top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Cara Sersan Kunto Mengolah Uang Lotre

Kunto tahu cara mengelola uang lotre. Tanpa gaji bulanan pun dia bisa hidup.

15 Apr 2023

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Tentara KNIL sedang rehat di tepi sebuah sungai. (Tropenmuseum).

  • 15 Apr 2023
  • 3 menit membaca

DENGAN sekolah di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA), seharusnya Kunto bisa jadi pegawai negeri kolonial yang hidupnya nyaman. Namun hidup adalah pilihan. Kunto keluar setelah kelas dua.


Di tahun 1925, Kunto sudah masuk militer. Setelah mendaftar, dia belajar di Kaderschool Magelang. Begitu lulus sekolah kader tentara itu dia menjadi sersan dan bertugas di luar Jawa.


Sebagai anggota tentara kolonial Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL), dia pernah bertugas di Kutaraja, Tapak Tuan, Purworejo, Semarang, dan Magelang. Dia kembali lagi ke Magelang sekitar 1938.


Ketika bertugas di Magelang itu, Kunto sering iseng membeli lotere dan mendapatkan banyak uang darinya. Majalah Benteng Negara tahun 4 tahun VIII 1957 menyebut, dia enam kali memenangkan lotere berhadiah uang sangat besar. Jika ditotal, uang lotere yang diperolehnya itu mencapai 30 ribu gulden.



Kunto ternyata tidak sembarangan dengan uangnya. Mayoritas dari uang itu dibelikan tiga mobil untuk dijadikan taksi dan dua vrachtauto (truk). Itu semua dibelinya bukan untuk dipakainya, melainkan disewakan.


Sebagai sersan yang bertugas lebih dari 10 tahun, gaji Kunto sudah mencapai 260 gulden. Sersan yang baru berdinas, menurut Boediardjo dalam Siapa Sudi Saya Dongengi, gajinya 60 gulden. Satu gulden sama dengan 100 sen. Harga beras sekitar tahun 1940 itu sekira 6 sen. Menurut Raden Soeprono dalam autobiografinya, R. Soeprono: Selangkah Tapak Tiga Zaman: Mahasiswa Pejuang Kedokteran, antara tahun 1930 hingga 1942 harga emas berkisar 1,5-2 gulden per gram.


Dari bisnis sewa kendaraannya, dalam sebulan Kunto mengantongi sekitar 750 gulden. Tentu saja ada bulan-bulan jumlahnya tidak mencapai angka itu. Jika hitung kasar tiap bulan mendapat setengahnya dari jumlah itu saja, Kunto masih terhitung kaya di zamannya.


Pernah total penghasilannya –dari gaji dan bisnis sewa mobil– mencapai 1.010 gulden tiap bulan. Itu terjadi ketika dia di Magelang.



Namun, sebagai tentara dia harus mau ditempatkan di mana saja. Dari Magelang, Kunto dipindah ke Ambon. Semasa di Ambon, Kunto menikahi Raden Ajeng Djamilah yang jago memasak. Pangkat Kunto sendiri sudah naik jadi sersan mayor. Sebelum zaman Jepang datang, harta Kunto mencapai 75 ribu gulden. Jumlah itu amat banyak untuk orang pribumi bahkan untuk seorang sersan sekalipun.


Ketika tentara Jepang masuk Ambon, Kunto dan istrinya mengungsi ke luar kota. Begitu mereka pulang ke rumah, ternyata uang Kunto yang disimpan di rumah sudah raib. Padahal, di zaman pendudukan Jepang itu Kunto telah kehilangan pemasukan bulanan yang lebih dari 250 gulden sebulan itu.


Mau-tak mau Kunto mesti memulai lagi hidupnya dari “awal”. Dalam kondisi ekonomi sulit dan sisa uang 300 gulden itu, Kunto dan istrinya membuka warung makan yang dinamai Sederhana. Dalam hitungan lima bulan, warung itu telah menambah jumlah uang mereka berdua menjadi sekitar 20 ribu gulden.



Warung Sederhana harus tutup pada Agustus 1942 karena Kunto dan Djamilah serta sekitar 100 orang Jawa lain memilih pulang ke Jawa bersama-sama dengan sebuah perahu layar. Kunto bukan satu-satunya sersan Jawa di Ambon waktu itu. Gatot Subroto juga berada di Ambon waktu Belanda kalah.


Sampai di Jawa, Kunto dan istrinya hidup tenang di kampung. Setelah Indonesia merdeka, Kunto ikut Badan Keamanan Rakjat (BKR) lalu Tentara Keamanan Rakjat (TKR) di Purworejo. Dia langsung jadi pembantu letnan TKR sebagai mantan sersan mayor KNIL. Pangkatnya naik jadi letnan satu setelah kunjungan Kepala Staf TKR Oerip Soemohardjo.


Di era 1950-an, Kunto bertugas di bagian keuangan lalu pindah ke intendans. Pada 1957, Kunto menjadi kepala Corps Intendans Angkatan Darat di Komando Tentara dan Teritorium VI Jawa Tengah dengan pangkat mayor. Namun, sebagai perwira Kunto justru tak sekaya ketika jadi sersan di Magelang dulu.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page