SEKELOMPOK orang berjalan gontai melintasi puing-puing bangunan dan sejumlah gedung yang rusak. Langkah mereka pelan dan sesekali berhenti sejenak untuk mengambil napas, serta melihat kondisi kota Paris yang jauh berbeda dari ingatannya sebelum dikirim ke kamp konsentrasi Nazi.
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, orang-orang yang ditahan di kamp konsentrasi dibebaskan. Namun, tidak semua tahu kemana tempat yang akan dituju, sebab banyak yang kehilangan keluarga dan harta benda. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintahan Sementara Republik Prancis membentuk Kementerian Tawanan Perang, Deportan, dan Pengungsi yang dipimpin oleh Henri Frenay, salah satu pemimpin gerakan perlawanan Prancis terhadap Nazi.
Sejarawan Ashley Valanzola mencatat dalam When She Remembered: Seven Women Who Transformed French Holocaust Memory, kementerian bertugas memulangkan sekitar satu juta tawanan perang, 700 ribu di antaranya pekerja STO (Service du travail obligatoire), yaitu pemuda Prancis yang bekerja di pabrik maupun kamp di wilayah pendudukan Nazi, serta 40 ribu orang yang dideportasi, termasuk orang-orang Yahudi dan anggota gerakan perlawanan terhadap Nazi. Proses pemulangan berlangsung dari Maret hingga Agustus 1945.
Para penyintas dari kamp konsentrasi Auschwitz, Buchenwald, hingga Ravensbruck berdatangan ke Paris dengan kereta api, bus dan truk, maupun berjalan kaki.
“Selama proses pemulangan, Kementerian khawatir tidak mampu menampung warga Prancis ‘yang hilang’, baik selama perjalanan pulang maupun setelah kedatangan mereka. Kementerian bertanggungjawab atas pengaturan transportasi dan penyediaan layanan (makanan, obat-obatan, perawatan psikologis, tempat tinggal) bagi para deportan yang kembali... Kondisi kesehatan mereka terganggu akibat bertahun-tahun mengalami kekurangan. Kemampuan mereka untuk bekerja akan berkurang. Mereka harus mendapatkan kembali tempat mereka dalam keluarga, profesi, dan negara,” tulis Valanzola.
Untuk mengatasi masalah logistik, kementerian membuat kategori berbeda-beda. Anggota gerakan perlawanan masuk kategori déportés et internés de la résistance (DIR), sementara orang-orang yang ditahan karena alasan politik dikategorikan sebagai déportés et internés politiques (DIP).
Awalnya, para penyintas terlebih dahulu diarahkan ke Stasiun Orsay. Namun, kemudian diputuskan langsung diarahkan ke Hotel Lutetia, sementara yang sakit parah dibawa ke rumah sakit.
Dibayangi Mereka yang Kehilangan
Setibanya di Hotel Lutetia, para penyintas dikerumuni orang-orang yang mengacungkan foto-foto dan meneriakan nama-nama anggota keluarga maupun kerabat yang hilang. Penyintas yang kuat dapat melepaskan diri dari orang-orang yang mencoba menahannya, sementara yang lemah hanya membalas dengan wajah muram. Pemandangan tersebut berlangsung berhari-hari.
Valanzola mencatat, Sabine Zlatin, anggota gerakan perlawanan Prancis, yang membantu proses pemulangan warga Prancis, dan tim yang bertanggungjawab atas pusat repatriasi, memasang beberapa papan besar di aula utama Hotel Lutetia. Papan-papan itu dirancang agar anggota keluarga dapat menempelkan foto atau pesan yang berisi informasi kontak mereka. Sabine sendiri menempelkan foto suaminya, Miron, yang ditangkap agen Gestapo pada 6 April 1944.
Sementara itu, para penyintas yang kelelahan, dengan kulit pucat dan wajah kurus, terlempar ke dalam suasana yang menyesakkan dada. Mereka dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan, padahal terkadang mereka sendiri kesulitan mengucapkan namanya.
“Pakaian mereka melambai-lambai, seolah melayang di udara, dan mereka sendiri melayang di tengah kerumunan, begitu lemah hingga membiarkan diri terbawa arus. Mereka seolah pulang dari planet lain ke sebuah negeri yang tak lagi dikenali,” tulis Pierre Assouline dalam Lutetia.
Pertanyaan yang kerap diajukan kepada para penyintas adalah “apakah anda mengenalnya?” dengan menyodorkan foto seseorang yang sulit dikenali. Setelah melihat foto itu, mereka memberikan jawaban dengan detail-detail samar, tetapi akhirnya menggerakkan kepala.
Setiap respons yang diberikan oleh para penyintas adalah sebuah petunjuk. Namun, tidak semua jawaban dapat mereka tanggung. Sebab, jawabannya seringkali bahwa orang-orang tersebut tak mampu bertahan selama di kamp konsentrasi.
