top of page

Sejarah Indonesia

Bercanda Gaya Akademi

Bercanda Gaya Akademi Militer

Bagaimana para kadet Akademi Militer Yogyakarta angkatan pertama membangun semangat korps lewat perilaku-perilaku lucu.

Oleh :
8 Agustus 2019

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Para kadet MA saat terjun dalam Perang Kemerdekaan (Dok. Moehkardi)

HUBUNGAN perkawanan antara sesama kadet Akademi Militer Yogyakarta angkatan pertama (1948) dan para instrukturnya, dikenal sangat erat dan kompak. Menurut Sajidiman Surjohadiprodjo, keadaan tersebut bukan saja menimbulkan keakraban dan kekompakan sepanjang hayat namun juga munculnya kisah-kisah lucu di kalangan mereka.


“Terdapat banyak anekdot yang beredar di kalangan kami,” ujar kadet angkatan pertama di Akademi Militer Yogyakarta itu.


Ada suatu cerita yang kerap dikenang oleh anak-anak Akademi Militer Yogyakarta angkatan awal yakni kisah celana pinjaman Aswawarmo, salah seorang instruktur di akademi militer tersebut. Kisah itu pernah ditulis oleh Daud Sinjal dalam Laporan Kepada Bangsa.


Ceritanya, suatu hari Aswawarmo meminjam celana lapangan dari seorang kadet. Setelah dipakai beberapa kali oleh sang instruktur, celana itu lantas dipinjam oleh seorang “kadet tengil” bernama Akub Zaenal (kelak menjadi Gubernur Irian Jaya). Namun karena kekuarangan makan, celana itu setelah dipakai Akub kemudian berpindah tangan ke tukang loak.


Hasil dari penjualan itu lantas dipakai untuk pesta makan-makan oleh beberapa kadet dan instruktur termasuk Aswawarmo. Di akhir pesta, Aswawarno menanyakan kok tumben mereka bisa makan enak, duitnya dari mana? Tak ada jawaban, kecuali suara tawa dan rasa riang gembira dari semua kadet, termasuk sang pemilik celana.


Dari Kompi I Akademi Militer Yogyakarta, tersebutlah para kadet yang berasal Yogyakarta, Solo, Bandung dan Jakarta. Dengan latarbelakang tempat dan budaya itu, tentu saja ada perbedaan gaya dalam tatacara bergaul di antara mereka. Jika anak-anak Yogya dan Solo pergaulannya lebih njawani: penuh dengan tatakrama, serius dan banyak basa-basi, maka anak-anak Bandung dan Jakarta sebaliknya: lebih lepas, humoris dan terkesan apa adanya.


“Anak-anak Jakarta dan Bandung itu kalau ngobrol kayak mitraliur saja: tak putus dan bersahut-sahutan, bergaya sinyo Kemayoran” kenang Brigjen (Purn) Trihardjo, eks kadet Akademi Militer Yogyakarta asal Solo.


Suatu hari, anak-anak Yogyakarta dan Solo yang ada di Seksi I tengah makan berjamaah. Tetiba lewatlah Akub Zaenal. Begitu melihat kawannya dari Seksi III itu, serentak mereka mengajak Akub itu mampir dan makan bersama.


“Mas, ayo mari kita sama-sama makan…” ujar Trihardjo seperti dikisahkan dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan, terbitan Markas Besar LVRI.


Alih-alih menjawab ramah dan simpatik, Akub yang anak Betawi asli itu malah menjawabnya dalam nada bercanda: “Sialan lu, panggil gue Mas lagi, Emangnya gw ngawinin mbakyu lu!”

Sontak semua anak Seksi I jadi terbengong-bengong dan merasa aneh bercampur masygul.


Salah seorang mantan instruktur Akademi Militer Yogyakarta kemudian menjadi perwira staf di MBAD (Markas Besar Angkatan Darat) dengan pangkat terakhir letnan kolonel. Hubungan dengan para perwira, bekas anak didiknya di Yogya tetap berlangsung akrab. Itu dibuktikan dengan kerapnya mereka bertegur sapa secara informal tanpa peduli soal kepangkatan.


Salah seorang eks kadet Yogya bernama Sabrawi Istanto kemudian dinaikan pangkatnya menjadi kolonel.Namun eks instruktur itu pun seperti tak peduli. Suatu hari, ia bertemu dengan Sabrawi di gedung MBAD dan langsung menyapa akrab:”Wi!”


Sabrawi yang tengah bangga-bangganya menyandang pangkat kolonel itu lantas meresponnya dengan jawaban:”Wa, Wi, Wa, Wi…Kolonel kek, Bapak kek,” ujarnya.Memang sedikit bergurau.


Eh kala Akub Zaenal diangkat menjadi Brigadir Jenderal, situasi itu kembali terulang. Namun kali ini, Sabrawi yang begitu berpapasan dengan Brigjen Akub ia berseru, ”Hei, Kub!”…Akub langsung menjawabnya: “Kab, Kub, Kab, Kub…Jenderal kek, hormat kek…”

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
Tedy Jusuf Jenderal Tionghoa

Tedy Jusuf Jenderal Tionghoa

Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
Soeharto Menemukan "Tempatnya" di Barak KNIL

Soeharto Menemukan "Tempatnya" di Barak KNIL

Sebagai anak “broken home”, Soeharto pontang-panting cari pekerjaan hingga masuk KNIL. Copot seragam ketika Jepang datang dan pulang kampung dari uang hasil main kartu.
Alex Kawilarang Menolak Disebut Pahlawan

Alex Kawilarang Menolak Disebut Pahlawan

Alex Kawilarang turut berjuang dalam Perang Kemerdekaan dan mendirikan pasukan khusus TNI AD. Mantan atasan Soeharto ini menolak disebut pahlawan karena gelar pahlawan disalahgunakan untuk kepentingan dan pencitraan.
Melatih Andjing NICA

Melatih Andjing NICA

Martin Goede melatih para mantan interniran Belanda di kamp. Pasukannya berkembang jadi andalan Belanda dalam melawan pejuang Indonesia.
Anak Jakarta Jadi Komandan Andjing NICA

Anak Jakarta Jadi Komandan Andjing NICA

Sjoerd Albert Lapré, "anak Jakarte" yang jadi komandan kompi di Batalyon Andjing NICA. Pasukannya terdepan dalam melawan kombatan Indonesia.
bottom of page