- 28 Jul 2025
- 4 menit membaca
ESKALASI konflik perbatasan dua negara bertetangga, Kamboja dan Thailand, sejak 28 Mei 2025 memuncak pada Kamis (24/7/2025) pagi pasca-insiden meledaknya ranjau sehari sebelumnya. Roket-roket BM-21 yang diluncurkan Kamboja dibalas serangan udara pesawat-pesawat F-16 Thailand.
Konflik tersebut memicu reaksi negara-negara ASEAN lain. Jika negara-negara ASEAN lain mengutarakan keprihatinannya via Kementerian Luar Negeri masing-masing, Malaysia vokal menyuarakan penyelesaian damai. Perdana Menteri (PM) Anwar Ibrahim langsung aktif mengontak PM Kamboja Hun Manet dan Plt. PM Thailand Phumtham Wechayachai pada Kamis (24/7/2025) petang agar kedua belah pihak mau menahan diri dan mencapai gencatan senjata.
“Dalam percakapan tersebut, atas kapasitas Malaysia selaku Ketua ASEAN 2025, saya membujuk kedua pemimpin agar segera melakukan gencatan senjata agar menghindari konflik yang lebih buruk dan menciptakan ruang untuk dialog damai dan resolusi diplomatis. Saya menyambut sinyal-sinyal positif dan kemauan yang ditunjukkan Bangkok dan Phnom Penh untuk mempertimbangkan masalah ini. Malaysia bersedia membantu proses ini dengan semangat persatuan ASEAN dan tanggung jawab bersama. Saya yakin kekuatan ASEAN terletak di dalam solidaritasnya dan bahwa perdamaian mesti menjadi pilihan kolektif kita,” ungkap PM Anwar Ibrahim di akun X-nya, @anwaribrahim, Kamis (24/7/2025) malam.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















