- 17 Apr 2021
- 4 menit membaca
Diperbarui: 1 Jul
SETIAP Ramadan tiba, film-film dakwah Islam tayang sangat sering di televisi. Film-film itu berupaya menyampaikan pesan Islam lewat bentuk-bentuk lahir yang kentara. Misalnya terlihat pada busana, ucapan, adegan di masjid, dan suasana keluarga dalam rumah. Tak jarang orang merasa dikhotbahi ketika menontonnya sehingga menjadi kurang nyaman. Akhirnya, film itu justru ditinggalkan.
K.H. Abdurrachman Wahid, mantan presiden Indonesia 1999–2001, punya rumus jitu agar film dakwah tak terjebak pada formalitas semacam itu. Gus Dur, sapaan akrabnya, selain dikenal sebagai sosok gemar membaca, juga gandrung pada film. Sejak remaja dan tinggal di Yogyakarta, pada 1950-an dia gemar menonton film-film serius.
“Hampir sebagian besar waktunya selama tinggal di kota ini ia habiskan dengan menonton film,” sebut Greg Barton dalam Biografi Gus Dur.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















