- 14 Jun 2025
- 5 menit membaca
Diperbarui: 6 hari yang lalu
SEBAGAI seorang guru sekaligus pemuka tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, Haji Abdul Karim meninggalkan banyak muridnya di Banten. Dua di antaranya yang paling utama dan cukup disegani adalah Haji Tubagus Ismail dari Gulacir dan Haji Marjuki dari Tanara. Kedatangan Abdul Karim dari Makkah ke Banten menghidupkan kembali semangat perlawanan murid-muridnya.
“Dengan kedatangan Kiai Haji Tubagus Ismail [dari Makkah], seorang anggota tarekat Qadiriah dan murid Haji Abdul Karim, gerakan pemberontakan memperoleh kembali sebagian kekuatannya yang lama,” tulis Sartono Kartodirjo dalam Pemberontakan Petani Banten 1888. Seperti terlihat dari namanya, Tubagus Ismail termasuk bangsawan Banten, yang telah kehilangan semua pengaruh politiknya, tetapi masih mempunyai prestise sosial di kalangan penduduk.
Menurut C. Snouck Hurgronje, “Ulama Jawa yang Ada di Mekah pada Akhir Abad ke-19,” termuat dalam Islam di Asia Tenggara: Perspektif Sejarah, pertama-tama, Tubagus Ismail belajar kepada ayahnya, Haji Sadili, yang membawanya pergi naik haji bersamanya selagi dia masih kanak-kanak. Sekembalinya dari perjalanan haji, dia belajar kepada Haji Sahal di Banten, dan kepada Haji Yusuf di Purwakarta, Jawa Barat.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















