Diperbarui: 6 Agu
JAUH sebelum begal berkeliaran seperti sekarang, Kota Medan pernah lebih mencekam dengan keberadaan gerombolan begundal. Sebermula ketika Belanda angkat kaki dan Jepang menguasai kota. Ada saja kelompok berandalan liar yang memanfaatkan masuknya serdadu Jepang untuk memperkaya diri lewat cara-cara kriminal.
“Kelompok bandit ini melakukan penjarahan, perampokan dan mencuri harta benda, terutama milik Belanda si pecundang perang,” kenang Matiur Tambunan seperti ditulis Herry Gendut Janarto dalam biografi Matiur M. Panggabean, Bunga Pansur dari Balige: Pengabdian dan Keteguhan Iman Seorang Istri Prajurit. Matiur kelak lebih dikenal sebagai istri dari Jenderal Maraden Panggabean (Panglima ABRI 1973-1978).
Di masa pendudukan Jepang, kehidupan sosial masyarakat sangat memprihatinkan. Disebutkan dalam Sejarah Daerah Sumatra Utara yang ditulis tim peneliti Depdikbud, masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sandang. Untuk itu, pemerintah pendudukan Jepang mengerahkan masyarakat untuk proyek kerja paksa (kinrohosi).
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















