top of page

Memori dan Hegemoni

Pengajaran sejarah sebagai indoktrinasi berdampak fatal pada cara berpikir sebagian besar masyarakat. Ingatan kolektif masyarakat didominasi oleh ingatan resmi rezim Orde Baru.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tentara bersenjata mengangkut para terduga anggota Pemuda Rakyat, 10 Oktober 1965. (Bettmann/Getty Images).

20 Okt 2025
2 menit membaca

Diperbarui: 24 Des 2025

PENULISAN sejarah seringkali sesuai dengan rezim apa yang sedang berkuasa. Dalam sebuah zaman di saat rezim otoriter berkuasa, sedikit saja ruang bagi para sejarawan untuk menulis sejarah dengan bebas, terlebih dalam tema-tema yang membahas masa lalu sang penguasa.


Sejarah Peristiwa 1 Oktober 1965 misalnya, selama bertahun-tahun ditulis dan diajarkan secara sepihak dengan menggunakan versi penguasa. Versi lain di luar yang dianggap versi resmi, tak pernah diajarkan bahkan terkesan ditutup-tutupi. Pengetahuan sejarah mengenai Peristiwa 1 Oktober 1965 hanya membahas pembunuhan para jenderal tanpa pernah menyinggung pembunuhan terhadap ratusan ribu kaum komunis.


Pengajaran sejarah yang lebih berfungsi sebagai indoktrinasi berdampak fatal pada cara berpikir sebagian besar masyarakat. Ingatan kolektif masyarakat didominasi oleh ingatan resmi rezim Orde Baru. Fakta sejarah disortir, konstruksi masa lalu dibentuk berdasarkan kebutuhan untuk melegitimasi dan mempertahankan kekuasaan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page