HOTEL Lutetia pernah menjadi tempat berkumpul kalangan intelektual Jerman yang menentang pemerintahan fasis Adolf Hitler. Namun, di masa Perang Dunia II, hotel tersebut beralih fungsi sebagai markas Abwehr, dinas intelijen militer Jerman.
Diresmikan pada 28 Desember 1910, Hotel Lutetia menjadi salah satu penginapan paling modern di Prancis. Kamar-kamarnya dilengkapi fasilitas mutakhir, mulai dari pendingin udara, air panas, telepon untuk menghubungi resepsionis, hingga perabotan terkini dari Le Bon Marché, pusat perbelanjaan pertama di Paris yang inovatif. Dua bangunan ini berkaitan yang dibangun oleh keluarga Boucicaut.
Sejarawan Michael R. Marrus mencatat dalam “Lutétia: A Luxury Hotel in Paris Meets the Holocaust”, termuat di Beyond “Ordinary Men”, Hotel Lutetia dibangun untuk menampung para pembeli dan pemasok kaya dari luar kota yang hendak berbelanja di Le Bon Marché. Hotel itu tidak hanya dibangun dengan fasilitas mewah kelas atas, tetapi juga dirancang dengan gaya art deco yang memukau serta dihiasi karya-karya avant-garde dari seniman terkemuka Prancis.
“Sejak awal berdirinya, hotel ini sering dikunjungi oleh sejumlah tokoh seni dan intelektual terkenal dari Prancis, bahkan dari seluruh dunia, termasuk Picasso, Matisse, Joyce, Samuel Beckett, Ernest Hemingway, André Malraux, Saint-Exupéry, dan Josephine Baker –yang namanya diabadikan sebagai nama bar ‘Joséphine’. Charles de Gaulle dan istri, Yvonne, menghabiskan malam pernikahan mereka di sana pada 1921,” tulis Marrus.
Komite Lutetia Menentang Hitler
Sejak dua belas ruang pesta dibangun untuk acara-acara khusus pada 1912, malam-malam penuh suka cita di Hotel Lutetia tak boleh dilewatkan oleh mereka yang berkunjung ke Paris. Salah satu penampilan yang paling dinanti adalah orkestra di balkon atas ruang dansa. Namun, semarak di ruang pesta berhenti seiring dimulainya Perang Dunia I.
Menurut Mark Seal dalam “Paris’ Hotel Lutetia Is Haunted by History,” termuat di Smithsonian Magazine, April 2019, dalam semalam, setengah dari karyawan hotel, termasuk manajer umum, dikirim untuk melawan Jerman. Salah satu ruangan, yang sebelumnya menjadi tempat berkumpul kalangan elite, diserahkan kepada Palang Merah dengan sejumlah tempat tidur dari kamar-kamar, untuk dijadikan area perawatan korban-korban terluka.
Setelah Perang Dunia I, Hotel Lutetia kembali menjadi rumah bagi para penikmat pesta dan pencari inspirasi untuk karya-karya besar. Misalnya, James Joyce menulis bagian-bagian dari magnum opus Ulysses, dengan bantuan sekretaris pribadi, Samuel Beckett. Novelis sekaligus penyair Irlandia itu sempat memainkan piano di lobi ketika mengunjungi Hotel Lutetia.
Ketika Hitler naik ke tampuk kekuasaan tertinggi Jerman, Hotel Lutetia menjadi tujuan orang-orang Jerman yang menentang pemerintahan fasis sang Fuhrer. Pertemuan-pertemuan diadakan di sana hingga terbentuk komite perlawanan terhadap Nazi.
“Novelis Jerman Thomas Mann dan saudaranya, Heinrich, yang mendirikan Komite Lutetia, bertemu dengan para pengungsi Jerman lainnya di hotel tersebut selama tahun 1930-an untuk merencanakan pemerintahan baru yang akan mengambil alih kekuasaan,” tulis Seal.
Hotel Lutetia pun menjadi markas perlawanan anti-Nazi yang mengungsi dari rezim Hitler, terutama kelompok sosial demokrat. Keberadaan komite itu diketahui oleh Nazi. Kementerian Propaganda atau pers Jerman menyebut aktivitas para pengungsi di Paris itu dengan sebutan Komite Lutetia.
Di Bawah Kendali Intelijen Nazi
Gerakan anti-Nazi di Hotel Lutetia berakhir ketika Prancis jatuh ke tangan Wehrmacht pada 1940. Masuk dalam daftar properti yang disita Jerman, Hotel Lutetia lalu menjadi kantor badan intelijen militer Nazi.
