- 3 Jul 2023
- 4 menit membaca
Diperbarui: 5 Mar
SEKITAR 40 orang keturunan Snouck Hurgronje berkumpul dalam peluncuran Biografi Ilmuwan Christian Snouck Hurgronje karya Wim van den Doel di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu pekan lalu. Memandang raut wajah mereka mengingatkan saya kepada pidato Bung Karno, 17 Agustus 1964: “… jangankan 1-2 generasi, 10 generasi pun tak bisa meniadakan ‘rahang Batak’, atau ‘sipit Tionghoa’, atau ‘mancung Arab’, atau ‘lidah Bali’, atau ‘kuning langsat Menado’, atau ‘ikal Irian’, dan sebagainya.” Ya, Bung Karno benar, hidung mancung pada raut wajah blasteran Indo-Belanda masih jelas terlihat dari keturunan ketiga dan keempat dari perkawinan Snouck Hurgronje dengan Sangkana dan Siti Sadiah, dua gadis Pasundan yang dinikahinya pada 1890 dan 1898.
Kehadiran keturunan Snouck Hurgronje dalam acara tersebut cukup mengesankan buat saya. Beberapa kali saya mendengar bahwa Snouck memang punya anak dari pernikahannya dengan dua perempuan bumiputra semasa dia tinggal di Hindia Belanda. Namun saya belum pernah melihat mereka hadir di muka publik sebagaimana yang saya temui dalam acara tersebut.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












