- 6 Sep 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 23 Mei
PADA secarik kain belacu putih yang telah menguning lapuk dimakan usia itu tertera sembilan nama penandatangan. Mereka adalah Semaoen, Boedisoetjitro, Mohamad Kasan, Hadji Boesro, Kadarisman, Soeradi, H.W. Dekker, P. Bergsma, dan Tan Malaka. Dari coretan tinta di akhir surat, masih bisa terlihat jelas siapa saja pemilik tandatangan.
Kesembilan orang tersebut memberi mandat kepada Henk Sneevliet untuk menjalankan tugas dan membuat keputusan atas nama mereka selaku pengurus Perserikatan Komunis di Hindia (Partij der Kommunisten in Indie, kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia) dan Sarekat Islam. Perserikatan Komunis di Hindia berdiri pada 23 Mei 1920, setelah sebelumnya bernama ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging atau Perkumpulan Sosial Demokrat Hindia Belanda).
Tidak ada penjelasan kenapa surat kuasa bertitimangsa 5 September 1921 itu diketik di atas secarik kain, bukan kertas sebagaimana umumnya surat kuasa. Besar kemungkinan surat tersebut diselundupkan melalui para pelaut yang pergi berlayar ke Belanda. Sejarawan Harry A. Poeze memperkuat dugaan itu. Menurut penulis biografi Tan Malaka ini, korespondensi di kalangan tokoh-tokoh komunis dilakukan secara rahasia untuk menghindari sensor dan penyitaan pemerintah kolonial.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















