top of page

Gerilyawan RI Disergap Sewaktu Mandi

Batalyon Andjing NICA mengejar lawan ke Gunung Sumbing. Mereka kedinginan dan tak didukung rakyat.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Serdadu Batalyon Andjing NICA. (Nationaal Archief).

18 Sep 2024
3 menit membaca

Diperbarui: 31 Jan

SETELAH ibukota RI Yogyakarta diserbu pasukan Belanda pada 19 Desember 1948, Batalyon Andjing NICA  yang berada di –bawah komando Overste (setara letnan kolonel) Adrianus van Santen– daerah Banyumas bergerak ke Magelang. Batalyon ini bagian dari Brigade V KNIL.


“Gerak maju yang spektakuler dari Brigade V melalui Pantai Utara, sepanjang lereng [Gunung] Slamet menuju dataran Jawa Tengah Selatan. Pasukan Andjing NICA, di bawah pimpinan komandan barunya yang populer, Mayor (sekarang lettnan kolonel) Van Santen, dengan cepat maju melewati Gombong,” demikian De Locomotief tanggal 8 Desember 1948 memberitakan laju Andjing NICA menuju Magelang.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page