top of page

Haji-haji Revolusioner di Banten

Kemarahan terhadap pemerintah kolonial Belanda terawat sejak lama. Semangat jihad jadi bahan bakarnya. Berselisih pada saat-saat terakhir.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Rumah Haji Wasid, pemimpin pemberontakan, di Desa Beji, Bojonegara, Cilegon, yang dihancurkan oleh tentara Belanda. (KITLV).

14 Jun 2025
5 menit membaca

Diperbarui: 9 Jul

SEBAGAI seorang guru sekaligus pemuka tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, Haji Abdul Karim meninggalkan banyak muridnya di Banten. Dua di antaranya yang paling utama dan cukup disegani adalah Haji Tubagus Ismail dari Gulacir dan Haji Marjuki dari Tanara. Kedatangan Abdul Karim dari Makkah ke Banten menghidupkan kembali semangat perlawanan murid-muridnya.


“Dengan kedatangan Kiai Haji Tubagus Ismail [dari Makkah], seorang anggota tarekat Qadiriah dan murid Haji Abdul Karim, gerakan pemberontakan memperoleh kembali sebagian kekuatannya yang lama,” tulis Sartono Kartodirjo dalam Pemberontakan Petani Banten 1888. Seperti terlihat dari namanya, Tubagus Ismail termasuk bangsawan Banten, yang telah kehilangan semua pengaruh politiknya, tetapi masih mempunyai prestise sosial di kalangan penduduk.


Menurut C. Snouck Hurgronje, “Ulama Jawa yang Ada di Mekah pada Akhir Abad ke-19,” termuat dalam Islam di Asia Tenggara: Perspektif Sejarah, pertama-tama, Tubagus Ismail belajar kepada ayahnya, Haji Sadili, yang membawanya pergi naik haji bersamanya selagi dia masih kanak-kanak. Sekembalinya dari perjalanan haji, dia belajar kepada Haji Sahal di Banten, dan kepada Haji Yusuf di Purwakarta, Jawa Barat.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page