat perbatasan Spanyol-Prancis, pada 23 Oktober 1940. Pertemuan delapan mata yang berlangsung selama tujuh jam itu turut dihadiri Menlu Ramón Serrano Súñer (Spanyol) dan Joachim von Ribbentrop (Jerman). Adu monolog menyeret pertemuan Hitler dengan Franco hingga tujuh jam. (EFE). Hitler percaya diri bisa menarik Franco ke kubunya dalam perang melawan Sekutu. Toh dia punya piutang budi pada Franco berupa dukungan militer (darat, laut, udara) terhadap Franco ketika Perang Saudara Spanyol. Yang tak diperkirakan Hitler, Franco ternyata lihai bermonolog sebagaimana dirinya. “Dia (Súñer) memulai diskusinya dengan menyatakan: ‘Spanyol tidak bisa memasuki peperangan hanya untuk bersenang-senang.’ Dia ingin ada jaminan di muka. Dia juga berterimakasih kepada Hitler atas jasa Jerman terhadap Spanyol dalam perang saudara,” tulis Stanley G. Payne dalam Franco and Hitler: Spain, Germany, and World War II . Saat gilirannya berbicara, Hitler bermonolog bahwa Spanyol harus memutus hubungan diplomatiknya dengan Inggris mengingat sebentar lagi Inggris akan ambruk. Inggris hanya bisa bertahan jika Amerika mulai mengintervensi. Kemungkinan kekalahan Inggris akan membuka segala kemungkinan tentang kepentingan kedua negara di gugus-gugus kepulauan di Atlantik dan Afrika Utara. Baca juga: Halt Order dari Hitler Mencegah Sekutu Musnah di Dunkirk Hitler paham bahwa Franco menuntut bisa mencaplok Maroko Utara dan koloni Prancis di Kamerun. Namun Hitler menegaskan kepada Franco bahwa Jerman masih terikat persekutuan dengan Prancis Vichy yang masih memegang koloni-koloninya di Afrika, termasuk Kamerun. Hitler ingin Franco tak mengganggu gugat Vichy karena dibutuhkan untuk melawan Sekutu. “Yang tidak diduga, Franco juga membalas monolog panjang. Dia mengungkit sisi historis Spanyol di Maroko. Franco juga bermonolog tentang pengalaman militernya selama di Maroko, sampai membuat Hitler tampak bosan. Akhirnya pembicaraan panjang itu berakhir dengan diikuti makan malam di gerbong makan Hitler,” imbuh Payne. Hasil yang didapat Hitler dari pertemuan panjang itu nyaris nihil. Keduanya hanya bertukar tanda tangan di atas perjanjian rahasia. Franco berkomitmen akan memasuki perang yang waktunya akan ditentukannya sendiri. Sementara, Hitler sekadar diizinkan menggunakan pelabuhan-pelabuhan di Spanyol untuk armada kapal perang dan kapal selam Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman). Hal itu bikin jengkel Hitler. Beberapa hari setelahnya, Hitler pun “curhat” pada koleganya, Benito Mussolini, tentang pembicaraan membosankannya dengan Franco. “Saya lebih baik dicabut tiga atau empat gigi daripada berurusan dan bicara dengan orang itu (Franco, red. ) lagi!” ujar Hitler kepada Mussolini, dikutip Payne. Divisi Sukarelawan Spanyol Franco pada akhirnya tak secara resmi bergabung ke Blok Poros. Sebagai balas budinya atas bantuan Jerman dalam Perang Saudara, Franco memberi restu dibentuknya satu divisi sukarelawan, División Azul (Divisi Biru). Divisi yang dibentuk pada Juni 1941 itu berisi 18 ribu personel. Mayoritas merupakan kader Falange (Fasis Spanyol) dan para kadet Sekolah Militer Zaragoza, ditambah kekuatan udara Escuadrilla Azul (Skadron Biru). Divisi ini dikomandani Jenderal Agustín Muñoz Grandes. “Gagasan sebuah unit sukarelawan itu diajukan Suñer, menteri luar negeri yang juga presiden Komite Sentral Politik Falange. Pembentukannya punya dua tujuan: memerangi komunisme dan di saat yang sama, meningkatkan pengaruh Falange di Eropa,” ungkap Carlos Caballero Jurado dalam Blue Division Soldier 1041-1945: Spanish Volunteer on the Eastern Front. Baca juga: Laskar