- 13 Jun 2025
- 2 menit membaca
Diperbarui: 2 Mar
KETIKA berkuasa, Presiden Sukarno berusaha mengikis mistik dan takhayul yang sudah mendarah daging di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Salah satunya dengan memajukan sains dan teknologi yang terus diperhatikan pemerintahannya. Dengan sains-tek, ia berharap masyarakat bisa memperdalam dan mengembangkan keilmuan antariksa yang mulai marak. Ia ingin bangsanya menyaingi bangsa-bangsa Barat.
Kaum elite Belanda sudah lebih dulu mempelajari benda-benda di antariksa beserta fenomena-fenomenanya. Di masa kolonial, mereka sudah punya wahana untuk mempelajarinya, yakni teropong bintang yang berada di Observatorium Bosscha di Lembang. Bangunan yang berdiri sejak 1923 itu dirancang arsitek yang juga dosen Bung Karno semasa kuliah di Technische Hoogeschool Bandoeng (kini Institut Teknologi Bandung/ITB), yakni Charles Prosper Wolff Schoemaker. Maka di masa pasca-kemerdekaan ketika Bung Karno sudah punya kekuasaan, ia ingin membangun wahana yang lebih besar dan bermanfaat berupa planetarium.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












