- Amanda Rachmadita
- 10 Jan 2024
- 4 menit membaca
Diperbarui: 28 Jan
SABTU malam, 31 Agustus 1602. Neeltgen Cornelis bimbang. Sejak beberapa waktu yang lalu kakinya tak berhenti bergerak, seakan hal itu dapat membantunya membuat keputusan penting. Sesekali melirik jam, namun alih-alih bergegas, Neeltgen justru kembali termenung. Diabimbang selama berhari-hari, pikirannya berputar pada kemungkinan-kemungkinan spekulatif.
“Jika aku melakukannya, keuntungan yang besar sudah pasti di tangan. Namun, jika ini tidak berjalan sesuai rencana maka habislah aku,” kurang lebih itulah yang ada di pikiran asisten rumah tangga tersebut.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












