Hasil pencarian
9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Palagan Terakhir di Eropa
PERAYAAN “VE Day” ( Victory Europe ) atau Hari Kemenangan Perang Dunia II di Eropa ke-75 terasa begitu berbeda pada Jumat (8/5/2020). Tak ada parade maupun festival mengenang heroisme Sekutu mengenyahkan Nazi di Eropa. Jalan-jalan kota London, Inggris yang biasanya disesaki lautan manusia, kini sunyi mengingat negeri Ratu Elizabeth II itu masih bergelut dengan pandemi virus corona. Perayaan VE Day tetap bergulir sesuai protap-nya. Pada pukul 08.40 pagi waktu Inggris, papan-papan iklan di Piccadilly Circus memajang poster-poster VE Day. Pesawat-pesawat tempur RAF (AU Inggris) tetap beratraksi di langit kota Edinburgh hingga Cardiff City. Setelah meletakkan karangan bunga di Westminster Hall pada pukul 11 pagi, Ketua Parlemen Sir Lindsay Hole tetap membacakan kembali pidato Perdana Menteri Winston Churchill 75 tahun lampau. Rangkaian prosesi perayaan itu bakal ditutup pidato Ratu Elizabeth II di Istana Windsor pada pukul 9 malam sebagaimana yang dilakukan ayahnya, Raja George VI, di tempat dan waktu yang sama via radio. PM Boris Johnson mengungkapan rasa syukur dan terimakasihnya lewat surat. “Pada perayaan kali ini, kita menghadapi perjuangan baru melawan virus corona yang menuntut spirit dan ketahanan nasional yang sama seperti yang Anda (para veteran PD II) alami 75 tahun lalu. Kita tidak bisa memberi penghormatan dengan parade dan selebrasi di jalan-jalan seperti sebelumnya. Namun izinkanlah kami sebagai kompatriot Anda yang bangga, menjadi orang pertama yang berterimakasih dari hati yang paling dalam. Anda semua akan selalu dikenang,” ungkap Johnson, dikutip Daily Mail , Jumat (8/5/2020). Pesawat-pesawat tempur RAF beratraksi di atas kota London dalam perayaan ke-75 VE Day (Foto: raf.mod.uk ) VE Day 8 Mei 1945 menandai berakhirnya PD II di Eropa (9 Mei untuk Uni Soviet/Rusia dan negara-negara Eropa Timur). Momen itu ditandai dengan dihentikannya aksi tembak-menembak baik oleh pihak Sekutu maupun Jerman Nazi, menyusul ditandatanganinya penyerahan tanpa syarat pada pukul 02.42 siang CET (Waktu Eropa Tengah) di sebuah gedung sekolah yang dijadikan markas SHAEF (Pasukan Ekspedisi Sekutu di Reims), Prancis. Dalam dokumen penyerahan yang ditandatangani Generaloberst (Jenderal-Kolonel) Alfred Jodl (kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Jerman), Jenderal Walter Bedell Smith (kepala Staf Pasukan Ekspedisi Sekutu), Jenderal Ivan Susloparov (wakil Markas Komando Tinggi Soviet), dan Mayjen François Sevez (Prancis) itu dinyatakan semua unit bersenjata Jerman wajib menghentikan tembak-menembak dan memancang bendera putih mulai 8 Mei pukul 11.01 malam CET. Namun, implementasinya di lapangan berbeda. Di Jerman sendiri di mana Sekutu dan Soviet sudah menjepit Jerman-Nazi, pertempuran masih terjadi. Yang tak banyak diketahui publik saat itu, sebuah palagan masih terjadi hingga 20 Mei di Texel, salah satu pulau di Kepulauan Wadden, utara Belanda. Pembantaian Serdadu Jerman Yang dimaksud adalah Pertempuran Texel atau Pemberontakan Georgische Legion (Legiun Georgia), 5 April hingga 20 Mei. Diungkapkan Steven J. Zaloga dalam The Atlantic Wall: Belgium, The Netherlands, Denmark and Norway, volume 2 , mulanya Pulau Texel dijadikan Jerman sebagai salah satu bagian dari kantong pertahanan “Tembok Atlantik”. Sejak September 1943, pulau itu ditempati 800 personil Jerman beretnis Georgia dalam unit Batalyon ke-882 “Königin Tamara” (Ratu Tamar). Batalyon dengan perwira tertinggi etnis Georgia, Letnan Shalva Loladze, itu dibentuk di Kruszyna, Polandia pada Juni 1943. Personilnya direkrut dari eks Tentara Merah beretnis Georgia yang jadi tawanan perang sebagai imbas kesuksesan Jerman di awal Operasi Barbarossa atau invasi ke Uni Soviet. “Mereka pasukan dari Republik Sosialis Soviet Georgia yang ditawan di front timur. Kemudian diberi pilihan, antara tetap jadi tawanan perang untuk kemudian disiksa dan dibiarkan mati kelaparan atau ikut ‘membebaskan diri’ dari cengkeraman Uni Soviet dengan membelot angkat senjata untuk Jerman,” sebut Zaloga. Pembentukan Legiun Georgia pada 1943 (Foto: Repro "Gebirgsjäger im Kaukasus: Die Operation Edelweiß, 1942/43" Mereka pilih menyelamatkan diri dengan berganti seragam. Selain 800 personil beretnis Georgia, batalyon yang dipimpin Mayor Klaus Breitner itu juga diperkuat 400 prajurit asal Jerman. Sempat diikutkan dalam upaya Jerman membasmi perlawanan Partisan Yugoslavia, batalyon lantas ditarik ke front barat dan ditempatkan di Pulau Texel pada Januari 1945. Mereka turut menemani ratusan kru artileri pantai di dua baterai pada masing-masing pesisir utara dan selatan Pulau Texel. “Ini yang jadi titik persoalannya, di mana sebenarnya banyak dari mereka menolak ditarik dari front timur karena tujuan mereka dibentuk dan dijanjikan Jerman adalah untuk melawan pasukan Soviet dan memerdekakan Georgia,” tulis Alexander Mikaberidze dalam Historical Dictionary of Georgia. “Alhasil, moril unit itu anjlok dan kemauan untuk berperang di bawah rezim Nazi hilang seketika. Ditambah dengan jalannya perang di mana mulai awal 1945 Jerman sudah jadi pihak yang defensif, pasukan Legiun Georgia di Pulau Texel memutuskan untuk memberontak,” lanjutnya. Rencana pemberontakan lahir dari kepala Letnan Loladze, opsir tertinggi beretnis Georgia. Ia merancang gerakannya pada malam 5 April lantaran pada 6 April mereka mendapat bocoran informasi bakal “dimutasi” lagi ke front barat untuk menghadang Sekutu yang sudah masuk ke Prancis. Bocoran info itu mereka dapatkan dari sejumlah anggota resistance ( gerakan bawah tanah) Belanda yang bersembunyi di pemukiman dan peternakan penduduk lokal di pulau itu. “Pada malam 5 April-6 April (dini hari), para pasukan Georgia dipimpin Letnan Loladze berontak dengan membunuhi sekira 400 prajurit asli Jerman. Kebanyakan mereka disembelih dengan belati dan bayonet saat sedang terlelap, atau ditembak begitu saja di antara prajurit Jerman yang sedang berjaga,” sambung Mikaberidze lagi. Mayor Klaus Breitner sebagai danyon ke-882 "Königin Tamara" (Foto: Repro "Night of the Bayonets"/ comtourist.com ) Dibantu sejumlah anggota resistance Belanda, termasuk submarkas batalyon di Den Burg, kota terbesar di Pulau Texel, mereka berhasil menguasai hampir segenap pulau itu pada pagi 6 April. Namun beberapa dari prajurit Jerman bisa melarikan diri dari barak-barak mereka dan mengungsi ke baterai artileri pantai di sisi utara maupun selatan Pulau Texel. Sembari mengirim berita adanya pemberontakan ke daratan utama Belanda yang masih dikuasai Jerman, moncong-moncong artileri pantai di dua sisi itu saling menyalak sebagai perlawanan balik terhadap pemberontakan itu. Dan yon Mayor Breitner, yang bermarkas di daratan utama Belanda, terkejut ketika menerima telegram dari Pulau Texel. “Kami tak pernah mencium apapun tentang sabotase atau rencana pemberontakan. Kami bahkan tak pernah berpikiran sampai ke situ, mengingat prajurit Georgia itu mengenakan seragam Jerman,” kata Breitner, dikutip Dick van Reeuwijk dalam Sondermeldung Texel: The Georgian Rebellion on Texel . Laporan itu sampai ke kuping Der Führer Adolf Hitler di Berlin. Jawaban dari Hitler lugas: “Likuidasi semua pasukan (etnis) Georgia sesegera mungkin!” Titah itu direalisasikan Breitner dengan mengirim pasukan berkekuatan dua ribu prajurit dari Resimen Infantri Laut ke-163 yang berbasis di Steenwijk, Belanda. Pasukan Georgia dengan pimpinan tertinggi dari etnisnya, Letnan Shalva Loladze (Foto: comtourist.com ) Setelah mencapai pesisir, pasukan yang dipimpin Kapten Carl Hollweg itu melancarkan serangan balasan. Berangsur-angsur segenap wilayah pulau berhasil direbut kembali, kecuali di mercusuar yang jadi basis pertahanan terakhir pasukan pemberontak Georgia. Baru pada 22 April mercusuar itu bisa direbut. Ratusan pemberontak Georgia yang tertawan dipaksa menggali kuburnya sendiri. Sebelum dieksekusi, mereka diperintahkan melucuti seragamnya lantaran para pasukan Jerman enggan menembak mati pasukan yang seragamnya serupa dengan mereka. Meski begitu, jalannya