top of page

A Forgotten Exploding Arsenal

The battle area in the Cisokan River, Cianjur, Indonesia was like an exploding bullet warehouse, leaving the British soldiers in awe.

loading_historia_white.gif
transparant.png

The old Cisokan Bridge where the battle between Indonesian fighters and the British military took place. (Hendi Jo/Historia.ID)

21 Jan 2025
5 menit membaca

Diperbarui: 20 Nov 2025

BEHIND a series of high cliffs, a monument stands tall on the banks of the Cisokan River in Ciranjang sub-district, Cianjur, Indonesia. The monument looks dreary. Plastic waste and leaves are scattered around it. A line of faded writing can be read on the body of the monument: “Peristiwa Pertempuran, Pasukan Banteng-Hisbulloh/Sabilillah-Rakyat lawan Tentara Inggris" (The Battle of Banteng-Hisbulloh/Sabilillah-People against the British Army).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page