top of page

Adu Gengsi dengan Hak Tinggi

Sepatu hak tinggi seperti chopines sangat populer di kalangan wanita kaya Eropa. Ketinggian sepatu menunjukkan status sosial dan kekayaan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi wanita Eropa memakai sepatu hak tinggi pada abad ke-16. (Museo Stibbert, Florence).

1 hari yang lalu
4 menit membaca

SEPATU hak tinggi bukan sekadar alas kaki. Sejarah kemunculannya berkaitan dengan obsesi kaum elite untuk memamerkan kekayaan dan status sosial. Sejak awal abad pertengahan, kaum elite di Eropa mengenakan sepatu berbeda dengan rakyat biasa. Perbedaan itu dapat dilihat dari warna, bahan, dan alas kaki.


Para bangsawan mengenakan sepatu yang terbuat dari kain mewah, seperti sutra, beludru, brokat, dan kulit lembut. Guna memperindah tampilan, alas kaki dihiasi aneka sulaman, manik-manik, dan pewarna, yang menjadi penanda dari kalangan atas karena hanya mereka yang mampu membeli bahan-bahan mahal tersebut. Berbeda dengan kaum elite, para petani dan rakyat biasa mengenakan sepatu yang terbuat dari kulit dengan alas kaki sederhana dari balok kayu yang diukir seperti clogs.


Pada akhir abad pertengahan dan masa pencerahan, kaum elite memiliki lebih banyak pilihan model. Sementara rakyat biasa tetap mengenakan sepatu dengan desain dan bahan sederhana. Di masa inilah, chopines, alas kaki dengan sol setinggi puluhan inci, menarik perhatian para wanita kelas atas yang tergila-gila memamerkan kekayaan dan status sosial di hadapan umum.


Margo DeMello menulis dalam Feet and Footwear: A Cultural Encyclopedia, selama era Renaisans, sepatu dengan bentuk-bentuk tidak biasa bermunculan. Misalnya, sepatu berujung persegi yang dihias secara mewah dengan ujung selebar delapan atau sembilan inci. Lalu ada chopines, alas kaki dengan sol setinggi 20 hingga 30 inci.


“Keduanya hanya dikenakan oleh kalangan elite, dan chopines khususnya menjadi simbol status, karena para wanita yang mengenakannya jelas bukan berasal dari kalangan pekerja dan sering kali harus dibantu oleh pelayan untuk berjalan atau berdiri,” tulis DeMello.


Chopines sebagai penanda status sosial dan simbol kemewahan berkaitan dengan gagasan mengenai ketergantungan fisik, yang juga identik dengan kekayaan dan status, serta menjadi atribut yang sangat digemari oleh wanita dari kalangan atas.


Wanita Penghibur

Meski banyak digunakan oleh wanita dari kalangan atas, sejarah kemunculan chopines juga terkait dengan wanita penghibur di abad pertengahan. William Sharpe mencatat dalam The Art of Walking: A History in 100 Images, otoritas di beberapa wilayah Eropa menyusun aturan mengenai tata cara berpakaian para wanita penghibur untuk membedakan mereka dengan wanita “terhormat”.


“Warna kuning adalah warna paling umum yang dipaksakan kepada pekerja seks –di Leipzig, Pisa, Venesia, dan Wina, misalnya– sementara di London dan Bristol mereka diwajibkan mengenakan tudung atau penutup kepala bergaris, dan di Marseilles mengenakan tunik bergaris. Di Florence, seorang wanita pekerja seks harus mengenakan pakaian rumit yang mencakup sarung tangan hingga alas kaki bertumit tinggi,” tulis Sharpe.


Aturan penggunaan alas kaki dengan sol tinggi bagi wanita penghibur berkembang menjadi hal tak terduga. Setelah tahun 1400 para wanita dari kalangan atas, yang dianggap sebagai wanita “terhormat”, justru terobsesi dengan sepatu hak tinggi. Sebab, alas kaki tersebut memberi ilusi tinggi kepada penggunanya. Selain itu, sol yang tinggi juga mengharuskan penggunanya memperpanjang rok hingga menutupi bagian kaki. Dengan demikian, dibutuhkan lebih banyak kain mahal untuk membuat gaun tersebut.