Palagan Texel sebagai pertempuran terakhir di tanah Eropa belum tuntas. Beberapa eks Batalyon ke-882 berhasil melarikan diri sebelum mercusuar itu direbut. Mereka kebanyakan bersembunyi di rumah-rumah atau peternakan yang biasanya milik keluarga anggota resistance. Kolase eks-Batalyon 882 yang bergerilya dibantu kaum resistance Belanda (Foto: nationaalarchief.nl/niod.nl ) Tembak-menembak berskala kecil juga tak berhenti. Gerilya para pemberontak itu terus bergulir selama dua pekan kendati tersiar kabar bahwa Jerman telah menyerah pada Sekutu pada 8 Mei 1945. Breitner enggan berhenti berburu dengan motif balas dendam atas penyembelihan 400 prajuritnya. Mereka yang ketahuan menyembunyikan para pelarian, nasibnya sudah terang-benderang, rumah atau peternakan mereka dibakar, sementara penghuninya menemui maut lewat moncong senjata. Intelijen Inggris sudah tahu terjadinya pemberontakan oleh eks-Legiun Georgia ini pada 6 April karena mencegat siaran pesan Jerman yang dienkripsi mesin kode Enigma dengan mesin pemecah kode Ultra. Marsekal Bernard Law Montgomery, jenderal jago tank Inggris yang mengusir jenderal flamboyan Erwin Rommel di Afrika Utara, baru mengetahui info itu pada 24 April. Kala itu, Montgomery merupakan panglima tertinggi Inggris di wilayah Rhine, utara Jerman yang berdekatan dengan Belanda. “Pada 27 April ketika pemberontakan itu mulai dihancurkan dan Jerman merebut kembali pulaunya serta melakukan pembersihan para anggota resistance , Montgomery akhirnya bertindak. Ia memerintahkan Korps II Kanada pimpinan Letjen Guy Simmonds untuk merebut seluruh Kepulauan Wadden,” ungkap Eric Lee dalam Night of the Bayonets: The Texel Uprising and Hitler’s Revenge, April-May 1945. Mercusuar Cockdorp di utara Pulau Texel sebagai pertahanan terakhir pemberontak Georgia (kiri) dan sisa-sisa eks Batalyon ke-882 yang diselamatkan kedatangan Sekutu (Foto: nationaalarchief.nl ) Tetapi bukan hal gampang merebut kepulauan itu, termasuk Texel, pulau terbesar di kepulauan itu. Perlawanan Jerman masih sengit. Permintaan tambahan bantuan satu brigade komando elit Inggris Simonds ditolak Montgomery. Pasalnya, pasukan itu masih dibutuhkan Montgomery untuk menyisir sisa pasukan musuh di utara Jerman hingga penyerahan diri pasukan Jerman di Rhine, Denmark, dan Belanda pada 4 Mei atau empat hari sebelum kapitulasi Jerman di Reims. Baru pada 20 Mei 1945 sisa-sisa pemberontak yang masih bernyawa dan bersembunyi terselamatkan dengan kedatangan pasukan Resimen Intai Artileri ke-1 Kanada. Breitner terpaksa menghentikan operasi-operasi pembersihan, mengingat dirinya juga turut dievakuasi untuk dipulangkan ke negerinya yang telah kalah perang. “Batalyon saya sejak saat itu dianggap tidak ada lagi. Sisa-sisa pasukan saya kumpulkan untuk menghancurkan berkas-berkas dan dokumen. Kami juga membakar benderal batalyon ‘ Königin Tamara ’ sebagai pelampiasan terhadap pemberontakan orang-orang Georgia itu,” tandas Breitner.
- Natural History, Ilmu yang Mendorong Penjelajahan Bangsa Eropa
JACOBUS Bontius senang bukan kepalang. Pembuka jalannya untuk meraih gelar profesor terbuka bersamaan dengan datangnya penunjukan dirinya oleh direksi VOC (Heeren XVII) untuk menangani segala urusan medis kapal selama pelayaran ke Asia pada Agustus 1626. Bontius antusias menerima proyek ini. Bontius menjadi satu dari sekian ilmuwan yang terkena "wabah" revolusi saintifik. Harold J. Cook dalam tulisannya “Global Economies and Local Knowledge in the East Indies” menyebut, kala itu dalam dunia ilmu pengetahuan sedang muncul semangat “revolusi saintifik” dengan kebangkitan kembali natural history. Ilmu inilah yang mendorong orang Eropa melakukan penjelajahan dunia untuk mencari rempah-rempah dari sumbernya. Pada mulanya, kebangkitan ilmu natural history sebatas mengkaji teks-teks lama. Setelahnya, orang-orang merasa perlu untuk terjun ke lapangan guna megamati langsung dengan tetap berpegang pada teks lama. “Di sinilah (kebangkitan natural history, red .) yang mendorong mereka melakukan penjelajahan ke Amerika dan dunia timur,” kata Dr. Gani A. Jaelani, sejarawan Universitas Padjajaran, dalam webinar “Rempah-Rempah, Pengetahuan Medis, dan Praktik Kesehatan di Indonesia”, Selasa, 5 Mei 2020. Gani menjelaskan, natural history merupakan bidang ilmu yang mendeskripsikan alam. Para peneliti Eropa abad pertengahan membaca kembali karya-karya natural history seperti milik Pliny the Elder (Gaius Plinius Secundus) yang hidup pada 23-79 SM. Pliny menyusun ensiklopedi alam, astronomi, botani, farmakologi, dan manifestasi pengetahuan kuno yang ada di alam semesta. Naturalis lain yang karyanya dikaji ulang ialah Dioscarides, hidup sezaman dengan Pliny. Ia meluncurkan buku De Medica Materia dengan 550 entri jenis tumbuhan yang punya manfaat untuk kesehatan. Pengkajian karya lama ini kemudian memunculkan pengetahuan baru. Naturalis abad pertengahan Conrad Gesner berpendapat bahwa akal dan pengalaman merupakan pilar ilmu pengetahuan. Akal berasal dari Tuhan dan pengalaman berasal dari manusia. Ilmu pengetahuan merupakan perpaduan keduanya sehingga perlu dilakukan observasi di lapangan. Natural history kemudian berkait erat dengan kolonialisme. Para pegawai kolonial dan naturalis melakukan ekspedisi dalam rangka mengumpulkan informasi demi kepentingan perdagangan dan keilmuan. “Mereka mencari tahu tumbuh-tumbuhan apa saja yang memiliki nilai ekonomis di pasar Eropa. Para dokter punya peran penting dalam penyelidikan manfaat tumbuhan bagi kepentingan ekonomi dan kesehatan,” kata Gani. Para apoteker yang bekerja di kongsi dagang Hindia Timur, VOC, lalu diinstruksikan untuk membawa sampel tumbuhan, mulai daun, biji-bijian, cengkeh, hingga kayumanis sekembalinya menjelajah. Profesor Carolus Clusius dari Universitas Leiden juga menginstruksikan para apoteker yang menjelajah untuk menelusuri produk alam di belahan dunia lain. Salah satu dokter dan naturalis yang ikut ke nusantara ialah Bontius. Setelah penunjukan oleh direksi VOC, Bontius berangkat dengan kapal yang membawa Jan Pieterzoen Coen dan tiba pada 1627 di Maluku. Tinggal selama beberapa bulan di sana, ia melakukan pengamatan tentang penyakit, tumbuhan, dan pengobatan tradisional dengan banyak melakukan wawancara pada warga lokal. Pengamatannya kemudian ia tuliskan setelah pindah ke Batavia pada awal 1628. Karya Bontius diterbitkan tahun 1642 dalam bahasa Latin, De medicina Indorum . Terjemahan bahasa Inggrisnya muncul seabad kemudian. Peneliti lain ialah Georg Eberhard Rumphius. Ia menyusun Het Amboinsche Kruid-Boek , berisi khasiat tanaman obat di Ambon berserta deskripsi cara orang Ambon menggunakan tanaman tersebut. Buku Rumphius dirahasiakan oleh VOC untuk mencegah bangsa Eropa lain datang ke Nusantara. “Selesai ditulis pada 1702, setengah abad setelahnya baru diterbitkan,” kata Gani. Dari Amerika, ada dokter Thomas Harsfield yang datang ke Hindia Belanda pada 1801 dan tinggal hingga 1819. Sepanjang 1804-1812, ia melakukan perjalanan ke Jawa. Laporan ekspedisinya tentang tanaman obat yang digunakan orang Jawa dikirim ke Bataviaasch Genootshap der Kursten en Wetenschappen. Karyanya kemudian diterbitkan pada 1816 dengan judul Short Account on the Medical Plants of Java . Semangat penelitian di negeri ini didorong oleh kepercayaan bahwa obat sebuah penyakit bisa ditemukan di tempat penyakti itu muncul. Dalam periode ini, para dokter Eropa masih takjub pada pengetahuan lokal terkait obat-obatan. Mereka mengumpulkan informasi dengan menyerap pengetahuan dari penduduk lokal. “Bontius dan Rumpihius melaukan wawancara pada pembatu di tempat mereka tinggal,” kata Gani. Namun demikian, setelah abad-19 muncul paradigma baru dalam dunia kedokteren yang menggusur ilmu pengetahuan kedokteran lokal. “Louis Pasteur, Robert Koch menginisiasi pemahaman bakteriologi, bahwa penyakit disebabkan oleh bakteri patogen. Pengobatan dilakukan dengan membunuh patogen penyebab penyakit,” kata Gani. Sejak itu, pola penelitian kesehatan bergeser dari observasi lapangan dan menjelajah alam ke penelitian laboratorium. Hal ini membuat penelitian tanaman obat yang