- 7 hari yang lalu
- 7 menit membaca
PEMANDANGAN yang menyambut mata para peternak domba di sejumlah wilayah di Selandia Baru, sungguh mengerikan. Padang rumput berubah menjadi hamparan tanah tandus. Rumput, tanaman herba, hingga kulit kayu pohon-pohon muda lenyap oleh kawanan kelinci bak “mesin penyedot”. Nyaris tak ada yang tersisa bagi domba-domba penghasil wol.
Produksi peternakan terkena dampaknya. Di Pulau Utara, suratkabar Poverty Bay Herald edisi 18 Desember 1922 melaporkan, jumlah domba berkurang drastis hampir 100.000 ekor di beberapa peternakan besar antara Taihape dan Hawke's Bay. Salah satu peternakan yang sebelumnya mampu memelihara 30.000 domba saat itu hanya menampung 8.000 ekor.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












