- 4 Sep 2025
- 6 menit membaca
Diperbarui: 23 Mei
DEBAT di arena kongres VII ISDV berlangsung seru. Dua kubu beradu argumentasi ihwal perlu tidaknya merespons tawaran Henk Sneevliet untuk bergabung dengan Komintern. Semaoen dan Pieter Bergsma setuju ISDV merapat ke Moscow. Menurut mereka, penggabungan yang disertai syarat perubahan nama organisasi perlu dilakukan untuk menarik garis demarkasi antara kelompok sosialis sejati dengan sosialis palsu. Adapun Hartogh, sang ketua, tegas menolak. Dia berpandangan, gerakan kiri di Hindia Belanda saat itu belumlah kuat. Ketimbang bergabung dengan Komintern, kata Hartogh lebih baik fokus bekerja membangunkan rakyat dengan memperbanyak pengalaman proletariat.
Het Vrije Woord melaporkan, perdebatan pada 23 Mei 1920 itu terus berlanjut dan tak menghasilkan titik temu. Pemimpin sidang lalu menggelar voting. Hasilnya, mayoritas peserta kongres ingin bergabung dengan Komintern dan menyepakati perubahan nama ISDV menjadi Persarekatan Komunis di Hindia (PKH). Petrus Blumberger dalam De Communistische Beweging in Nederlandsche Indie menyebut peristiwa yang menjadi tonggak kelahiran PKI itu terjadi di Kantor Sarekat Islam (SI) Semarang.
Kantor SI Semarang yang dimaksud Blumberger berada di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur. Kini, setelah 95 tahun, ia masih berdiri tegak di tengah permukiman warga. Pada 2012, bangunan yang kerap disebut Gedung SI itu, pernah hendak dibongkar oleh yayasan pengelola. Namun, niat itu berhasil digagalkan oleh para pegiat sejarah di Kota Lumpia. Medio 2014 Gedung SI ditetapkan sebagai cagar budaya dan dipugar dengan anggaran Rp600 juta dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Namun, sayang hingga kini, bangunan itu tak kunjung difungsikan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