dilakukan dokter Eropa menjadi berkurang. Pada masa ini pula peran perempuan sebagai pengguna dan pemilik ilmu pengetahuan tanaman obat berjasa dalam membantu para peneliti. Pada 1880-an, ada setidaknya 300-an dokter terlatih Eropa di Hindia Belanda. Mayoritas dari mereka bekerja di rumah sakit militer dan hampir semuanya terkonsentrasi di pusat-pusat kota. Di pedesaan dan khususnya di luar Jawa, layanan dokter hampir tak terjangkau. Penduduk di daerah harus menyediakan perawatan medis mereka sendiri. Maka, istri pemilik perkebunan jadi penanggung jawab kesehatan pekerja pribumi. Dengan kata lain, perawatan medis di Hindia disediakan di rumah oleh perempuan. Pada 1888, Chemisch Pharmacologisch didirikan. Di dalamnya terdapat laboratorium yang khusus meneliti kandungan kimiawi dalam tanaman obat. Menurut Hans Pols dalam artikelnya “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation”, perempuan Indo-Eropa punya peran penting sebagai mediator antara peneliti Eropa dan warga pribumi, pemilik ilmu tanaman obat lokal. Buku pedoman medis yang biasanya dipegang para perempuan, merujuk pada bahan-bahan yang dapat diperoleh dengan mudah di sekitar tempat tinggal. Sebagian besar obat di Hindia adalah obat domestik yang sering digunakan sebagai bumbu masak, sehingga para perempuan amat mudah mengenali dan mengaksesnya. “Obat herbal, yang memanfaatkan tanaman dan buah-buahan yang sering digunakan dalam memasak juga merupakan obat yang paling umum di koloni,” tulis Hans Pols. Banyak perempuan indo-Eropa suka mencatat resep favorit mereka. Pada 1870-an, dua buku catatan perempuan indo-Eropa diterbitkan setelah penulisnya meninggal. Buku pertama ialah buku catatan milik Emelie van Gent-Detelle, perempuan indo-Eropa dari keluarga pemilik perkebunan yang tinggal di dekat Yogyakarta. Kakek Emelie merupakan ahli bedah Jerman untuk VOC bernama Joseph Thomas Coenraad. Selama hidupnya, reputasi Emelie dikenal karena pengetahuannya tentang pengobatan herbal. Buku kedua yang diterbitkan ialah milik Johanna Wilhelmina Gunsch-van Blokland, yang tinggal di Surabaya. Catatan Johanna bersumber dari kumpulan resep yang dikumpulkan ayahnya. Para perempuan indo-Eropa yang paham tentang tanaman medis lokal ini punya posisi terhormat sebagai perantara budaya medis Eropa dan Jawa untuk wawasan medis. Mereka umumnya bisa berbicara bahasa Belanda, Jawa, Sunda, Melayu, atau bahasa lokal lain. Dengan begitu, mereka dapat dipahami oleh banyak kelompok etnis. “Ada pergeseran, penelitian tanaman obat tidak lagi diteliti oleh para dokter, tapi pertanian, atau tak punya latar beakang medis sama sekali,” kata Gani.*
- Di Balik Ritual Keboan
RATUSAN warga berkumpul di sebuah tanah lapang bekas sawah. Sejak pagi suara gamelan dari sebuah panggung mengalun bertalu-talu. Bunyi irama yang berulang-ulang membuat beberapa orang kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau. Mereka bermain lumpur di sepetak tanah yang sudah disediakan panitia. Pada saat bersamaan, warga desa menggelar arak-arakan dengan membawa beberapa replika hewan kerbau. Ikut pula puluhan orang dengan tubuh berlumuran cairan hitam –dari arang dan oli. Mereka mengenakan sepasang tanduk buatan dan lonceng di leher. Di tengah perjalanan mereka kerasukan roh leluhur desa dan bertingkah layaknya kerbau. Keceriaan terpancar dari wajah Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Untuk kesekian kalinya mereka menggelar ritual adat keboan atau dikenal dengan Keboan Aliyan. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, yang menghadiri acara tersebut, mengatakan bahwa tradisi Keboan Aliyan merupakan salah satu kekayaan budaya asli warga lokal. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi mengangkat tradisi ini sebagai bagian dari Banyuwangi Festival; sebuah bentuk apresiasi pada warga yang terus menjaga warisan leluhur. “Banyuwangi boleh maju, tapi tradisi dan budaya yang ada di tengah masyarakat tidak akan kita tinggalkan. Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual rutin tapi juga menggambarkan semangat guyub dan gotong royong warga,” kata Anas , September 2019. Keboan Aliyan rutin digelar setiap tahun; yakni pada hari minggu antara tanggal 1 sampai 10 bulan Suro –penanggalan Jawa. Ritual ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah sekaligus upacara bersih desa agar seluruh warga diberikan keselamatan dan dijauhkan dari segala marabahaya. Kisah Dua Dusun Dalam masyarakat agraris, kerbau menempati posisi penting. Kerbau dianggap sebagai mitra dan tumpuan mata pencaharian petani. Kerbau juga dihubungkan dengan kesuburan tanah karena membantu membajak sawah. Selain itu, kerbau dianggap binatang keramat nan suci. Ia memiliki kebajikan, kesabaran, dan welas asih. Ia simbol kekuatan dan pengantar jiwa yang sudah mati menuju alam lain. Sejumlah masyarakat adat memunculkan tradisi yang berkaitan dengan kerbau. Masyarakat suku Osing di Banyuwangi mewujudkannya dalam rituan Keboan Aliyan. Konon, tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-18. “Tidak mungkin untuk menyatakan dengan pasti berapa umur ritual itu. Meskipun beberapa mengklaim bahwa itu sudah ‘berabad-abad’, yang lainnya hanya menyatakan bahwa ia kembali ke zaman kolonial,” tulis Robert Wessing dalam “Hosting the Wild Buffaloes: The Keboan Rituals of the Using of East Java, Indonesia, NSC Working Paper No. 22, Mei 2016. Menurut tradisi lisan, ritual keboan berawal dari hama penyakit yang menyerang lahan pertanian penduduk. Buyut Wongso Kenongo, pendiri cikal-bakal desa, bersemedi dan mendapat petunjuk agar anaknya bersemedi pula. Petunjuk itu pun dijalankan kedua putra Buyut Wongso. Ada beberapa versi penyebutan nama kedua putra Buyut Wongso. Putra pertamanya, yang kemudian jadi leluhur Krajan, disebut Raden Joko Pekik, Suko Pekik, atau Buyut Pekik. Sementara putra kedua, leluhur Sukodono, disebut dengan nama Raden Pringgo, Rangga, Buyut Wadung, atau Buyut Turi. Terlepas dari perbedaan itu, kedua putra Buyut Wongso bersemedi minta petunjuk. Terjadilah hal yang aneh. Mereka mendadak berperilaku seperti kerbau. Mereka berguling-guling di persawahan. Setelah itu hama penyakit menghilang. “Kejadian yang dilakukan oleh kedua anak Buyut Wongso Kenongo kemudian ditiru dan dilanjutkan oleh masyarakat setempat yang selanjutnya disebut dengan ritual adat keboan” tulis Salamun dkk dalam Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi Jawa Timur: Kajian Ritual Keboan . Menariknya, di Desa Aliyan terdapat dua dusun yang mempertahankan tradisi ini, yakni Krajan dan Sukodono. Secara terpisah kedua dusun ini menjalankan ritual yang sama dan digelar di hari yang sama pula. Hal ini tak lepas dari konflik di antara keturunan Buyut Wongso Kenongo. Karena sama-sama cakap, Buyut Wongso Kenongo sulit memutuskan siapa dari kedua putranya yang akan menggantikannya sebagai pemimpin desa. Bahkan dalam suatu “pertarungan” pun tak ada yang menang. Maka, dia memutuskan untuk memisahkan keduanya: putra pertama tetap di Krajan sementara putra kedua pindah ke Sukodono. “Sejak itu ada ketegangan di antara dua dusun ini, dan mereka merayakan ritual keboan secara terpisah,” tulis Robert Wessing. Kendati terpisah, para sesepuh desa berusaha melaksanakan ritual keboan secara bersamaan. Upaya itu terwujud. Kendati ritualnya sama dan digelar pada hari yang sama, waktu pelaksanaan dan jalur arak-arakannya berbeda. Arak-arakan “manusia kerbau” terbagi menjadi dua arah: barat dan timur. Barat berasal dari Dusun Sukodono, Kedawung, dan Damrejo. Sedangkan timur dari Dusun Krajan, Cempokosari, dan Timurejo. Kedua rombongan tak boleh berpapasan karena roh leluhur yang merasuki tubuh bisa saling serang. Setelah diberi doa di Balai Desa Aliyan, “keboan” dari Krajan bergerak ke arah Krajan, Timurjo, dan Cempokosari, dan kemudian mampir ke makam leluhur. Sementara “keboan” dari Sukodono bergerak ke Kedawung dan Sukodono, dan selanjutnya mampir ke makam leluhur. Tradisi Keboan Aliyan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, pada 8 September 2019. