TEPUK tangan dan sorak sorai meriah terdengar setelah musik, yang mengiringi penampilan seorang penari eksotis di tempat hiburan, berhenti mengalun. Mengenakan pakaian berhias mutiara, serta rok pisang berayun dan bergetar mengikuti tariannya yang penuh semangat, Josephine Baker sukses memukau mata para penikmat hiburan di kota Paris pada 1920-an.
Baker yang lahir dengan nama Freda Josephine McDonald, tiba di Cherbourg, Prancis pada 25 September 1925. Gadis keturunan Afrika-Amerika itu dibawa ke Paris oleh Caroline Dudley Reagan, seorang sosialita dan istri pejabat Amerika Serikat yang bertugas di Prancis.
Hanna Diamond menulis dalam Josephine Baker's Secret War: The African American Star Who Fought for France and Freedom, Reagan ingin menciptakan pertunjukan baru untuk memenuhi hasrat masyarakat Prancis terkait negrophilia yang sedang populer.
“Warga Paris tidak hanya terpesona oleh seni dan patung Afrika-Amerika, tetapi juga oleh para penghibur, seniman jazz, dan tarian Afrika-Amerika. Tarian Charleston, misalnya, yang berasal dari daerah pedesaan di selatan Amerika Serikat dan terkenal di kalangan warga Afrika-Amerika, telah menjadi sangat populer,” tulis Diamond.
Di Amerika Serikat, Baker telah menembus panggung Broadway berkat persona unik yang lucu dan glamor dalam aksi panggungnya. Namun, segregasi ras membuatnya kesulitan mendapatkan popularitas yang lebih luas.
Hidup dalam kemiskinan dan diskriminasi rasial, Baker setuju dengan tawaran Reagan yang membawanya ke Prancis. Reagan tertarik dengan penampilan gadis kelahiran Missouri, Amerika Serikat, pada 1906 itu ketika melihatnya tampil dalam pertunjukan di New York City.
Setibanya di Prancis, Baker hanya diberi waktu kurang dari sepuluh hari untuk berlatih. Pertunjukannya diselenggarakan di tempat hiburan bergengsi di ibu kota. Penampilan perdana Baker mengubah segalanya.
Baker segera menjelma menjadi bintang panggung yang bersinar. Dia tampil tanpa henti, mulanya di klub malam milik orang lain kemudian dia berhasil membuka klub malam sendiri.
“Baker meraih ketenaran yang hanya bisa dimimpikan oleh seniman Afrika-Amerika di Amerika Serikat, yang kariernya terhambat oleh batasan segregasi. Tariannya menarik perhatian para sastrawan dan intelektual, yang memuji bakatnya dengan penuh pujian. Seiring uang mengalir deras, dia menikmati setiap aspek gaya hidup mewah yang ditawarkannya,” tulis Diamond.
Menjadi Mata-mata Prancis
Seiring dengan popularitasnya, Baker dari penari eksotis menjadi bintang film dan penyanyi opera. Namanya tak hanya dikenal di Prancis, tetapi seantero Eropa. Pada 1928, dia mengadakan tur Eropa dimulai dari kota Wina.
Kristen D. Burton mencatat dalam “Siren of the Resistance: The Artistry and Espionage of Josephine Baker”, yang dipublikasikan di The National WWII Museum, 1 Februari 2020, Baker tidak menyadari gejolak politik yang memanas di Wina karena ideologi rasis dalam Mein Kampf karya Adolf Hitler. Sebelum Baker tiba di Wina, poster-poster di seluruh kota merendahkan penampilannya, menyebutnya sebagai “setan hitam”.
“Saat dia menuju hotelnya, para demonstran berbaris di sepanjang jalan. Josephine mengatakan pemandangan itu mengingatkannya pada kerusuhan rasial yang mengguncang komunitasnya saat dia masih kecil,” tulis Burton.
Perang Dunia II berdampak pada pertunjukan Baker. Di Prancis yang diduduki Nazi pada 1940 ada larangan menyelenggarakan konser yang dibawakan musisi kulit hitam Amerika.
Lebih dari itu, menurut Charles Glass dalam Americans in Paris: Life and Death Under Nazi Occupation 1940–44, ada aturan yang memerintahkan orang Amerika keturunan Afrika untuk melapor ke polisi. Sebagian di antara mereka kemudian ditahan. Akibatnya, banyak yang meninggalkan Paris, salah satunya Baker.
Baker tinggal di château (rumah mewah milik bangsawan atau tuan tanah) yang disewanya di selatan Prancis. Dia menampung para pengungsi lain yang melarikan diri dari Nazi. Setelah Paris jatuh, Baker berkenalan dengan Jacques Abtey, kepala kontraintelijen militer Prancis.
Abtey merekrut orang-orang yang mampu melakukan spionase untuk membantu melawan Nazi. Baker menjadi kandidat ideal, karena ketenarannya memungkinkan dia bergerak leluasa antarnegara, dan memberinya perlindungan ekstra.
Tugas pertama Baker adalah menemui seorang atase di Kedutaan Besar Italia yang menjadi incaran khusus dinas intelijen Prancis. Ini bukan hal yang sulit bagi Baker, karena dukungannya terhadap kampanye Italia di Abyssinia pada 1935 membuatnya dihormati pihak Italia. Hal ini memberinya akses untuk mengatur pertemuan dengan atase.