Muslim Hitler di Afrika Utara Sesuai tujuan awal pembentukannya, Súñer menegaskan ke pihak Jerman bahwa divisi ini khusus untuk memerangi Uni Soviet dan bukan Sekutu, karena Spanyol masih punya hubungan dagang dengan Amerika dan Inggris. Divisi berjuluk “Banderas” itu diberangkatkan dari Madrid ke Grafenwöhr, Jerman pada 13 Juli 1941. “Kawan-kawan seperjuangan! Menjelang keberangkatan kalian, kami datang untuk perpisahan ini dengan rasa bahagia dan iri, karena kalian akan membalas kematian para saudara kita; karena kalian akan mempertahankan nasib peradaban; karena kalian akan menghancurkan sistem barbar jahat dan tidak manusiawi dari komunisme Rusia… Heroisme Divisi Biru akan menumbuhkan lima mawar (Falange) di tanah Rusia yang gersang. Arriba España ! Viva Franco!” seru Súñer dalam pidatonya, dikutip Jurado. Pemberangkatan División Azul untuk dilatih di Jerman. (Kutxa Fototeka). Setibanya di Grafenwöhr, “Banderas” dilatih selama lima pekan sebelum dilebur ke Divisi Infantri ke-250 Angkatan Darat Jerman, yang jadi bagian Grup AD Tengah. Mereka mulanya akan diikutsertakan ke Pertempuran Moskow, namun pada September 1941 mereka “dimutasi” ke pasukan AD ke-16 yang jadi bagian Grup AD Utara, untuk diperbantukan dalam Pengepungan Leningrad (8 September 1941-27 Januari 1944). Seiring waktu, Divisi Biru terus ketambahan pasukan dari Madrid hingga puncaknya punya 45 ribu personel. Namun mulai musim semi 1943, mereka terpaksa dipulangkan Franco. Selain karena tekanan dari para jenderalnya yang telah disuap Inggris, keputusan Franco itu juga merupakan kulminasi dari desakan Vatikan, serta ancaman Amerika dan Inggris yang akan mengembargo Spanyol. Baca juga: Badai Tentara Merah Menyapu Pasukan Baja Jerman Surat edaran resmi pemerintah Spanyol untuk menarik mundur Divisi Biru baru keluar pada 3 November 1943. Kendati begitu, tak semua prajurit di Divisi Biru mau dipulangkan. Dari sekira 45 ribu personel miliknya, Divisi Biru kehilangan hampir lima ribu personil karena tewas di pertempuran. Sekira tiga ribu di antaranya yang merupakan simpatisan Falange, tetap bertahan dengan rekan-rekan Jerman mereka. Pasukan sukarelawan Spanyol dalam Pengepungan Leningrad. (Biblioteca Virtual de Defensa). Tiga ribu yang tersisa itu lantas membentuk unit baru, Legión Azul (Legiun Biru), dan ditempatkan di bawah Waffen-SS (paramiliter Jerman). Para anggota di masing-masing peleton lalu disebar lagi ke Latvia. Di sana mereka bertempur bersama Resimen Brandenburger, unit bentukan Abwehr (intelijen Jerman), Divisi Infantri ke-121, dan Divisi Grenadier SS ke-28 “Wallonien”. Sementara yang lainnya tetap di Leningrad bersama Divisi Gunung ke-3. Tak hanya para jenderal Jerman, Hitler pun terkesan dengan kegigihan para sukarelawan Spanyol yang tersisa itu. Pada Januari 1944, Hitler menganugerahkan mereka Erinnerungsmedaille für die Spanischen Freiwilingen im Kampf gegen den Bolschewismus (Medali Sukarelawan Spanyol). Baca juga: Neraka Hitler di Stalingrad “Serdadu Spanyol tak pernah mundur satu inci pun dari tanah yang mereka pertahankan. Tak terbayangkan betapa pemberaninya mereka. Mereka jarang bersembunyi, mereka menjemput maut. Saya tahu bahwa pasukan kami selalu senang memiliki saudara Spanyol di sektor mereka masing-masing,” puji Hitler, dikutip Heinrich Heim, Henry Picker, dan Martin Borman dalam Tischgespräche im Führerhauptquartier (terj. Hitler’s Table Talk ). Hingga akhir perang, dari tiga ribu sukarelawan Spanyol itu hanya tersisa 372 serdadu hidup. Sebanyak 286 di antara mereka sempat ditawan Uni Soviet, sebelum akhirnya dipulangkan pada 2 April 1954.

