top of page

Dampak Konferensi Asia-Afrika Terhadap Dunia

Semangat Bandung menyebar melampaui benua Asia dan Afrika. Sejarawan Belgia, David van Reybrouck mengungkap dampak Konferensi Asia Afrika terhadap Amerika, Eropa hingga Antartika.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sejarawan Belgia, David van Reybrouck, memberikan kuliah umum “Peran Indonesia dalam Pembebasan Asia-Afrika” secara daring dalam acara peringatan 70 Tahun Konferensi Asia-Afrika pada Sabtu, 26 April 2025, (Youtube PDI Perjuangan).

30 Apr 2025
6 menit membaca

Diperbarui: 5 Jun

SEJAK Konferensi Asia-Afrika sukses diselenggarakan di Bandung pada 18 hingga 24 April 1955, ibu kota Jawa Barat itu dipandang sebagai pusat gerakan pembebasan dan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme yang mengancam perdamaian dunia. Perwakilan dari 29 negara Asia dan Afrika hadir di Bandung untuk membahas berbagai isu global dan menggalang solidaritas di tengah perebutan dominasi Barat dan Timur.


Konferensi Bandung ini lebih dari sekadar pertemuan internasional terbesar pertama setelah Perang Dunia II. Konferensi ini merupakan tonggak penting dalam sejarah dunia. Sebab, dalam pertemuan inilah untuk pertama kalinya negara-negara non-Barat secara kolektif menggabungkan kekuatan tanpa Barat.


Sejarawan Belgia, David van Reybrouck, mengatakan dalam kuliah umum “Peran Indonesia dalam Pembebasan Asia-Afrika” yang menjadi bagian dari acara peringatan 70 Tahun Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan PDI Perjuangan di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 26 April 2025, Indonesia bukan saja negara pertama yang mendeklarasikan kemerdekaannya sesaat setelah berakhirnya Perang Dunia II, tetapi juga menjadi salah satu negara yang berdiri paling depan dalam melawan kolonialisme dan imperialisme, serta memberikan dukungan kepada bangsa-bangsa yang tengah memperjuangkan kemerdekaan sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan perdamaian dunia serta kehidupan yang adil dan setara untuk semua bangsa.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
bg-gray.jpg
Cerita dari Museum Gatot Soebroto di Ungaran. “Rumah Prihatin” yang kaya cerita meski hanya setahun ditinggali sang jenderal.
bg-gray.jpg
Selepas meninggalkan militer, Gatot Soebroto ikut mendirikan IPKI dan lolos ke parlemen. Namun, dia mengundurkan diri karena diangkat sebagai wakil KSAD.
Delapan akademisi mencurahkan harapan dan usulan rekomendasi untuk keadilan Pemilu. Mengingatkan spirit para pendiri bangsa dan perjuangan Reformasi 1998.
Delapan akademisi mencurahkan harapan dan usulan rekomendasi untuk keadilan Pemilu. Mengingatkan spirit para pendiri bangsa dan perjuangan Reformasi 1998.
Pameran foto-foto zaman revolusi yang belum pernah beredar. Menampilkan wajah baru sejarah Indonesia awal kemerdekaan.
Pameran foto-foto zaman revolusi yang belum pernah beredar. Menampilkan wajah baru sejarah Indonesia awal kemerdekaan.
Seperti halnya Lebaran, anak-anak dan para jemaat mengenakan baju baru di hari Natal.
Seperti halnya Lebaran, anak-anak dan para jemaat mengenakan baju baru di hari Natal.
Mengutip pidato Sukarno, Basuki Tjahaja Purnama meminta pendukungnya tidak golput. Pilihlah partai politik yang teruji dan berkomitmen pada Pancasila.
Mengutip pidato Sukarno, Basuki Tjahaja Purnama meminta pendukungnya tidak golput. Pilihlah partai politik yang teruji dan berkomitmen pada Pancasila.
Selain Indonesia, ada tiga negara lain yang pernah batal jadi host Piala Dunia U-20. Salah satunya bahkan sampai dua kali.
Selain Indonesia, ada tiga negara lain yang pernah batal jadi host Piala Dunia U-20. Salah satunya bahkan sampai dua kali.
Setelah lama berseberangan, pemerintah Jepang akhirnya merekrut sastrawan komunis, Takeda Rintaro. Dikirim ke Jawa untuk memimpin Pusat Kebudayaan.
Setelah lama berseberangan, pemerintah Jepang akhirnya merekrut sastrawan komunis, Takeda Rintaro. Dikirim ke Jawa untuk memimpin Pusat Kebudayaan.
transparant.png
bottom of page