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Dewi Sri Turun Pelaksanaan ritual Keboan Aliyan melibatkan partisipasi penduduk desa. Sehari sebelum ritual adat keboan, masyarakat bergotong-royong untuk mempersiapkan segala kebutuhan ritual. Umbul-umbul (bendera berwarna-warni) dipasang di sepanjang jalan desa. Gapura dari bambu didirikan di pintu-pintu jalan masuk desa. Gapura dihiasi dedaunan dan janur dan berbagai macam hasil bumi sebagai perlambang kesuburan dan kesejahteraan. Keesokan harinya, ritual keboan diawali dengan selamatan di empat penjuru desa ( ider bumi ). Usai selamatan, dimulailah arak-arakan “manusia kerbau” keliling desa. Saat itulah mereka kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau. Mereka membantu petani membajak, mengairi, hingga menabur benih padi. Seorang perempuan cantik, perwujudan Dewi Sri, lalu menebarkan benih padi ( ngurit ). Para “keboan” berguling-guling di atas benih padi tersebut. Masyarakat ikut berebut untuk mendapatkan benih padi, yang dipercaya memiliki daya magis. Benih padi itu diyakini bisa mempengaruhi kesuburan dan keberhasilan panen serta terhindar dari hama maupun bencana lainnya. “Ritual ngurit disebut sebagai puncak acara, karena dalam ritual ngurit mengekspresikan tujuan dari upacara keboan, yakni Dewi Sri turun dari tandu memberikan benih padi (simbol kemakmuran) kepada pawang untuk disebarkan. Benih padi tersebut sebagai bekal para petani mendapatkan panen yang melimpah,” tulis Salamun dkk. Ritual keboan sempat mati suri pada 1990 hingga 1998. Kini, ritual ini menjadi salah satu atraksi paling ditunggu dalam Festival Banyuwangi. “Tradisi-tradisi ini menjadi identitas dan ciri khas yang membedakan budaya Banyuwangi dengan daerah lainnya. Otensitas inilah yang terus kami dorong dan kembangkan menjadi atraksi daerah yang menarik wisatawan,” ujar Bupati Anas. Selain di Desa Aliyan, tradisi serupa dilestarikan di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, dengan nama Kebo-Keboan. Tapi untuk tahun 2020, hanya Keboan Aliyan yang masuk dalam Banyuwangi Festval dan rencananya ritual itu akan digelar pada 6 September 2020.*
- Kisah Tentara Jadi Diplomat
LETNAN Kolonel Soegih Arto ingin sekali menjadi diplomat. Menurut kabar yang dia dengar dari handai taulan, kerja sebagai abdi negara di luar negeri itu enak. Gaji cukup untuk hidup dan kalau pandai mengatur keuangan dapat ditabung sebagai bekal pulang ke Indonesia. Soegih Arto pun pernah kesengsem melihat Susanto Tirtoprodjo, duta besar Republik Indonesia untuk Belanda yang selalu tampil berpakain rapi dan naik turun mobil kemana-mana. Masa magang sebagai diplomat mungkin sudah dijalani Soegih Arto sewaktu menjabat Komandan Komando Militer Kota Besar di Medan tahun 1956. Meski sebentar, setidaknya Soegih Arto sudah memiliki kontak dengan konsul-konsul dari India, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Inggris. Soegih Arto dan istri kerap diundang dalam hajatan ulang tahun negara-negara tersebut. Dia bangga benar ketika diajak ikutan toast gelas sebagai tanda selamatan. Serasa jadi orang penting, katanya. Dalam otobiografinya Sanul Daca : Pengalaman Pribadi Letjen (Purn.) Soegih Arto , ada kisah lucu kala dirinya bersua dengan konsul Tiongkok yang hanya mau berbicara dalam bahasa Tionghoa. Sementara Soegih Arto mempergunakan bahasa Indonesia. Perkara beda bahasa ini bikin pekerjaan penerjemah jadi semakin rumit. Kalau si konsul berlelucon, dia sudah ketawa duluan baru Soegih Arto menyusul setelah diterjemahkan. Sebaliknya, giliran Soegih Arto yang menceritakan lelucon, maka dia tertawa lebih dulu, lalu sang konsul ikutan terpingkal setelah penerjemah menceritakan ulang dalam bahasa Tionghoa. Akhirnya, mereka pun tertawa lagi bersama-sama. Makan waktu tapi kocak. Soegih Arto senang bukan kepalang ketika ditunjuk untuk mengikuti kursus atase militer. Penunjukan ini berarti selangkah lagi menuju penugasan ke luar negeri. Pada 21 September 1959, Soegih Arto diangkat sebagai Konsul Jenderal (Konjen) di Singapura menggantikan Mayor Jenderal TNI G.P.H. Djatikusumo. Sebenarnya, jabatan ini sama dengan duta besar namun Singapura masih berada di bawah protektorat Inggris. Maka kedudukan resmi Soegih Arto adalah Konjen KBRI di London. Pangkatnya naik setingkat jadi kolonel. “Persiapan mental telah matang. Cara makan mempergunakan pisau dan garpu sudah bisa, rapi dan teratur asalkan dagingnya empuk,” celoteh Soegih Arto. Setelah beberapa minggu menginap di Hotel Des Indes, Jakarta, Kolonel Soegih Arto berangkat ke Singapura. Dia memboyong serta istri dan sepuluh anaknya. Setiba di Singapura, Soegih Arto menempati rumah besar yang terletak di Patterson Road No. 33. Rumah itu dilengkapi lapangan tenis dan mobil bagus dengan tiang bendera Merah Putih. Senang hati Soegih Arto karena harapannya terkabul. Hari-hari dilakoni dengan menjamu tamu yang datang ke konsulat. Saat itu, Singapura mulai tumbuh menjadi destinasi wisata belanja. Konsulat menjadi tempat yang dikunjungi orang Indonesia dengan kepentingan macam-macam. Ada tamu yang akan pulang ke Indonesia namun ingin shopping dulu. Ada tamu yang akan bertugas ke luar negeri dan ingin berbelanja untuk perlengkapannya. Ada pula yang datang ke konsulat sekadar singgah untuk beristirahat. Apabila membandingkannya dengan tugas tentara lapangan, Soegih Arto merasakan suasana dinas yang lebih menyenangkan di Singapura. Iklim persis sama dengan di Indonesia. Makanan berlimpa ruah, buah-buahan tersedia dalam banyak ragam serta dalam jumlah yang cukup. Barang apa saja ada. Kemampuan bahasa Inggrisnya sudah cukup lumayan. Di Singapuralah untuk kali pertama Soegoh Arto mengenal klub malam. Untuk alasan kesehatan, sebenarnya sang kolonel tidak tertarik ke tempat plesiran duniawi itu. Akan tetapi ada kalanya dia mesti berkunjung ke klub malam untuk mengantar tamu sekaligus agar tidak dipandang kolot dan udik. “Kepergian ke night club adalah sebagai sarana membulatkan tekad dan pengalaman,” ujar Soegih Arto. “Masakan orang ramai membicarakan night club , kita diam seribu bahasa, padahal kita bertugas di luar.” Selama menjalankan tugas diplomatik di luar negeri, Soegih Arto mendapat berbagai tawaran fasilitas. Akan tetapi, tidak semua fasilitas itu dapat dia nikmati. Sebagai diplomat, rokok murah karena tidak dikenai cukai namun Soegih Arto tidak merokok. Begitu pula dengan minuman keras yang bebas cukai tapi Soegih Arto juga bukan peminum. Tapi, Soegih Arto ketiban rejeki soal bensin. “Sebagai diplomat, bensin murah karena tidak dikenakan cukai, nah... ini baru bermanfaat,” katanya. Salah satu capaian penting Soegih Arto sebagai konjen di Singapura adalah membangun Wisma Indonesia. Gedung itu dimaksudkan untuk menyatukan semua perusahaan dan kantor Indonesia di bawah satu atap. Lokasinya terletak di Orchard Road, jantung kota Singapura yang merupakan pusat keramaian. Setelah pembangunan rampung pada 1964, gedung itu dipergunakan untuk dinas, pusat bisnis dan hiburan, termasuk kuliner. Seluruh gedung dikelililngi dengan tembok ukiran Bali yang menceritakan riwayat Ramayana. Sayang sekali ketika terjadi konfrontasi Indonesia-Malaysia memuncak, gedung Wisma Indonesia direbut oleh pemerintah Malaysia. Bangunan itu baru dikembalikan pada 1965, setelah pemisahan Singapura dengan Malaysia. Namun pada 1983, pemerintah Singapura menghancurkan gedung tersebut untuk dijadikan kawasan pertokoan. Lewat ganti rugi, Wisma Indonesia dipindahkan ke Chatsworth Road. “Sayang sekali gedung yang demikian megahnya, dijual, diambrukkan dan diadakan ruislag dengan daerah yang jauh dari pusat kota,” kenang Soegih Arto.*
- Pertemuan dr. Soeharto dan Abdurachim
PADA suatu malam di tahun 1937, dr. R. Soeharto yang membuka praktik di Jalan Kramat 128 Jakarta Pusat, dipanggil seorang ibu yang tinggal di Jalan Kesehatan, Jakarta. Ia meminta tolong karena suaminya mengancam akan mencelakai para penghuni jika tidak meninggalkan rumah. Soeharto memeriksanya dengan susah payah, dibantu orang-orang yang memegangnya. Tak ada kelainan baik fisik maupun tanda kena malaria yang dapat menyebabkan penderita mengamuk. Soeharto pun menyimpulkan orang itu kesurupan.