  • Menggali Pengetahuan Lokal dari Tanaman

    HUBUNGAN masyarakat lokal dengan tanaman menjelma dalam lingkup spiritual, filosofis, dan pemikiran. Pengetahuan tradisional itu tercermin dalam penamaan lokal tanam-tanaman. "Biasanya masyarakat mengidentifikasi tumbuhan dari bau, rasa, atau hal-hal menonjol dari tumbuhan itu. Ini membuat kita memahami alam pikirannya,” kata Fathi   Royyani ,  peneliti etnobotani pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam acara ngobrol bareng peneliti dengan judul “Strategi Mengatasi Kepunahan Bahasa Daerah Melalui Koleksi Tumbuhan” yang diselenggarakan LIPI,  live di Instagram, Kamis (25/02/2021).  Tumbuhan penting bagi kehidupan sebagai sumber bahan pangan, papan, sandang, obat, kerajinan, dan kegiatan sosial. Namun, tumbuhan juga berperan penting dalam perkembangan budaya masyarakat. Setiap masyarakat lokal memiliki pengetahuan yang berbeda dalam menggunakan dan mengelola sumber daya alam sesuai adat dan budayanya. “Kita orang Indonesia, bangsa ilmu pengetahuan, yang sudah kuat ilmu pengetahuannya,” kata Fathi.  Kisah di Balik Penamaan Lokal Fathi menceritakan kisah lokal satu jenis tanaman. Dahulu, seorang naturalis Belanda datang ke Jawa Barat. Dia pergi ke hutan membawa orang setempat sebagai pemandu. Lalu dia melihat satu tumbuhan. “Orang Belanda itu bertanya, 'ini apa?' Pemandu lapangannya tak ada yang berani menjawab,” kata Fathi.  Ternyata, kata Fathi, nama tumbuhan itu menurut orang Sunda tak pantas untuk diucapkan. “Ada yang nyeletuk : ‘ Pada era , sir !’  Era , bahasa Sunda artinya malu, jadi pada malu maksudnya,” kata Fathi. Mendengar perkataa itu dicatatlah nama tanamannya sebagaimana yang didengar orang Belanda, yakni Paederia foetida . Tanaman tak berkayu ini berasal dari Asia Timur dan Asia Selatan. Ia tumbuh merambat di permukaan tanah, pagar, atau pohon inang.  Fathi mengatakan, tumbuhan yang dimaksud lebih dikenal dengan sebutan daun kentut. Dalam bahasa Sunda, ia disebut daun kahitutan karena daunnya mengeluarkan bau tak sedap seperti kentut. “Ceritanya begitu. Karena pemandunya pada malu ngomong  kentut, tak ada yang mau menjawab. Mungkin dulu etikanya begitu,” kata Fathi. Kisah lain tentang maja, buah bulat berwarna hijau yang berkaitan dengan asal-usul Kerajaan Majapahit. Nama ini muncul dalam Serat Pararaton . Waktu Raden Wijaya membabat alas Trik untuk permukiman, pengikutnya memakan buah maja muda yang rasanya pahit. Daerah itu pun kemudian dinamakan Majapahit. "Dulu mungkin dinamai sambil marah-marah karena pahit. Kini menjadi nama toponimi dan kebanggaan karena daerah itu tumbuh menjadi kerajaan yang besar dan kuat," kata Fathi. Kontribusi nama daerah di Nusantara terhadap nama ilmiah tumbuhan begitu banyak. Misalnya, nama ilmiah durian, Durio zibethinus , diambil dari bahasa lokal, yakni “durian” .  “Karena sangat mudah diucapkan. Jadi kita harus bangga,” ujar Fathi. Pengetahuan lokal tak hanya ditemukan dari bagaimana mereka menyebut jenis tanaman. Tapi juga berkaitan dengan budaya agraris. Misalnya, orang Jawa menyebut alat membajak sawah dengan istilah luku. Sementara Luku atau Lintang Luku dipahami masyarakat Jawa sebagai patokan datangnya musim untuk memulai menanam benih pertanian di lahan tadah hujan. Lintang Luku  dalam ilmu astronomi dikenal sebagai rasi Orion. “ Luku adalah gambaran dari orang dulu ketika musim tanam. Saat itu mereka baru mulai bertani, membajak sawah, dan lainnya,” kata Fathi.  