- 7 Sep 2025
- 5 menit membaca
Diperbarui: 7 Sep 2025
SUATU hari saya pernah melihat Walikota Woerden, pejabat nomor satu dari sebuah kota kecil di Provinsi Utrecht, Belanda, sedang mencuci mobil di pekarangan rumahnya yang kecil (dibandingkan dengan kebanyakan ukuran rumah walikota di Indonesia). Di lain hari saya menyaksikan Winnie Sorgdrager, pensiunan menteri hukum Belanda periode 1994-1998 naik angkutan umum di Amsterdam. Winnie adalah cicit kemenakan Eduard Douwes Deker alias Multatuli yang namanya tenar sebagai penulis roman Max Havelaar. Tak ada juru kamera yang mengiringi mereka untuk dimuat media sosial. Tak ada tepuk riuh decak kagum karena semua itu biasa saja.
Di Indonesia juga ada kisah keteladanan para pejabat publik. Johannes Leimena, menteri di era Bung Karno, menggunakan kemeja tambalan saat ikut rapat kabinet. Belum lagi kisah Haji Agus Salim yang hidup sederhana, bahkan Prof. Soenario, menteri luar negeri RI dan kakek buyut artis Dian Sastrowardoyo, bersaksi bahwa Haji Agus Salim hidup dalam kemiskinan. Saat menulis biografi Maulwi Saelan, wakil komandan Tjakrabirawa pengawal Bung Karno, saya mendengar kisah Presiden Sukarno meminjam uang pengawalnya untuk membeli sebungkus rokok. Kisah-kisah ini justru diketahui saat tokoh-tokoh tersebut sudah almarhum, ketika mereka tak bisa lagi mengambil untung pencitraan lewat jalan populisme yang kini marak.
Kisah kesahajaan hidup di atas rupanya memang bukan dibikin-bikin. Di Belanda, sistem transportasi umum dirancang sebaik mungkin, yang dapat menghubungkan warga dari satu titik ke titik lain dalam tujuan perjalanannya. Menumpang angkutan umum adalah cara menempuh perjalanan yang ringkas dan tepat waktu. Selain bersepeda, sebagaimana yang pernah ditunjukkan oleh mantan Perdana Menteri Mark Rutte, menumpang angkutan umum perkara biasa saja untuk semua orang, tak terkecuali pejabatnya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















