- 21 Nov 2023
- 2 menit membaca
Diperbarui: 26 Mei
SETELAH kursus pendidikan calon perwira bumiputra di Sekolah Militer Jatinegara ditutup, maka calon perwira yang akan menjadi perwira tentara kolonial Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) terpaksa harus belajar dulu ke Belanda. Mereka yang pernah sekolah sampai kelas tiga Hoogere Burgerschool (HBS) memenuhi syarat mendaftar ke Cadetten School (Sekolah Kadet) Alkmaar dan kemudian masuk Akademi Militer Koninklijk Militaire Academie (KMA) Breda.
Sebagai jebolan HBS di Batavia, Achmad Salim mencoba peruntungannya untuk bisa jadi opsir KNIL. Ia akhirnya diterima di sekolah kadet Alkmaar.
Achmad Salim, menurut Studbook'Oost-Indisch Boek (koleksi Arsip Nasional Den Haag), adalah pemuda kelahiran Padangsidempuan, Tapanuli, Sumatra Utara, 28 Desember 1901. Putra dari Djanin Gelar Djasadjoeangan dan Si Hadji itu tinggi badannya 1,577 cm. Sebelum di Belanda, dia tinggal di Batavia. Pada 23 Juli 1918 dia mulai menjadi kadet di Sekolah Kadet Alkmaar.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