Penyebutan nama tanaman atau istilah pertanian bisa jadi berbeda di setiap daerah. Ini menandakan ekspresi pengetahuan yang berbeda. “Ini terkait dengan banyak hal sebagai ekspresi pengetahuan tradisional yang luar biasa,” kata Fathi.  Refleksi Pengetahuan Lokal Fanny Henry Tondo, peneliti etnolingustik pada Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI, menambahkan, istilah lokal pada tanaman juga meliputi bagian-bagian tanaman itu. “Seperti pohon kelapa, ada puluhan, mulai dari ujung daun ada istilah berbeda sampai di akar,” kata Fanny.  Dalam tulisannya berjudul “Bahasa Minoritas Hamap dalam Perkebunan Jagung: Tinjauan Etnolinguistik”, yang terbit di Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan  Vol. 18 No. 2, Juni 2012, Fanny menjelaskan bahwa bahasa menjadi refleksi dari pengelolaan perkebunan jagung yang masih sangat tradisional. Fanny menunjukkan bagaimana bahasa lokal Hamap masih tetap dipakai dalam budidaya tanaman jagung di masyarakat itu. Itu baik dalam proses penanaman jagung, peralatan yang digunakan, bagian-bagian tanaman, jenis jagung yang ditanam, sampai pada nyanyian tradisional yang dituturkan pada saat menanam jagung.  Padahal bahasa Hamap dikategorikan sebagai bahasa minoritas yang terancam punah. Disebut minoritas karena jumlah penuturnya saat ini diperkirakan tinggal sekira 1.000 orang, yakni bahasa Hamap yang berada di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. “Pengetahuan tentang istilah dalam proses penanaman jagung masih tetap dipertahankan dan ada dalam kognisi orang Hamap sebagai stock of knowledge ,” tulis Fanny.  Perkebunan merupakan salah satu yang terpenting dalam rantai perekonomian orang Hamap. Pada umumnya orang Hamap yang tinggal di Pulau Alor mempunyai mata pencaharian sebagai petani.  Jagung atau yang mereka sebut bate  adalah sumber bahan makanan pokok. Melalui perkebunan jagung orang Hamap bisa menopang ekonomi keluarganya. “Selain untuk dimakan sendiri, jagung juga biasanya dijual ke pasar,” kata Fanny. Nasihat Hidup dan Kearifan Lokal Kedekatan manusia dengan tanaman membuat nilai tanaman tak lagi sebagai penyokong kebutuhan pokok dan ekonomi. Seperti ditulis Imam Budi Santosa dalam Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan ,   bahwa hubungan tumbuhan dengan masyarakat mendorong peningkatan pemahaman terhadap makna yang di kandungnya. Orang Jawa menjadikan tanaman sebagai nasihat dan kearifan hidup. “Diangkat dari hasil pengkajian mereka terhadap sikap perilaku tumbuhan yang hidup sekitarnya,” tulis Imam. Misalnya dalam peribahasa Jawa banyak ditemukan simbolisasi tumbuhan. Enggak-Enggok lumbu artinya bergoyang-goyangnya daun keladi. Peribahasa ini menggambarkan orang yang tak punya pendapat pribadi yang kokoh. “Sebuah sikap yang dinilai buruk di Jawa,” tulis Imam.  Jamur tuwuh ing waton berarti cendawan tumbuh di bebatuan. Jamur merupakan salah satu tumbuhan yang menyimbolkan kebahagiaan. Peribahasa ini menyiratkan bahwa kebahagiaan mustahil didapat jika hanya bermodal kemampuan ala kadarnya. Karenanya, kata Fathi, pengetahuan lokal terbaik bisa digali dari bahasa daerah masing-masing. Melestarikan istilah dalam tanaman adalah salah satu cara menjaga bahasa daerah dari kepunahan. “Galilah filosofinya karena ada rekaman sains di sana. Kita bisa gali, meriset apapun dari sana,” kata Fathi.*

  • Ç'est la vie, Tedjabayu!