Menurut Marrus, Hotel Lutetia menjadi satu-satunya grand hotels yang teratas dalam hal kemewahan dan kemegahan di tepi kiri Sungai Seine. Bagi pendudukan Nazi, alamat-alamat bergengsi berada di tepi kanan Sungai Seine, seperti Meurice untuk komando tertinggi Wehrmacht, Crillon untuk gubernur militer Paris, Ritz untuk Luftwaffe, George V untuk kepala staf Wehrmacht, Majestic untuk sensor dan propaganda, serta Plaza Athenée untuk kepala staf angkatan laut.
Pierre Assouline mencatat dalam Lutetia, dinas intelijen militer di Hotel Lutetia dibagi menjadi beberapa kelompok. Gruppe I mengumpulkan dan mengolah data-data intelijen. Sementara Gruppe II perang psikologis, sabotase, dan subversi di wilayah musuh, di bawah pimpinan Letnan Kolonel Lothar von Brandenstein alias Baron Brady.
Adapun Gruppe III kontraintelijen dan kontrasabotase dipimpin Kapten Fregat Liebenschütz. Perlawanan terhadap Gerakan Perlawanan, tanpa batasan sarana dan metode, diawasi oleh kepala Geheime Feldpolizei (GFP), polisi rahasia lapangan.
Mengapa Wilhelm Canaris, kepala Abwehr, memilih Hotel Lutetia?
“Karena tempat itu melambangkan pusat perlawanan para pengungsi terhadap Nazi, maka pantaslah jika simbol tersebut dihancurkan. Dikatakan pula bahwa dalam pandangannya, tepi kiri Sungai Seine merupakan tempat yang tepat untuk berbaur dengan kalangan intelektual dan seniman, karena lingkungan tersebut, sebelum perang, merupakan salah satu yang paling aktif dalam gerakan antifasis... Sekali lagi, nama ‘Hotel’ digunakan untuk menamai kegiatan-kegiatan Jerman. Baik yang mendukung maupun menentang Hitler. Kelompok pro menggantikan kelompok anti dengan selang beberapa tahun di ruang-ruang yang sama, di antara dinding-dinding yang sama,” tulis Assouline.
Hotel Lutetia juga menjadi tempat interogasi orang-orang yang dicurigai terlibat dalam jaringan perlawanan terhadap Nazi. Tak jarang, interogasi di ruangan yang menghadap ke penjara Cherche-Midi, dilakukan dengan penyiksaan demi mendapatkan informasi.
Menampung Penyintas Kamp Konsentrasi
Setelah empat tahun menduduki Hotel Lutetia, Abwehr meninggalkan hotel tersebut seiring kekalahan Nazi. Ketika Paris dibebaskan dari pendudukan Jerman pada 1944, Charles de Gaulle, pemimpin gerakan Prancis Merdeka melawan Nazi, memerintahkan agar Hotel Lutetia digunakan untuk menampung ribuan orang yang dideportasi.
“Nazi mendeportasi 166.000 orang dari Prancis ke kamp konsentrasi Jerman; di antaranya 76.000 orang Yahudi, termasuk 11.000 anak-anak, dan banyak dari sisanya adalah anggota gerakan perlawanan,” tulis Seal.
Para penyintas dari kamp Auschwitz, Buchenwald, hingga Ravensbrück, dengan menggunakan mobil, kereta api, dan berjalan kaki menuju Hotel Lutetia. Mereka mendapat pakaian, tempat beristirahat, uang 2.000 franc, dan kupon Palang Merah untuk satu set pakaian baru.
Sejak kelompok pertama tiba pada 26 April 1945, iring-iringan penyintas kamp konsentrasi terus berdatangan ke Hotel Lutetia. Sekira 800 orang tiba pada 29 dan 30 April 1945, diikuti 300 orang per hari pada Mei, dan 500 orang per hari dari akhir Mei hingga awal Juni. Total penyintas yang datang ke hotel tersebut diperkirakan mencapai 18.000 hingga 20.000 orang. Hotel Lutetia ditutup sebagai pusat repatriasi pada 1 September 1945.
Beragam cerita di hotel mewah bersejarah, yang masih beroperasi hingga kini, seakan menjadi gambaran dari cerita awal mula pemilihan nama hotel tersebut.
“Ahli waris Boucicaut berencana menamainya Left Bank Grand Hotel... Hotel ini kemudian diberi nama sesuai dengan nama Romawi untuk Paris –Lutetia– dan mengambil lambang kapal yang terombang-ambing di atas moto tradisional Paris, Fluctuat Nec Mergitur yang berarti ‘terhantam ombak, tetapi tidak pernah tenggelam’,” tulis Seal.*



















Komentar