Menurut DeMello, sepatu platform berhak kayu atau gabus dengan bagian belakang terbuka itu pada mulanya dikenakan oleh wanita kaya saat keluar rumah untuk melindungi kaki dan pakaian dari kotoran dan lumpur. Hal ini berkaitan dengan fungsi awal chopines yang semula sebagai pelindung alas kaki kemudian digunakan sebagai sepatu mandiri.


Pada abad ke-17, para wanita di Venesia mengenakan chopines yang terbuat dari sutra bersulam, beludru, atau bahan mewah lainnya, yang sering kali dirancang agar serasi dengan gaun yang dikenakan. Sepatu wanita dihias dengan mewah, umumnya dipasangkan gesper dan jalinan bordir yang dapat dilepas pasang dari satu sepatu ke sepatu lainnya.


“Karena sepatu selalu menjadi penanda kelas dan status, sepatu wanita secara historis menandakan status mereka sehubungan dengan nilai suami (atau ayah) mereka. Wanita kaya di Venesia mengenakan chopines untuk menambah tinggi badan dan status sosial, tetapi, seperti halnya sepatu hak tinggi saat ini, alas kaki tersebut tidak praktis sehingga menghambat mobilitas dan bahkan kesehatan seorang wanita,” tulis DeMello.


Peraturan Pembatasan

Popularitas chopines membuat para wanita dari kalangan elite ramai-ramai mengenakannya saat beraktivitas di luar rumah. Mereka berlomba-lomba meninggikan sol sepatu untuk menonjolkan kekayaan dan status sosial.


“Semakin tinggi seorang wanita, semakin kaya keluarganya, semakin tinggi status sosialnya, dan semakin memikat –jika dia mampu berjalan dengan anggun– sepatu yang dikenakannya,” tulis Sharpe.


Obsesi terhadap sepatu hak tinggi memicu persoalan. Meski dibantu banyak pelayan untuk menggunakannya, tak sedikit wanita yang terjatuh saat memakai sepatu hak tinggi. Sejumlah kasus keguguran dilaporkan karena beberapa wanita hamil nekat mengenakan alas kaki dengan sol tinggi.


Karena berbahaya dan terkait wanita penghibur, serangkaian undang-undang yang mengatur penggunaan chopines diberlakukan di Eropa. Pada abad ke-15, undang-undang yang membatasi tinggi chopines hanya tiga inci diberlakukan di Venesia. Namun, aturan ini tak diindahkan oleh para wanita yang terus mengenakan sepatu hak tinggi di sepanjang abad.


Pada abad ke-16, diberlakukan peraturan melarang penggunaan bahan tertentu, seperti emas dan perak pada sepatu, terutama pada chopines. Bahkan, karena banyak pengguna sepatu hak tinggi memakai chopines untuk memberikan ilusi tubuh lebih tinggi, pada 1670 Inggris memberlakukan aturan melarang wanita menggunakan sepatu hak tinggi untuk menipu pria mengenai tinggi badan mereka.


Undang-undang juga diberlakukan untuk membatasi konsumsi atau perilaku berlebihan untuk mengontrol penggunaan barang-barang mewah oleh kalangan non-elite. Misalnya, undang-undang yang disahkan oleh Louis XIV membatasi penggunaan sepatu hak merah hanya untuk anggota istana. Setelah Revolusi Prancis dan Revolusi Amerika, undang-undang pembatasan itu mulai menghilang di Eropa.


“Sepatu hak tinggi mulai tidak populer lagi setelah era revolusi pada akhir abad ke-18; sepatu dengan hak rendah bahkan dikenakan oleh kalangan elite selama abad ke-19 karena sepatu hak tinggi dikaitkan dengan kaum bangsawan yang sembrono setelah Revolusi Prancis,” tulis DeMello. Meski begitu, sepatu hak tinggi kembali menjadi tren di kalangan wanita pada akhir abad ke-19.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page