Hubert Heilbronn bersama ayahnya datang beberapa kali ke Hotel Lutetia untuk mencari informasi keberadaan kakek dan neneknya, Ernest dan Claire Heilbronn. Keduanya ditangkap pada 6 Februari 1944 di Uriage, kemudian ditahan di Drancy, dan pada 7 Maret dikirim ke Auschwitz.
“Ketika ayah Hubert melihat di antara kerumunan para penyintas salah satu teman lamanya, sesama pemburu yang karena aktivitasnya di gerakan perlawanan akhirnya ditahan di kamp konsentrasi, dia memanggilnya dan bertanya tentang kabar kedua orang tuanya. Tahanan itu mengangkat kedua tangannya sambil mengeluarkan erangan putus asa, dan dengan gerakan tangan yang lelah, dia menunjuk ke langit. Sejak hari itu, keluarga Heilbronn tak pernah lagi terlihat di pintuk masuk Lutetia,” tulis Assouline.
Perlakuan Menyesakkan
Pemulangan para penyintas seringkali membangkitkan kembali trauma dan kenangan buruk selama di kamp konsentrasi. Pasalnya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan petugas menuntut mereka untuk mengingat orang-orang yang bersinggungan dengan mereka atau menggambarkan peristiwa yang terjadi di kamp.
Menurut Valanzola, pusat repatriasi di Lutetia menjalankan berbagai fungsi, di antaranya pemeriksaan identitas yang dipimpin oleh kepolisian. Para pewawancara memverifikasi identitas mereka, menanyakan kondisi penangkapan mereka, dan masa tinggal di kamp-kamp konsentrasi, lalu menerbitkan kartu repatriasi.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para penyintas berkaitan dengan waktu penangkapan dan proses pemindahan menuju kamp konsentrasi. Petugas juga bertanya tentang orang-orang yang berkaitan dengannya selama di kamp konsentrasi, seperti teman sekamar atau orang-orang yang bekerja bersama di sana.
Petugas juga biasanya bertanya apakah pernah dianiaya, dijatuhi hukuman mati, atau mendapat perlakuan kekerasan seksual. Lebih lanjut, pertanyaan terkait jumlah orang yang meninggal atau siapa saja yang mereka lihat tewas di kamp.
“Para deportan seperti Simon Lagrange, yang sebelumnya pernah diinterogasi selama seminggu oleh Klaus Barbie pada awal perang, hampir tidak memiliki hal positif untuk dikatakan mengenai bagian proses ini. Bagi Lagrange, pemeriksaan kepolisian itu terasa seperti interogasi lain. Reaksi negatif dari para deportan tidaklah mengejutkan proses tersebut diberlakukan untuk menyaring para penipu,” tulis Valanzola.
Kekalahan Jerman membuat sejumlah orang, mulai dari anggota lembaga di bawah komando Nazi, kolaborator, hingga tahanan yang menjadi perpanjangan tangan petugas Nazi di kamp konsentrasi, mencari cara untuk melarikan diri dan memulai hidup baru. Salah satu cara dengan menyamar menjadi penyintas. Oleh sebab itu, informasi yang diberikan para penyintas menjadi hal yang penting untuk membongkar kebohongan tersebut.
Setelah pemeriksaan polisi, para penyintas menjalani pemeriksaan medis, kemudian menerima kartu makanan serta voucher untuk pakaian dan sepatu. Organisasi bantuan menggalang dana bagi para penyintas yang tidak memiliki apa-apa. Seluruh proses administratif berlangsung selama beberapa jam. Jika para penyintas tetap tinggal di Hotel Lutetia setelah proses awal ini, mereka ditempatkan di salah satu kamar.
Lamanya interogasi membuat frustrasi sebagian penyintas. Mereka mengkritik pihak administrasi atau mengeluh karena diperlakukan seperti orang sakit. Sejak datang ke Hotel Lutetia, mereka disemprot desinfektan dan diukur, ditimbang, divaksinasi, serta diperiksa oleh tenaga medis untuk mengetahui adanya penyakit menular atau terserang TBC maupun masalah pernapasan lainnya.
“Para pengungsi politik, terlepas dari kondisi fisik mereka, harus diperlakukan seperti orang sakit,” demikian bunyi sebuah arahan dari pemerintah Prancis sebagaimana dikutip Mark Seal dalam “Paris’ Hotel Lutetia Is Haunted by History”, termuat di Smithsonian Magazine, April 2019.
Bagi sebagian orang, proses pemeriksaan di Hotel Lutetia menyesakkan dada sehingga memilih segera meninggalkan pusat repatriasi tersebut. Namun, yang lain tidak mau pergi karena tidak ada apa pun atau siapa pun yang menanti mereka.*



















Komentar