top of page

Cerita di Balik Nama Fredy S

Ibunya sudah tak kuat merawatnya. Orang tua angkatnya memberi nama Bambang Eko Siswanto, yang kemudian lebih dikenal sebagai Fredy S.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Fredy S bersama ibu angkatnya, Amanah, di Semarang tahun 1972. (Dok. Keluarga Fredy S/Historia.ID).

2 Apr 2023
2 menit membaca

Diperbarui: 24 Jan

JUARIYAH tergopoh-gopoh membawa anak keduanya yang baru berusia tiga bulan ke sebuah rumah sakit di Kalisari, Semarang. Dokter mendiagnosis bayi itu sakit paru-paru basah sehingga harus dirawat di rumah sakit.


Sementara Juariyah hidup pas-pasan. Tak ada lagi sandaran hidup setelah berpisah dari suaminya, M. Zein, seorang keturunan Arab, yang memutuskan kembali ke Jakarta. Dalam keputusasaan, ia bergumam: “Aku sudah capek di rumah sakit. Kalau ada yang mau anak ini, aku akan memberikannya.”

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page