- 19 Jul 2016
- 4 menit membaca
Diperbarui: 7 Apr
DI Bandara Halim Perdanakusuma, sesaat sebelum terbang menuju Jerman dan Hungaria, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan berdasarkan laporan intelijen akan ada gerakan kudeta. Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) yang didirikan ratusan tokoh di Cisarua, Bogor pada Januari 2013, akan turun ke jalan secara besar-besaran pada 24-25 Maret menuntut SBY turun karena dianggap gagal.
SBY menanggapinya dengan sungguh-sungguh. Sepulang dari lawatan, SBY mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, tujuh purnawirawan jenderal, 20 pemimpin redaksi media massa, dan petinggi 13 organisasi masyarakat Islam. Kepada mereka, SBY membagi cerita kudeta.
Bukan kali ini SBY mengungkapkan adanya rencana kudeta. Pada 2009, dia menggelar jumpa pers untuk memaparkan sejumlah potret hasil kerja intel yang menunjukkan bahwa dia menjadi target teroris. Pada 2010, organisasi Petisi 28 menggulirkan isu kudeta saat umur jabatan presiden SBY genap setahun. Salah satu tokoh yang mendengungkan revolusi perebutan kekuasaan adalah Rizal Ramli, mantan menteri koordinator perekonomian era Abdurrahman Wahid. Tahun berikutnya, sejumlah purnawirawan jenderal berencana mengkudeta melalui gerakan Dewan Revolusi Islam. Semua gerakan itu tak terjadi.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