- Saat Hatta dan Kawan-kawan Dikencingi Sukarno
BELUM lagi ketegangan akibat perdebatannya dengan golongan muda mereda, Sukarno dikagetkan oleh panggilan rahasia dari Jenderal Hisaichi Terauchi, panglima tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara. Terauchi meminta Sukarno, Moh. Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat datang ke Dalat, Vietnam menghadap kepadanya. “Aku gugup. Aku merasakan sesuatu yang penting yang akan terjadi. Tapi apa?” kata Sukarno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Meski tak satupun dari pimpinan bangsa Indonesia tersebut tahu tujuan pemanggilan oleh Terauchi itu, toh mereka tetap terbang pada 8 Agustus 1945 menggunakan pesawat yang disediakan pihak Jepang. Penerbangan sengaja dilakukan pada malam buta karena misi tersebut amat dirahasiakan supaya tak tercium Sekutu. “Perwira Jepang mengantarkan kami ialah Letnan Kolonel Nomura dari Gunseikanbu. Dalam perjalanan ke Dalat, kami menginap semalam di Singapura dan semalam di Saigon,” kata Hatta dalam Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi . Perjalanan menuju Saigon diwarnai hujan lebat dan kabut tebal sebelum pesawat mendarat. Meski pilot sudah memilih membawa pesawat berputar-putar di udara selama sejam, keadaan tak kunjung membaik sehingga memaksanya mendaratkan pesawat. “Kami mendarat dengan keras di suatu lapangan terbuka dan hampir saja menubruk seekor kerbau. Barang-barang berserakan. Kami terhempas dan benjol-benjol. Pikiran kami semua sangat tergoncang karenanya,” kata Sukarno mengenang. Bercampur dengan kecemasan karena tak tahu tujuan pemanggilan mereka oleh Terauchi, pengalaman tak mengenakkan mereka itu belum selesai. Penjemput yang akan membawa mereka ke Saigon belum juga datang setelah beberapa jam. “Selama berjam-jam kami menunggu dengan sangat gelisah dan membikin urat syaraf serasa akan pecah,” kata Sukarno melanjutkan. Mereka akhirnya diterima Jenderal Terauchi selaku perwakilan Tokyo di Asia Tenggara, di Dalat keesokan paginya. Kepada mereka, Terauchi menyatakan Tokyo telah memutuskan memberi kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Bagaimana langkah selanjutnya untuk mewujudkan kemerdekaan itu, Terauchi mempersilahkan pimpinan bangsa Indonesia mengambil sepenuhnya langkah-langkah yang diinginkan, pemerintah Jepang tak ingin mencampuri lagi. “Aku gembira luar biasa sebab hari itu tanggal 12 Agustus 1945, hari ulang tahunku,” kata Hatta. Setelah menginap semalam di Saigon, rombongan Sukarno bertolak ke Singapura untuk transit semalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Dalam perjalanan kembali ke Jakarta inilah kesialan kembali dialami rombongan. “Kami tidak lagi naik pesawat penumpang yang enak. Kami diantar oleh seorang penerbang, seorang pembantu penerbang dan dengan pesawat pembom yang sudah uzur dan ringsek ditambah lagi dengan hiasan lubang-luabang bekas peluru. Tidak ada tempat duduk. Kami harus berdiri sepanjang perjalanan atau berbaring. Dan kami membeku kedinginan. Tidak ada pengukur suhu atau pesawat pemanas. Kakus pun tidak,” kata Sukarno. Meski kondisi pesawat tak nyaman, Sukarno memanfaatkan penerbangan itu untuk berdiskusi dengan Hatta. Yang diajak berdiskusi pun tak mengeluhkan fasilitas yang ada karena pikirannya tersedot untuk memikirkan cara-cara apa yang mesti dilakukan untuk mewujudkan kemerdekaan negerinya di tengah kesempatan emas itu. Di tengah diskusi itulah tiba-tiba Sukarno berbisik kepada dokter Suharto, dokter pribadinya. “Saya mau buang air kecil. Bagaimana ya?” Pertanyaan Sukarno membuat sang dokter segera memeriksa keadaan untuk menemukan cara. Setelah tak menemukan cara, Suharto menyarankan Sukarno agar melakukan hajatnya di bagian belakang pesawat tempat kumpulan lubang bekas tembakan berada. Sukarno pun manut dan segera ke belakang meninggalkan Hatta yang tetap di posisinya. “Nah, baru saja kumulai maka angin yang keras bertiup melalui sekelompok lubang peluru dan menerbangkan semua itu memenuhi ruang pesawat. Kawan-kawanku yang malang terpaksa mandi dengan zat cair itu. Dalam keadaan setengah basah inilah Pemimpin Besar dari Revolusi Indonesia sampai di Jakarta,” kata Sukarno.*
- Lebaran Tanpa Mudik di Awal Republik
GUNA mencegah penularan virus corona dari daerah zona merah ke berbagai wilayah lainnya, pada Selasa, 21 April 2020 Presiden Joko Widodo resmi melarang masyarakat mudik Lebaran. Keputusan ini menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, mengingat mudik adalah salah satu tradisi terbesar umat Islam di Indonesia. Pada saat yang sama mencegah penularan virus juga penting. Pendeknya, ‘perang’ melawan virus menyebabkan terhentinya arus keinginan untuk mudik. Menilik sejarah Indonesia, sebenarnya umat Islam Indonesia tidaklah selalu bisa mudik ke kampung halamannya. Salah satunya pada masa awal pascakemerdekaan Indonesia, saat muslim Indonesia merayakan Idul Fitri yang jatuh pada Rabu, 28 Agustus 1946. Waktu itu mudik sudah jadi tradisi walau belum segencar dekade 1970-an, saat urbanisasi besar-besaran mulai terjadi di Indonesia. Pada 1946 itu, beberapa kota di Indonesia telah cukup besar dan menarik banyak orang, terutama pelajar, pedagang, dan pencari kerja dari luar kota bahkan luar pulau Jawa.