    SORE itu kami menemui Tedjabayu di Kedai Sagam (Sang Ahli Gambar), sebuah kedai kopi yang namanya diambil dari julukan ayah Tedja, S. Sudjojono. Seorang kawan tengah mencari informasi tentang kakeknya, dosen UGM yang hilang lalu dibunuh pasca-1965 dan kuburannya ditemukan tahun 2000 oleh YPKP 65 di Wonosobo. Tedjabayu mengenal sang kakek, tapi tak bisa banyak bercerita. Sebagai gantinya, Tedjabayu membagikan pengalamannya yang telah ia tulis menjadi memoar namun masih mencari penerbit. Kisahnya dimulai dari Rabu, 20 Oktober 1965. Hari yang tak pernah disangka-sangka oleh Tedjabayu. Sejak pagi, ia telah berada di gedung Chung Hwa Tjung Hwi (CHTH) di Jalan Sonobudoyo, Yogyakarta. Tedjabayu dan para anggota Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) berjaga untuk mengamankan gedung yang dipinjam Universitas Res Publica (Ureca) itu dari ancaman massa demonstrasi ganyang PKI. Suasana makin riuh siangnya. Massa di depan gedung meneriaki mereka, “ganyang PKI, ganyang PKI, bunuh PKI.” Tak berapa lama kemudian, Tedja dan 126 kawannya ditangkap Batalyon F untuk diamankan dan diserahkan kepada polisi. Mereka lalu digiring ke penjara Wirogunan. “Masih nyanyi-nyanyi. Kita gayanya kayak model zaman aksi sepihak gitu. Aksi sepihak kan mesti nyanyi-nyanyi. Terus sebentar kemudian bebas gitu,” kenang Tedjabayu, 26 Januari 2020 lalu. Tedjabayu dan kawan-kawannya tetap santai karena mengira akan dibebaskan tak lama kemudian. Namun perkiraan mereka meleset. Wirogunan baru permulaan yang kelak membawa mereka dari penjara satu ke penjara lainnya. “Gak tahunya 14 tahun,” katanya sambal terkekeh. Tedjabayu lahir pada 3 April 1944 di Jakarta. Kedua orang tuanya, Sudjojono dan Mia Bustam, sama-sama pelukis dan anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Nama Tedjabayu diberikan oleh Mia Bustam yang terinspirasi kisah Jawa Kuno, Sri Tanjung. Lahir dari ayah dan ibu yang berideologi kiri membawa Tedjabayu muda ke haluan yang sama. Ketika kuliah di UGM, ia bergabung dengan CGMI. Meski demikian, ia membantah CGMI adalah sayap PKI. Menurut Tedjabayu, cap PKI pada CGMI bermula pada Kongres CGMI di Jakarta tahun 1965. Pada kongres itu ditetapkan bahwa CGMI adalah organisasi mahasiswa revolusioner, anggota PKI, dan non-PKI. “Nah terus (CGMI) dicap (PKI). Sudah,” terangnya. Keanggotaannya dalam CGMI kemudian membawa Tedjabayu menjajaki bui demi bui. Dari Wirogunan, ia dilempar ke Ambarawa, Nusakambangan hingga akhirnya ke kamp Pulau Buru. Tedjabayu yang kala itu masih berusia 21 harus menjalani beratnya kehidupan penjara meski ia, sama seperti ribuan tapol lain, tak pernah diadili. Tedjabayu banyak bercerita tentang Nusakambangan. Di Nusakambangan, katanya, para tapol iseng-iseng menghitung jumlah butir jagung yang dibagikan setiap harinya. Makin hari jumlah butirnya menurun. Kadang 160 butir, kadang 150 butir, hingga hanya 130 butir. “Kita rata-rata, unit-unit lain kita tanya, berapa? 