“Dalam beberapa hari, dia dengan antusias melaporkan kepada Abtey bahwa dia memberikan laporan lengkap kepadanya. Dia datang menjemput Abtey dengan mobil mewah American Packard. Begitu Abtey masuk ke dalam mobil, Baker menceritakan bahwa dia telah diberi tahu mengenai kemungkinan Italia akan bergabung dengan Nazi dalam mendeklarasikan perang terhadap Sekutu –dan memang demikianlah yang terjadi, namun baru pada 10 Juni 1940,” tulis Diamond.
Di bawah pengawasan Abtey, Baker diajari trik-trik sebagai seorang mata-mata. Sejak awal tahun 1941, dia melakukan perjalanan ke Lisbon, Madrid, Seville, Barcelona, dan beberapa kota di Afrika Utara, untuk menjalankan misi mengumpulkan informasi mengenai pergerakan musuh, dan menyampaikan pesan rahasia tingkat tinggi kepada agen-agen Sekutu.
Trik Mengelabui Nazi
Baker cukup ahli dalam menjalankan tugas sebagai mata-mata. Popularitasnya menjadi senjata untuk mendapatkan akses ke berbagai wilayah, serta menjalin koneksi dengan tokoh-tokoh lingkaran elite yang sulit ditembus. Akses bepergian didapat dengan alasan tur atau tampil dalam pertunjukan.
Oleh sebab itu, Baker bersikeras membawa hewan peliharaan, dua monyet dan anjing besar, dalam perjalanan untuk meyakinkan intelijen Nazi dan aliansinya bahwa dia benar-benar akan mengadakan pertunjukan.
Peristiwa menarik terjadi ketika Baker bepergian dengan Abtey, yang menyamar menjadi sekretarisnya, menuju Lisbon, Portugal. Keduanya pergi membawa dokumen intelijen. Sebelum berangkat, keduanya menyalin informasi paling rahasia ke partitur musik Baker dengan tinta tak terlihat.
Ketika tiba di stasiun kereta internasional Canfranc dan hendak menjalani pemeriksaan paspor, penampilan Baker yang mencolok membuat semua orang bergegas menghampirinya. Petugas perbatasan Prancis dan Spanyol, kepala stasiun beserta staf, pekerja kereta api, hingga pejabat, berkerumun mengelilingi sang bintang. Beberapa di antaranya berlari menjemput istri dan anak-anaknya agar dapat menemui Baker.
Di sisi lain, Abtey yang mengambil jarak dari kerumunan, berhasil melewati pemeriksaan tanpa terdeteksi membawa informasi rahasia yang sangat penting di dalam tas.
Selain menjadi perhatian banyak orang karena bintang panggung, aktivitas Baker yang melakukan perjalanan ke berbagai wilayah, dan lingkaran pergaulannya di kalangan elite, membuatnya menjadi target pengamatan intelijen Nazi.
Menyadari hal itu, dalam perjalanan kembali ke Maroko setelah bertemu tokoh-tokoh penting di Madrid, Spanyol, pada Mei 1941, Baker menyimpan catatan di tubuhnya, diikat dengan peniti di bagian dalam pakaian.
Trik ini bukan hal baru setelah menjadi spion Prancis. Dalam wawancara dengan jurnalis, Baker menceritakan metode ini biasa dilakukannya sebagai cara menyimpan informasi pribadi.
Jurnalis itu mengungkapkan bahwa Baker terbiasa menulis semua janji temu harian pada lembaran-lembaran kertas kecil yang disematkan pada kerah mantel. Terkadang tumpukan kertas itu ditata secara artistik, mirip ruffle renda yang menjadi penghias tambahan bagi penampilannya.
“Itu adalah taktik yang efektif. Saat Baker kembali ke Maroko, para penjaga perbatasan dan petugas yang tidak curiga menyambut sang bintang dengan senyuman. Tak seorang pun terpikir untuk memeriksa saku-saku kecil yang berisi catatan yang telah dia sembunyikan di pakaiannya. Untung baginya, penyamaran tersebut terbukti tak kalah efektif selama misi solo penting keduanya ini. Dia segera tiba di Casablanca dengan selamat dan merasa senang dapat memberi tahu Abtey serta teman-temannya di Maroko bahwa tidak ada tanda-tanda invasi Jerman dalam waktu dekat,” tulis Diamond.
Selain itu, Baker juga menulis informasi intelijen di tangan dan lengan. Sebab, dia tidak akan menjalani penggeledahan telanjang karena selebritas terkenal.
Menurut Burton, status Baker sebagai bintang terkenal menjadi perisai yang melindunginya saat dia ambil bagian dalam perlawanan menentang rezim Nazi. Tanpa rasa takut, dia menantang mereka yang berusaha membungkam kaum yang tertindas.
Dengan memperkuat suaranya sendiri, Baker menemukan berbagai cara untuk memikat sekaligus melakukan perlawanan. Dukungannya kepada Prancis di masa Perang Dunia II membuatnya dianugerahi penghargaan Medali Perlawanan, Légion d’honneur, dan Croix de guerre militer.*



















Komentar