- Demam Drama Korea Lintas Zaman
MIMPI apa Han So-hee sampai harus jadi sasaran luapan kegeraman warganet Indonesia sejak akhir April lalu? Aktris jelita pemeran Yeo Da-kyung di drakor (drama Korea) bertajuk The World of the Married itu dicecar dan dimaki sebagai pelakor alias perebut laki orang. Untung rumahnya di Seoul, Korea Selatan, sekira 5.200 kilometer dari Jakarta jaraknya. Bila ia tinggal di Jakarta, bisa jadi rumahnya disatroni warganet, tak peduli sedang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau tidak dan peduli setan tidak kenal juga. Maka jadilah akun Instagram -nya yang jadi sasaran kemarahan. Menukil Kumparan , 26 April 2020, akun pribadinya @xeesoxee disesaki makian dan hujatan. Kata “pelakor” pun sampai viral di Negeri Ginseng, merujuk pada perannya di drakor itu yang sudah sangat menempel pada citranya. Baca juga: Banjiha , Potret Kemiskinan Korea dalam Parasite “Di Indonesia wanita yang ketahuan selingkuh dengan suami orang lain tidak dapat diterima masyarakat karena mayoritas warganya Muslim. Tapi bagaimanapun sepertinya warganet Indonesia tidak bisa membedakan mana drama dan kenyataan. Mereka mengungkapkan kemarahan pada Han So-hee,” tulis seorang blogger Korsel yang tak disebutkan namanya di laman cafe.naver.com yang dikutip Kumparan. Si cantik Han So-hee yang jadi sasaran hujatan netizen Indonesia. ( jtbc.com ). Toh, So-hee tak paham hujatan yang memakai bahasa Indonesia itu. Lagipula, peran pelakor bukan hanya dimainkan oleh So-hee dan tentunya bukan jadi bumbu cerita milik The World of the Married semata. Cruel Temptation (2008), Pink Lipstick (2010), Woman of Dignity (2017), The Last Empress (2018), 9.9 Billion Woman (2019), hingga V.I.P (2020) juga menampilkan peran serupa. Hanya saja, drakor-drakor lain itu tak se-viral The World of the Married yang tayang dalam 16 episode di saluran JTBC . Drakor garapan sineas Mo Wan-il yang me- remake drama seri BBC , Doctor Foster, itu selain viral jalan ceritanya juga mencetak rekor rating tertinggi dalam sejarah drakor. Di dalam negeri saja, ia mencetak 24,3 persen, melewati rekor sebelumnya yang dipegang Sky Castle (2018-2019) dengan angka 23,8 persen. Baca juga: Parasite dan Seabad Perfilman Korea Memang, drakor baru populer di Asia berbarengan dengan fenomena “ Korean Wave ” atau tren gelombang budaya pop Korea pada akhir 1990-an. Arus itu dalam lidah orang Korsel sendiri dikenal dengan hallyun . Ia berkembang dalam dua genre : kontemporer, yang kisahnya tentang asmara; dan sageuk, drama yang mengambil latarbelakang sejarah kuno era kerajaan. “Pada pengujung 1990-an, tak lama setelah tren dan popularitas drama urban Jepang mulai menurun di Asia, pop-culture Korea dalam bentuk drama televisi menikmati pesatnya pelonjakan popularitas. Sebutan hallyun sendiri merupakan sebutan yang lahir dari media-media China,” ungkap Won Kyung-jeon dalam The Korean Wave and Television Drama Exports, 1995-2005 . Sosok Da-kyung yang dimainkan So-hee yang begitu menggigit hingga memviralkan pula kata kata "pelakor" di Korea. ( jtbc.com ). Hal itu jadi komoditas tersendiri bagi pemerintah Korea Selatan, sambung Kyung-jeon. Badan Perdagangan Dunia (WTO) mendata, pada 2007 Korsel sudah menjadi eksportir jasa audiovisual terbesar ke-10 di dunia. Menurut KOCCA (Korea Creative Content Agency), Korsel juga menjadi eksportir program hiburan berseri kedua terbesar di Asia pada 2010, menguntit Hong Kong. Pada 2011, program siaran hiburan dari Korea mencapai angka USD227,8 juta. “Drama Korea sendiri selalu mempertahankan posisi dominan dalam ekspor siaran konten Korea. Proporsi drama secara keseluruhan dari ekspornya terus meningkat dari 64,3 persen pada 2001 menjadi 87,6 persen pada 2010. Banderol drama Korea juga lebih ekspansif ketimbang Hollywood atau produksi-produksi Jepang di pasar Asia sejak pertengahan 2000-an,” imbuh Kyung-jeon. Sejak awal 2000-an hingga sekarang, Korea berjaya dengan drakor selain dengan K-Pop-nya. Kejayaan itu diraih setelah jeda waktu amat panjang sejak drakor pertamakali muncul pada 1920-an. Jaringan Radio hingga Layar Kaca Drakor pertamakali mengudara lewat jaringan radio, seiring berdirinya Kyosong Pangsongguk (kini Korean Broadcasting System) pada 16 Februari 1927. Mulanya, stasiun radio yang didirikan Gubernur Jenderal Korea Jenderal Ugaki Kazushige itu memberi porsi besar pada program musik dan drama radio berbahasa Jepang. Hanya 30 persen yang berbahasa Korea. Baca juga: Kala Budaya K-pop Menggema “Porsi lebih banyak untuk program musik tradisional atau drama yang dikombinasikan musik klasik Barat baru diperbolehkan pada periode 1934-1936. Tapi tetap saja radio difungsikan sebagai publikasi media untuk imperialisme Jepang ketimbang media populer komersil,” tulis Lee Jung-yup dalam “The Birth of Broadcating Media and Popular Music” yang dimuat buku Made in Korea: Studies in Popular Music . “Oleh karenanya beberapa elit budayawan seperti Kim Yong-pal, Yi Ha-yun, Hong Nan-pa, dan Yi Hae-ku berusaha merepresentasikan program-program ‘ke-Korea-an’ dalam program radio. Baik itu musik tradisional maupun serial drama radio,” sambung Jung-yup. Drakor "The World of the Married" yang memecahkan rekor share rating dalam sejarah Korea. ( jtbc.com ). Sayangnya, tiada catatan soal drama bertajuk apa yang pertamakali diudarakan via radio mengingat banyak arsip tertulis hancur akibat perang. Tetapi, sambung Jung-yup, serial drama radio yang tren saat itu adalah drama bertema kriminal atau cerita detektif. Itu dipengaruhi novel-novel detektif dan kriminal asal Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Jepang yang tengah booming. Setelah absen mengudara akibat Perang Dunia II dan disusul Perang Korea (1950-1953), drama radio baru eksis lagi pada 1954 atau setahun setelah gencatan senjata. Sebagaimana diungkapkan Kim Hwan-pyo dalam Korea Through TV Drama , drakor via radio yang paling populer saat itu bertajuk Cheongsilhongsil (1954). Kisahnya berpusar pada seorang wanita yang ditinggal mati suaminya karena Perang Korea. Baca juga: Di Balik Lagu dan Bendera Pemersatu Korea Drakor tersebut sukses karena kisahnya erat dengan yang dirasakan masyarakat dalam Perang Korea. “Era itu menjadi masa di mana banyak masyarakat Korea yang masih bersedih dan ingin menangis. Drama itu memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk menangis dan tertawa sekaligus memberi penontonnya secercah mimpi dan romantisme yang tak bisa mereka temukan dalam kenyataan hidup saat itu,” terang Hwan-pyo. Drakor Korea bergenre sageuk di era 1960-an. Pada 1956, drakor mulai beralih ke layar kaca lewat Stasiun TV HLKZ-TV yang menayangkan Cheongugui mun (Gerbang Nirwana). Drakor itu berbentuk film televisi berdurasi 15 menit. Sementara, drama berbentuk serial pertama baru hadir pada 1962, bertajuk Gukto manri . Drakor berlatarbelakang era Kerajaan Goryeo itu ditayangkan Tongyang Broadcasting ( TBC ). Pada 1970-an hingga 1980-an, drakor ber-genre kontemporer, di antaranya Saeeomma atau Ibu Tiri (1972-1973) dan Saranggwa yamang (Cinta dan Ambisi, 1987), mulai mendominasi. Jam tayangnya pun dimulai pada pagi sebagai strategi untuk menggaet pasar “emak-emak” yang tidak bekerja. Kisah-kisahnya pun disajikan seerat mungkin dengan kondisi para ibu rumah tangga di Korea. Baca juga: Korea Bersatu di Arena “Ibu-ibu rumah tangga mulai jadi plot utama drama-drama TV. Karena ibu rumah tangga cenderung menghadapi stres yang lebih dalam keseharian mereka. Dan karena banyak dari mereka tak punya sasaran pelampiasan stres, mereka pasti mengalihkan emosi mereka ke hiburan televisi, khususnya opera sabun (drama serial),” tambah Hwan-pyo. Drakor kondang "Winter Sonata" yang menggebrak pasar Asia pada awal 2000an. (IMDb). Seiring perjalanan waktu, drakor akhirnya menaklukkan Asia pada awal 2000-an. Pendobraknya adalah drakor Winter Sonata (2002). Melodrama garapan sineas Yeon Seok-ho yang rilis dalam 20 episode itu meniti suksesnya dengan menembus pasar di Jepang. “Boleh dikatakan Winter Sonata yang pertama mengikuti formula dasar untuk kesuksesan di televisi: pemeran-pemeran rupawan, keindahan alam, dan plot manis tentang cinta, kematian, dan harapan akan hubungan romantis, semua itu disempurnakan dengan soundtrack musik yang melankolis,” ungkap Korean Culture and Information Service South Korea dalam K-Drama: A New TV Genre with Global Appeal . Baca juga: Tangan Dingin Moon Jae-in dalam Perdamaian Korea “Semuanya begitu ‘ ngeklik ’ hingga Winter Sonata menjadi sensasi tersendiri di Jepang. Di episode terakhir saja, NHK yang menayangkannya mendapat share rating 20 persen, melebihi acara lain di waktu prime time yang rata-rata 10 persen rating -nya. Di akhir 2004, diperkirakan hampir 70 persen warga Jepang sudah menonton setidaknya satu episode,” lanjutnya. Saking bekennya, Winter Sonata sampai dibuat versi anime -nya dalam bentuk delapan jilid komik pada 2004-2005 dan teater musikal di Tokyo, Osaka, dan Sapporo pada 2006. Formula itulah yang kemudian dicontek drakor-drakor lainnya, termasuk The World of the Married yang bikin geram warganet Indonesia. Yang sabar ya, So-hee!
- Rachmat Kartolo Pahlawan Patah Hati
KABAR berpulangnya Dionisius Prasetyo alias Didi Kempot membuat segenap “sobat ambyar” makin ambyar. Pasalnya, belum lama ini penyanyi campursari kelahiran 1966 itu didapuk sebagai The Godfather of Broken Heart. Fenomena Didi Kempot mengingatkan kita pada pendahulunya, yang juga pernah dijuluki sebagai pahlawan patah hati, Rachmat Kartolo. Rachmat Kartolo lahir di Jakarta pada 13 Maret 1938 dari pasangan seniman Kartolo dan Rukiah. Kartolo dan Rukiah kala itu sudah terkenal sebagai bintang film. Rachmat sendiri ketika muda belum tertarik masuk ke dunia film dan justru menjajal kemampuan seni musiknya. Pada 1940-an, bersama saudaranya, Iman Kartolo dan Jusuf Kartolo, Rachmat sudah membentuk band kecil.
