top of page

Gejolak Muda Iwa Kusuma Sumantri

Pendidikan ala Barat membuat Iwa Kusuma Sumantri tertekan. Pilihan sang ayah bertentangan dengan cita-citanya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi Iwa Kusuma Sumantri (Betaria Sarulina/Historia)

31 Jul 2021
3 menit membaca

Diperbarui: 27 Nov 2025

BANDUNG, 1915. Iwa Kusuma Sumantri memulai pendidikan di Sekolah Pribumi Pamong Praja Hindia Belanda (OSVIA). Dia yang merupakan putra guru Sekolah Kelas Dua bernama R. Wiramanti diharapkan sang ayah memperoleh  masa depan yang cerah. Seseorang yang memegang ijazah OSVIA akan dengan mudah memperoleh pekerjaan di pemerintahan. Pada waktu itu jabatan pegawai negeri juga merupakan pekerjaan terhormat di masyarakat. Mereka yang bekerja di pemerintahan akan hidup dengan layak. 


Akan tetapi harapan ayahanda itu rupanya tidak sesuai dengan keinginan hati Iwa. “Sesungguhnya, apabila pada saat itu saya mampu menolak perintah orang tua, maka dapatlah saya katakan bahwa sekolah ini sama sekali tidak sesuai dengan hati maupun cita-cita saya sendiri,” kata Iwa.


Meski begitu, Iwa tetap mengikuti ucapan sang ayah untuk bersekolah di OSVIA. Diceritakan Iwa dalam otobiografinya Sang Pejuang dalam Gejolak Sejarah, dia melakukan hal itu karena tidak ingin mengecewakan harapan orang tuanya. Setidaknya, imbuh Iwa, dia harus menunjukkan kepatuhan sebagai bukti jasa terhadap apa yang telah diberikan kedua orang tua dalam hidupnya.


Dengan perasaan antipati, Iwa memulai kehidupan sebagai pelajar OSVIA. Pemuda asal Ciamis itu tinggal di asrama mahasiswa di Bandung. Sekolah yang dia masuki adalah sekolah bagi kalangan elit. Tidak semua orang bisa memasukinya. Bukannya merasa beruntung, Iwa malah tertekan dengan kondisi di sana. Keadaan OSVIA tidak menyenangkan bagi Iwa.


“Cara-cara kehidupan mahasiswa tidak dapat saya terima begitu saja. Pelaksanaan perpeloncoan terhadap calon-calon mahasiswa baru tidak sesuai dengan makna perpeloncoan itu sendiri. Dalam praktiknya perpeloncoan lebih dititikberatkan pada tindakan-tindakan yang berlandaskan sentimen atau balas dendam saja,” kata Iwa.


Tidak hanya itu, Iwa juga mengkritisi cara bergaul anak-anak di sekolahnya. Murid OSVIA kerap terlibat dalam persaingan dengan sekolah Belanda lain di Bandung. Mereka saling berlagak ingin terlihat lebih unggul, baik dalam penampilan maupun pelajaran. Tidak jarang hal tersebut membawa perselisihan di antara para pelajar. Iwa merasa hal itu sama sekali tidak ada gunanya dan hanya mendatangkan kerugian.


Karena sudah benar-benar tidak tahan dengan lingkungan belajar di OSVIA, pada 1916 Iwa memutuskan melarikan diri dari asramanya. Bersama seorang kawan, yang memiliki pandangan dan pendirian serupa, Iwa pergi menuju rumah kakaknya di Kandanghaur, Indramayu. Dari sana, Iwa dan kawannya melanjutkan perjalanan menuju rumah kakaknya yang lain di Cirebon. 


“Kami sama-sama menyadari bahwa OSVIA tidak sesuai dengan jiwa kami. Lebih dari itu, kami tidak sudi untuk menjadi alat Belanda nanti, sesudah kami tamat,” ujar Iwa. “Kami muak terhadap sikap Belanda yang sombong dan berkuasa itu, dan kami lebih muak terhadap sikap orang-orang Indonesia yang sok Belanda, lebih dari orang Belanda totok itu sendiri.”


Iwa tahu jika perbuatannya itu bisa merugikan dirinya. Dia juga telah mengecewakan kedua orang tuanya yang telah berjuang memasukkannya ke sekolah pamong praja tersebut. Tetapi Iwa sudah tidak peduli lagi. Saat itu di benaknya hanya ada keinginan untuk menjauhi Bandung, dengan OSVIA yang tidak dia senangi di dalamnya. Iwa tidak ingin meneruskan hidup yang tidak sesuai dengan kehendak hatinya.


Setelah kurang lebih seminggu tinggal di Cirebon, keberadaan Iwa diketahui orang tuanya. Dia lalu disusul oleh Partadireja, guru bahasa Sundanya di OSVIA. Partadireja membujuk Iwa kembali ke Bandung. Karena bujukan manis sang guru, Iwa akhirnya setuju untuk kembali bersekolah. Kepada pihak OSVIA, kedua orang tua Iwa meminta kebijaksanaan agar mereka memaklumi kondisi Iwa yang masih sangat muda. Permohonan itu dikabulkan: Iwa tidak diberi sanksi.


“Namun tetap saya tidak dapat hidup tentram serta belajar sebagaimana mestinya di OSVIA ini. Pergolakan jiwa semakin hebat dalam pribadi saya. Bagi saya, seolah-olah OSVIA merupakan penjara yang mengungkung saya, saya ingin bebas,” kata Iwa.


Perasaan tidak senangnya semakin hari semakin kuat bergojak di dalam diri Iwa. Dia pun kembali memikirkan cara untuk bisa keluar dari OSVIA. Akhirnya Iwa menemukan cara baru untuk mewujudkan impiannya tersebut. Alih-alih memberontak seperti sebelumnya, dia memilih mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada sang ayah bahwa dia tidak ingin berada di OSVIA. Sekolah pamong praja itu bertentangan dengan cita-citanya dan selama berada di sana dia sama sekali tidak merasa senang.


Mendengar ucapan tersebut, kedua orang tua Iwa sangat terkejut. Mereka merasa telah menempatkan putranya di tempat terbaik yang akan mendukung masa depannya kelak. Namun setelah Iwa mengutarakan cita-cita dan keinginannya, sang ayah menerima sikap Iwa tersebut. Mereka membebaskan putranya memilih sekolah yang dikehendaki.


Sekira akhir 1916, dengan persetujuan kedua orang tua, Iwa pindah ke Batavia. Dia memutuskan bersekolah di sekolah hukum, Recht School. Telah lama ilmu hukum dan sejarah menarik minat Iwa. Dia akhirnya mencurahkan seluruh kemampuannya di sekolah baru tersebut.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Kerusuhan rasial Chicago 1919, kisah pilu orang kulit hitam di negeri tempat kelahiran demokrasi.
Kerusuhan rasial Chicago 1919, kisah pilu orang kulit hitam di negeri tempat kelahiran demokrasi.
Tenar karena karakter bermain dan gaya rambutnya mirip Maradona. Berhasil bangkit dari keterpurukan pasca-gantung sepatu.
Tenar karena karakter bermain dan gaya rambutnya mirip Maradona. Berhasil bangkit dari keterpurukan pasca-gantung sepatu.
Hari lahir WR Supratman 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Padahal tanggal itu masih diperdebatkan.
Hari lahir WR Supratman 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Padahal tanggal itu masih diperdebatkan.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
transparant.png
bottom of page