SEPATU hak tinggi bukan sekadar alas kaki. Sejarah kemunculannya berkaitan dengan obsesi kaum elite untuk memamerkan kekayaan dan status sosial. Sejak awal abad pertengahan, kaum elite di Eropa mengenakan sepatu berbeda dengan rakyat biasa. Perbedaan itu dapat dilihat dari warna, bahan, dan alas kaki.
Para bangsawan mengenakan sepatu yang terbuat dari kain mewah, seperti sutra, beludru, brokat, dan kulit lembut. Guna memperindah tampilan, alas kaki dihiasi aneka sulaman, manik-manik, dan pewarna, yang menjadi penanda dari kalangan atas karena hanya mereka yang mampu membeli bahan-bahan mahal tersebut. Berbeda dengan kaum elite, para petani dan rakyat biasa mengenakan sepatu yang terbuat dari kulit dengan alas kaki sederhana dari balok kayu yang diukir seperti clogs.
Pada akhir abad pertengahan dan masa pencerahan, kaum elite memiliki lebih banyak pilihan model. Sementara rakyat biasa tetap mengenakan sepatu dengan desain dan bahan sederhana. Di masa inilah, chopines, alas kaki dengan sol setinggi puluhan inci, menarik perhatian para wanita kelas atas yang tergila-gila memamerkan kekayaan dan status sosial di hadapan umum.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















