- 19 Jan 2020
- 3 menit membaca
Diperbarui: 25 Apr
PARA pendukung gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) beberapa kali melakukan aksi di Belanda. Aksi pertama pada 31 Agustus 1970, mereka menyerang Wisma Indonesia, kediaman Duta Besar Indonesia, di Wassenaar. Hari itu bertepatan dengan kedatangan istri Mr. Dr. C.R.S. Soumokil, proklamator dan presiden pertama RMS, di Belanda. Dalam kontak senjata, seorang polisi Belanda, Hans Molenaar, mati. Duta Besar Letjen TNI (Purn.) Taswin Natadiningrat berhasil meloloskan diri.
"Dia tiba di Kasteel Oud Wassenaar. Di sana dia mengungkapkan jati dirinya dan minta supaya Menlu Joseph Luns ditelepon untuk mengabarkan nasib yang menimpa Dubes RI. Luns datang, demikian juga PM Piet de Jong," tulis wartawan senior, Rosihan Anwar, dalam Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia, Volume 1.
Lima tahun kemudian, pada 2 Desember 1975, tujuh pemuda RMS membajak kereta api di Wijster, dekat Assen, kota yang dekat dengan kawasan permukiman komunitas Maluku terbesar di Belanda. Pembajakan yang berlangsung 12 hari itu mengakibatkan tiga orang sandera mati. Para pembajak dijatuhi hukuman 14 tahun. Anggota pembajak yang paling fanatik, Eli Hahury, bunuh diri di penjara pada 1978.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