144 butir sehari. Karena itu ya ada yang meninggal karena kelaparan,” ungkap Tedjabayu. Di saat sulit seperti itulah Tedjabayu memahami bermacam-macam sifat asli seseorang. Ada yang egois, ada yang militan hingga akhir hayat. Ada yang pelit ketika mendapat kiriman makanan dari keluarga, ada pula yang selalu menjunjung tinggi solidaritas dan perkawanan. Suatu hari, ketika Tedjabayu tengah berada di ruang tempo (ruang untuk orang sakit) karena penyakit kulit scabies, seorang kawan meminta bantuannya untuk dipapah. Tedjabayu mengingatkan bahwa sang kawan masih sakit, jadi lebih baik beristirahat. “ Ora, koyone aku ki wes ora  kuat. Aku arep  pamit karo   konco - konco . (Tidak, sepertinya aku sudah tidak kuat. Aku mau pamit sama teman-teman.),” kata kawan itu. Bersama seorang kawan lainnya Tedjabayu lalu menggandeng orang itu keliling ke kamar-kamar. Namun, baru sampai kamar nomor tiga, orang itu jatuh, esoknya meninggal dunia. “Ada lagi satu yang gila. Sakit keras, kelaparan, tiba-tiba teriak. Tahu nggak lagu apa? Lagu ‘Internasionale’,” kata Tedjabayu. Tedjabayu dan tahanan lain lalu mengingatkannya bahwa lagu ‘Internasionale’ dilarang. Akhirnya ia menyanyi dengan lirih, makin lama makin pelan, kemudian meninggal dunia. Dua peristiwa itu, katanya, akan selalu ia ingat. Tentang bagaimana para pemuda kukuh dengan militansinya. Dari Nusakambangan, Tedjabayu mendapat giliran berangkat ke tanah pembuangan Pulau Buru pada 1970. Sembilan tahun ia diasingkan di sana bersama ribuan tapol lain. Tedjabayu baru dibebaskan pada November 1979. Di Kodim Jakarta Barat, tempat Tedjabayu dan kawan-kawannya dilepaskan, ia melihat sang ibu mengenakan jarit menjemputnya. Tedjabayu mengira ibunya akan menangis cengeng karena kembali bertemu si anak sulung yang 14 tahun tak pulang setelah berpamitan mengamankan gedung Ureca. Tetapi ia salah. “Ya ini hidup, Dja! Gitu. Bahasa Prancis dia bilang: Ç'est la vie, Dja !” kenang Tedjabayu. Itulah pengalaman hidup paling berharga Tedjabayu yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa. Bebas dari penjara Orde Baru, Tedjabayu kembali menyambung harapan. Ia sempat bekerja untuk Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Ia juga pernah menjadi komisaris Kantor Berita Radio 68H . Sore itu, Tedjabayu terlihat sehat. Meski rambut dan kumisnya sudah putih, ia tak seperti orangtua yang ringkih. Ingatannya dan minatnya pada beragam topik mengesankan. Kami lalu lanjut mengobrol, dari soal intelijen hingga kopi. Namun, obrolan mengasyikkan seperti itu belum kami dapati lagi sejak itu. Kami justru mendapat kabar mengagetkan: Tedjabayu meninggal dunia pada Kamis, 25 Februari 2021 di Jakarta. Padahal, memoarnya, Mutiara di Padang Ilalang , belum lama terbit. Selamat jalan, Mutiara.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page