- 30 Apr 2025
- 6 menit membaca
Diperbarui: 5 Jun
SEJAK Konferensi Asia-Afrika sukses diselenggarakan di Bandung pada 18 hingga 24 April 1955, ibu kota Jawa Barat itu dipandang sebagai pusat gerakan pembebasan dan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme yang mengancam perdamaian dunia. Perwakilan dari 29 negara Asia dan Afrika hadir di Bandung untuk membahas berbagai isu global dan menggalang solidaritas di tengah perebutan dominasi Barat dan Timur.
Konferensi Bandung ini lebih dari sekadar pertemuan internasional terbesar pertama setelah Perang Dunia II. Konferensi ini merupakan tonggak penting dalam sejarah dunia. Sebab, dalam pertemuan inilah untuk pertama kalinya negara-negara non-Barat secara kolektif menggabungkan kekuatan tanpa Barat.
Sejarawan Belgia, David van Reybrouck, mengatakan dalam kuliah umum “Peran Indonesia dalam Pembebasan Asia-Afrika” yang menjadi bagian dari acara peringatan 70 Tahun Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan PDI Perjuangan di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 26 April 2025, Indonesia bukan saja negara pertama yang mendeklarasikan kemerdekaannya sesaat setelah berakhirnya Perang Dunia II, tetapi juga menjadi salah satu negara yang berdiri paling depan dalam melawan kolonialisme dan imperialisme, serta memberikan dukungan kepada bangsa-bangsa yang tengah memperjuangkan kemerdekaan sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan perdamaian dunia serta kehidupan yang adil dan setara untuk semua bangsa.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















