top of page

Gerombolan As Pelor

Gerombolan pengacau ini ingin masuk TNI.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Demi mempertahankan kemerdekaan, para pemuda revolusioner di berbagai tempat berhimpun dalam ke dalam badan-badan perjuangan, lalu bergerilya melawan tentara Belanda. (Tropenmuseum).

  • 29 Mei 2023
  • 2 menit membaca

DI Jawa Timur ketika revolusi terdapat sebuah batalyon yang dipimpin Mayor Bambang Joewono. Namanya Batalyon Gajah Mada. Pasukan ini bagian dari tentara Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI). Daerah gerilyanya termasuk sekitar Mojokerto.


Di bawah Mayor Joewono itu, menurut koran Nieuwe Courant edisi 21 Desember 1950, terdapat pasukan bernama Alap-alap Samber Njowo. Pemimpinnya lelaki yang dikenal sebagai As Pelor.


Suatu ketika, Mayor Bambang gugur ketika bergerilya melawan tentara Belanda. Sementara, Letnan As Pelor berhasil lolos.


As Pelor memiliki sekitar 150 atau 160 anggota yang kebanyakan bersenjata. Sekitar satu kompi yang cukup kuat. As Pelor dan pasukannya bergerilya di sekitar Gunung Gajah Mungkur dan Pajek di Modjokerto.


Setelah tentara Belanda angkat kaki dari Indonesia, As Pelor dan pasukannya bukannya turun gunung malah meneruskan perang di pegunungan. Namun bukan melawan tentara Belanda, melainkan pasukan pemerintah yang tidak memberi mereka tempat di kemiliteran.



Rupanya, pasukan As Pelor tidak terdaftar di ketentaraan. As Pelor kecewa dibuatnya dan membuat kelompok.


As Pelor kemudian kena masalah hukum. Koran Het Nieuwsblad voor Sumatra edisi 27 Desember 1950 menyebut As Pelor menganiaya seorang kapten yang menurutnya korup. Dia pun ditangkap Polisi Militer dan dipenjarakan di Mojokerto.


Pada November 1950, As Pelor termasuk 40 tahanan yang kabur dari penjara Mojokerto. Mereka pergi dengan mengunci para penjaganya.


As Pelor lalu bergabung dengan kelompoknya, bekas pasukannya sewaktu revolusi. As Pelor memimpin gerombolan yang merajalela di wilayah Anjasmoro, Gajah Mungkur, Majosari, dan Trowulan serta berlindung di pegunungan sekitar Mojokerto. Mereka berharap bisa diterima jadi tentara. Mereka bertahan hidup dari pemberian rakyat di desa sekitar.



Menghadapi kelompok As Pelor, pemerintah tidak serta-merta menindak dengan kekerasan senjata. Dialog menjadi pilihan untuk menyelesaikan masalah.


Namun ketika perundingan sedang berlangsung, sebuah insiden terjadi. De locomotief edisi 23 Desember 1950 memberitakan, ketika As Pelor sedang melakukan perundingan di Surabaya, karyawan Valk dan dua anggota Brimob di dekat Kremboeng diserang dan terbunuh oleh anak buah As Pelor. Konon, kata anak buah As Pelor mereka melawan hingga harus ditembak. As Pelor dicap tak bisa mengendalikan anakbuahnya.


Dua hari setelah peristiwa di Kremboeng itu, As Pelor datang ke komandan Militer Kota Besar Surabaya, Kapten Darsan Iroe, untuk membahas syarat-syarat dari pemerintah bersedia untuk membebaskan dia dan kelompoknya yang terdiri dari 160 orang. Dia ke Surabaya hanya bersama beberapa anak buahnya. Kebanyakan anak buah As Pelor tetap berada di pegunungan. Mereka terpencar-pencar.



As Pelor dan kelompoknya akhirnya mau berdamai dengan pemerintah. Anak buah As Pelor menyerah kepada pemerintah lantaran pemerintah, menurut mereka, menjanjikan mereka masuk tentara.


As Pelor pun menyerah. Dan pemerintah menepati janji. Menurut koran Nieuws voor Kampen edisi 10 Januari 1951, akhirnya As Pelor mondar-mandir berseragam TNI dengan bintang di pundaknya.


As Pelor sendiri, kata koran Overijsselsch Dagblad edisi 12 Februari 1955, merupakan nama singkat dari Asjaad Pelor. Konon, ia bersama Batalyon Sikatan waktu menghilangkan Tan Malaka dan Mayor Sabaruddin.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Setelah diculik pengikut Tan Malaka, Sutan Sjahrir bikin perhitungan dengan penangkapan berantai. Adam Malik protes, Sayuti Melik pasrah digelandang ke bui.
bg-gray.jpg
Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik pengikut Tan Malaka, Presiden Sukarno minta Sjahrir dikembalikan.
bg-gray.jpg
Pengikut Tan Malaka menculik Sutan Sjahrir karena dianggap pengkhianat yang menjual tanah air kepada Belanda. Sukarno-Hatta memerintahkan untuk membebaskannya.
bg-gray.jpg
Identified with the god Vishnu and revered as the standard-bearer of all kings, the genealogy and depictions of Purnawarman can be traced in various Tarumanagara inscriptions.
Ini tentang ritual penerimaan anggota mafia, tradisi seppuku, dan pesawat khusus untuk kamikaze.
Ini tentang ritual penerimaan anggota mafia, tradisi seppuku, dan pesawat khusus untuk kamikaze.
Demi menggagalkan pendudukan Jepang di Singapura, sukarelawan Tionghoa rela mempertaruhkan nyawa. Perjuangannya tak diakui.
Demi menggagalkan pendudukan Jepang di Singapura, sukarelawan Tionghoa rela mempertaruhkan nyawa. Perjuangannya tak diakui.
Berawal dari tim buruh pabrik, kini Bayer Leverkusen kembali di ambang torehan “treble”. Sempat diejek dengan julukan “Neverkusen”.
Berawal dari tim buruh pabrik, kini Bayer Leverkusen kembali di ambang torehan “treble”. Sempat diejek dengan julukan “Neverkusen”.
Kurangnya koordinasi dan adanya miskomunikasi bikin aksi massa pertama para pemuda gagal. Ada yang ditangkap massa.
Kurangnya koordinasi dan adanya miskomunikasi bikin aksi massa pertama para pemuda gagal. Ada yang ditangkap massa.
Dulu pesepakbola yang berseragam celana kulot dianggap vulgar. Kini, perempuan dengan seragam berjilbab dianggap tak sesuai.
Dulu pesepakbola yang berseragam celana kulot dianggap vulgar. Kini, perempuan dengan seragam berjilbab dianggap tak sesuai.
Aktor senior Adi Kurdi menilai Sukarno berhasil menyelaraskan pemikiran dan keterampilan.
Aktor senior Adi Kurdi menilai Sukarno berhasil menyelaraskan pemikiran dan keterampilan.
transparant.png
bottom of page