- Wabah Rabies Munculkan Vampir
PADA abad ke-18, kepercayaan pada vampir menjadi mitos tenar di daerah Balkan. Vampir digambarkan sebagai orang mati yang bangkit dari kubur, berkelana saat malam, dan bertahan hidup dengan mengisap darah orang atau hewan. Dalam risetnya bersama Christopher Cowled, Bats and Viruses: A New Frontier of Emerging Infectious Diseases, Lin Fa Wang menduga mitos vampir erat kaitannya dengan rabies yang pernah mewabah di Eropa. Dugaan mereka berasal dari kesamaan ciri vampir dan penyakit rabies, serta kemunculan mitos vampir yang bersamaan dengan wabah. Secara umum diketahui bahwa rabies ditularkan lewat anjing atau serigala. Namun, rabies juga ditemukan menginfeksi hewan herbivora yang ditularkan oleh kelelawar. Dari situlah dokter asal Spanyol Juan Gomez-Alonso juga menduga legenda vampir dan manusia serigala mungkin berkaitan erat dengan pandemi rabies di Eropa Timur dari 1721 hingga 1728. Kelelawar juga sering muncul dalam cerita rakyat Eropa Timur. Asosiasi rabies dan kelelawar punya akar kuat dalam takhayul di daerah tersebut. Penderita rabies punya gejala yang mirip dengan ciri vampir. Wabah rabies pada abad ke-18 ini menyebar di Inggris, Spanyol, Prancis, Itali, hingga Ceko dan Slovakia. Sebelum rabies diakui sebagai penyakit, kelelawar juga dianggap sebagai penyebab kegilaan di Eropa. Orang yang perilakunya tidak menentu diasosiasikan dengan kelelawar. Hal ini dibuktikan dengan adanya istilah dan frasa seperti “ going bats ”, “ batty ”, atau “ bats in one’s belfry ” yang seringkali digunakan untuk menggambarkan ketidakstabilan mental. Akademisi Jerman, Felicitas Schott dalam bukunya The Undead Among Us menyebut mitos vampir berasal dari Eropa Tenggara, khususnya daerah yang kini jadi wilayah Serbia, Makedonia, dan Bulgaria. Segera setelah vampir jadi bagian dari cerita rakyat, kisah serupa juga muncul dalam bentuk karya sastra. Figur vampir muncul dalam beberapa puisi Jerman abad ke-18. Antara lain puisi “Main Liebes Magdchen glaubert” karya Heinrich August Ossenfelders dan puisi “Die Braut bon Korinth” karya Johann Wofgang von Goethe yang dipublikasi pada 1797. Puisi-puisi Jerman tersebut menginspirasi John Polidori dalam menulis The Vampyre pada 1819. Schott menduga, karya Polidori merupakan sastra bertema vampir pertama yang diterbitkan dalam Bahasa Inggris. Namun, kisah vampir paling terkenal ialah Dracula karya Bram Stoker yang terbit pada 26 Mei 1897. Tanggal ini diperingati oleh para pencinta sastra bertema vampir sebagai World Dracula Daya. Kisah Dracula mengambil beragam tradisi Eropa, namun fokus utamanya pada sejarah dan budaya Transylvania, Romania bagian tengah. Wang dan Cowled menduga karakter vampir yang bisa berubah wujud menjadi kelelawar dalam karya Stoker mirip dengan sifat hematophagous (pengisap darah) dan nocturnal kelelawar vampir. Sementara, Schott menyebut prototipe tokoh Dracula karya Stoker diambil dari kisah Vlad II, Pangeran Walaccia (1431-1476) yang dikenal juga sebagai Vlad Dracula atau Vlad the Impaler. Ia amat ditakuti oleh orang Walaccia karena kegemarannya menyiksa dan mengeksekusi musuh. Vlad Dracula lahir di Transylvania, Romania pada 1431 dan memerintah Walaccia dari 1456 sampai 1462. Beberapa sejarawan menggambarkan Vlad sebagai penguasa yang adil namun kejam. Citra kejam tersebut melekat karena Vlad suka membunuh musuh-musuh yang tertangkap dengan menusuk mereka di tiang kayu. Menurut legenda, Vlad Dracula juga suka menikmati jamuan makan di tengah-tengah korban yang sekarat dan mencelupkan rotinya ke dalam darah mereka. Meski kebenaran kisahnya diragukan, orang-orang yang percaya kisah ini lalu menyebarkannya. Kisah inilah yang memicu imajinasi Stoker untuk menciptakan Count Dracula, yang juga berasal dari Transylvania, menghisap darah korbannya, dan bisa dibunuh dengan menghujam jantungnya dengan pasak. Kisah ini pula yang kemudian jadi memori kolektif dalam budaya Barat. Tiap kali menyebut vampir, rujukan utamanya ialah Dracula karya Stoker. Dalam bukunya The Vampire in Folklore, History, Literature, Film and Television, J. Gordon Melton dan Alysa Hornick menyusun daftar panjang karya bertema vampir dari 1800 hingga 2013. Keduanya menemukan setidaknya ada enam ribu karya bertema vampir yang dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Namun, menurut Melton dan Alysa, perkembangan sastra bertema vampir belum terlihat bisa menyaingi Dracula dan sastra abad kesembilan belas lain. “Banyak dari literatur kontemporer ini dipandang sebagai cerita populer daripada sastra serius,” tulis Melton dan Alysa.*
- Gus Dur, Indonesia Banget.
Anak santri cucu pendiri NU yang demokratis, doyan humor, dan peka soal kemanusian dan hak asasi manusia.
- Hantu Jepang di Kaki Semeru
KESEPAKATAN Perjanjian Renville antara Republik Indonesia dengan Belanda pada awal 1948, mewajibkan pihak Indonesa untuk menyerahkan para zanryu nihon hei (serdadu Jepang yang tetap tinggal dan memilih berjuang untuk Indonesia) kepada Belanda. Namun, permintaan itu direspons setengah hati. Secara diam-diam, TNI justru berupaya melindungi para eks serdadu Jepang itu. “Walau bagaimana pun kehadiran para zanryu nihon hei sangat menguntungkan untuk Indonesia, baik secara politik maupun militer,” ungkap sejarawan asal Jepang, Aiko Kurasawa. Guna menghindari itu, pada Juli 1948, Kolonel Sungkono, Gubernur Militer Jawa Timur, memanggil Tatsuo Ichiki, seorang Jepang yang sangat dituakan oleh para zanryu nihon hei . Terlebih keberpihakannya kepada Indonesia sudah sejak 1945, ketika ia bergaul akrab dengan diplomat senior Indonesia Haji Agus Salim di Jakarta. “Dia bahkan diangkat anak oleh ayah saya dan diberi nama Indonesia: Abdul Rachman karena sikapnya yang penuh kasih kepada bangsa Indonesia,” ujar Bibsy Soenharjo, salah satu putri Haji Agus Salim. Abdul Rachman kemudian ditugaskan oleh Kolonel Sungkono untuk mengumpulkan seluruh eks serdadu Jepang di Jawa Timur dan menghimpunnya dalam kesatuan khusus. Maka, pada 28 Juli 1948, berkumpullah 28 zanryu nihon hei di Wlingi dan mendeklarasikan berdirinya Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) di bawah koordinasi Brigade Surachmad. Sebagai pimpinan, Sungkono mengangkat Mayor Arif (Tomegoro Yoshizumi), senior dari Abdul Rachman. Karena Mayor Arif kerap sakit-sakitan (kemudian meninggal pada 10 Agustus 1948), akhirnya pucuk pimpinan PGI diserahkan kepada Mayor Abdul Rachman. Penyerahan wewenang tersebut diam-diam tidak disetujui oleh sebagian zanryu nihon hei pimpinan Hasan (Toshio Tanaka). Alasannya, Abdul Rachman bukan seorang militer tulen. Di ketentaraan Jepang ia hanya bertugas sebagai seorang penerjemah. “Soal ini menjadi sebab utama pecahnya PGI di kemudian hari, sehingga menyebabkan 10 anggotanya mengundurkan diri dan lebih senang bergabung dengan TNI di Jawa Tengah” ujar Shigeru Ono, salah seorang zanryu nihon hei. Sejak kemunculannya di wilayah-wilayah kaki Gunung Semeru, PGI menjadi “hantu” menakutkan bagi militer Belanda. Berbeda dengan umumnya pasukan TNI, PGI memiliki sistem organisasi dan cara bertempur yang sangat baik. Setiap kali merencanakan suatu operasi penyerangan, kerap diperhitungkan secara matang, detail, serta menyertakan rencana B, C, dan D-nya. Tak aneh jika dalam setiap aksinya, unit khusus ini sering mencapai hasil maksimal dengan sedikit korban. “Mereka memiliki semangat tinggi, kaya pengalaman tempur dan pandai bersiasat,” ujar Satmoko Tanoyo, eks prajurit ALRI Pasuruan yang pernah melakukan operasi bersama dengan PGI. Salah satu penyerangan PGI yang sukses terjadi saat bersama pasukan Brigade XIII menghancurkan markas tentara Belanda di Pajaran. Operasi ini terbilang cerdik dan cermat karena semua diperhitungkan secara matang, termasuk menjalankan operasi intelijen sehari sebelum penyerangan. PGI juga memutuskan tanggal 31 Agustus 1948 sebagai waktu penyerangan karena bertepatan dengan peringatan ulang tahun Ratu Belanda ke-68. “Kami perkirakan mereka akan sibuk berpesta dan berkurang kewaspadaannya,” ujar Shigeru. Pukul 00.00, mereka sudah mengepung posisi pos militer Belanda dari tiga jurusan. Tak ada satu pun tanda kegiatan di pos Pajaran. Menjelang dini hari, serangan dimulai. Dengan dibuka oleh ledakan granat, maka berhamburanlah tembakan dari berbagai jenis senjata (termasuk bom anti tank) menghajar tanpa ampun posisi pasukan Belanda. Tak ada perlawanan sama sekali. Prajurit-prajurit Belanda itu nampaknya tengah kelelahan usai merayakan pesta dan tak sempat meraih senjata. “Kami semua yakin, mereka yang berada di pos itu pasti mati karena tak mungkin lolos dari kepungan kami dari berbagai sisi,” ujar Shigeru seperti ditulis dalam buku Mereka yang Terlupakan karya Eiichi Hayashi. Tepat 30 menit kemudian, serangan langsung dihentikan dan seluruh pasukan diperintahkan oleh Mayor Abdul Rachman untuk mundur. Saat gerakan mundur inilah, tiba-tiba terdengar tembakan dari arah pos. Rupanya, itu adalah satu regu pasukan Belanda yang baru saja pulang dari pesta peringatan HUT Ratu Wilhelmina di balai desa terdekat. Dapat dibayangkan bagaimana marah dan terkejutnya mereka saat melihat markasnya hancur dan kawan-kawannya gugur. “Tapi mereka tidak berani melakukan pengejaran dan memilih untuk merawat mayat kawan-kawannya yang sudah tewas,” ujar Shigeru. Besoknya, seorang petugas telik sandi Brigade XIII ditugaskan untuk menyelidiki hasil serangan malam tersebut langsung ke Pajaran. Menurut informasi yang berhasil didapat dari lapangan, pasukan Belanda kehilangan 20 prajurit dan sejumlah senjata hancur. Guna menghindari balasan dari pihak militer Belanda, pada 16 September 1948, PGI memindahkan markasnya dari Dampit ke Garotan. Sukses di Pajaran, mereka ulangi pula di Poncokusumo pada 18 September 1948. Lewat suatu serangan fajar, PGI kembali berhasil menghabisi tanpa ampun posisi pasukan Belanda. “Penyerangan di Poncokusumo juga berhasil secara gemilang: serdadu musuh semua tewas, sedang di pihak kami tak ada satu pun jatuh korban. Bisa dikatakan kami terus menuai kemenangan sejak itu” kata Shigeru. Namun, hari nahas bagi PGI justru terjadi pada 3 Januari 1949. Dalam buku Perjuangan Total Brigade IV pada Perang Kemerdekaan di Keresidenan Malang karya Nur Hadi dan Sutopo, Soekardi (Nagamoto Sugiyama) bercerita: saat itu sekitar jam 04.30, mereka tengah bergerak dari Garotan menuju satu dataran tinggi bernama Arjosari. Pergerakan itu dilakukan karena berdasarkan informasi telik sandi, satu kekuatan pasukan Belanda tengah menuju kawasan yang sama, namun mereka bergerak dari arah Margosari yang berlawanan dengan posisi pasukan PGI. Versi lain menyatakan bahwa sejatinya pergerakan itu juga disertai satu regu pasukan dari ALRI Pasuruan pimpinan Letnan Satu Rachmat Sumengkar. Itu dikisahkan Letnan Kolonel Angkatan Laut Satmoko Tanoyo, salah satu anggota pasukan tersebut. “Di Garotan, kami mengadakan kerjasama dengan suatu kesatuan eks tentara Jepang, karena mereka sudah lama beroperasi di sana dan telah memiliki pangkalan sendiri,” demikian tulis Satmoko dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid V. Gabungan pasukan PGI dan Angkatan Laut Pasuruan lantas bergerak cepat lewat suatu jurang besar. Mereka berharap bisa mendahului pasukan musuh dan membuat posisi stelling di bukit yang berada di Arjosari. Namun saat akan melakukan pendakian, tiba-tiba terdengar teriakan seorang prajurit PGI dalam bahasa Jepang. “Ada musuuuhhh!!!” Dan memang, Soekardi melihat sekitar 20 meter di depan, sekitar satu kompi pasukan Belanda tengah bergerak sambil menyebar ke arah mereka. Maka dua pasukan yang bermusuhan itu lalu sama-sama kaget dan sejenak saling terdiam. Namun mereka cepat sadar dan beberapa detik kemudian keluarlah tembakan-tembakan gencar. “Tembakan dibuka oleh senapan mesin yang saya dan Umar (Tatsuji Maekawa) sedang pegang,” kenang Soekardi. Pertempuran jarak dekat berlangsung seru. Sementara pasukan Belanda tertahan namun tidak lama, karena tembakan dari arah kubu PGI semakin berkurang menyusul semakin minimnya amunisi dan tibanya bantuan musuh berupa sebuah pesawat terbang. Mayor Abdul Rachman lantas memerintahkan pasukannya untuk mundur ke suatu jurang di sebelah timur desa. Saat bergerak mundur itulah, sebutir peluru menembus kepala Mayor Abdul Rachman sehingga membuatnya tewas seketika. Mengetahui komandannya gugur, Abdul Majid (Goro Yamano) sempat bingung. Untuk menyelamatkan tubuh Mayor Abdul Rachman, ia kemudian memerintahkan dua kawannya menjalankan proses evakuasi secara cepat. Ia sendiri kemudian maju ke depan sambil melemparkan satu bom anti tank. Usai ledakan, Yamano melihat sekeliling dan tidak mendapatkan seorang pun di sekitarnya. Ia berpikir, semua anggota PGI sudah mundur, termasuk dua orang prajurit yang ia tugaskan membawa jasad Mayor Abdul Rachman. Karena itu, tanpa banyak pertimbangan, ia pun mengundurkan diri dan berusaha mendaki jurang ke arah seberang tempat pengunduran. Namun di sana pun, ia tidak menemukan kawan-kawannya. Sementara itu, pasukan PGI meneruskan perjalanan melampaui dua jurang sebelah timur untuk menjauhi musuh sehingga sampai di kampung Sumberagung. Di sana, mereka lantas beristirahat melepaskan lelah. Selang beberapa waktu kemudian, tiga orang pasukan bagian karaben tiba dalam keadaan sangat payah. Mereka datang tanpa Mayor Abdul Rachman dan Yamano serta dua prajurit lainnya. Kabar tentang komandan mereka baru jelas sekitar pukul 13.30 saat Abdul Majid datang dari jurusan Dampit. Ia menyatakan bahwa taichou sudah gugur dan kemungkinan jasadnya tertinggal di tempat pertempuran. * Tiga hari kemudian, Soekardi, Saleh (Isamu Hirouka) dan Subejo (Genji Hayashi) serta Satmoko dan Letnan Rachmat Sumengkar dari ALRI Pasuruan bergerak kembali ke Arjosari. Di sana, mereka menemui kepala desa setempat. Tanpa diminta, kepala desa memimpin 15 penduduk untuk ikut melakukan pencarian. Saat menuju lokasi, mereka menceritakan kepada keempat pejuang tersebut bahwa setelah pertempuran usai di Arjosari, sebuah pesawat terbang Belanda datang dan menembaki rumah-rumah. Banyak rakyat yang tewas dan luka-luka akibat serangan tersebut. Sampai di bekas lokasi pertempuran, mereka semua menyebar. Sulit juga untuk segera menemukan jasad Mayor Abdul Rachman. Hingga menjelang siang, Subejo tiba-tiba berlari dan berteriak bahwa ia melihat jasad komandannya di bawah jurang sebelah timur. Situasi wilayah itu sukar dijangkau pandangan mata dengan jelas karena merupakan jurang dalam yang sekelilingnya terdapat sebidang kecil padang rumput. Jasad Abdul Rahman tersandar tepat di bawah sebatang pohon besar. Sebuah lubang peluru menghiasai mata kanannya, bagian atas telinga kiri dan bahu kirinya. “Dua prajurit yang diperintahkan Yamano membawa mundur komandan tidak pernah ditemukan lagi. Bisa jadi mereka tertangkap atau dieksekusi di tempat lain,” ungkap Soekardi. Setelah berdoa, Soekardi lantas menggunting beberapa helai rambut di kepala komandannya lalu disimpan dalam sebuah amplop. Karena kondisi jasad sudah mulai rusak, maka diputuskan untuk memakamkan jasad Mayor Abdul Rachman di jurang itu. Pemakaman dilakukan secara Islam dan selesai jam 15.00. Karena tidak sempat membuat batu nisan, sebuah bambu besar ditancapkan di atas pusara. Saleh kemudian membubuhinya dengan pensil berwarna merah: Mayor Abdul Rachman Tatsuo Ichiki. Umur: 43 tahun, gugur tanggal 3-1-1949, pukul 07.30 pertempuran Arjosari, Sumberputih, wajak, Malang. Seorang samurai telah menggenapi janjinya: mati sebagai seorang petarung sejati.*





















