- 14 Jun 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 4 hari yang lalu
HAJI Abdul Karim pulang kampung ke Banten setelah puluhan tahun menimba ilmu di Makkah. Sang guru Ahmad Khatib dari Sambas memberinya ijazah untuk mengajarkan tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.
Abdul Karim, yang lahir di Lampuyang, Tanara, Serang, Banten, pada 1840, telah menjadi ulama dalam usia muda. Hal ini karena dia memulai pendidikan agamanya sejak dini dan sudah ke Makkah ketika masih kanak-kanak –kemungkinan besar dibawa orang tuanya. Di masa remajanya sudah fasih berbahasa dan membaca tulisan Arab; dia juga menunjukkan hasrat mendalam terhadap ajaran-ajaran Islam.
“Dia kembali ke tempat kelahirannya menjelang usia 30-an dan, sebagaimana disarankan oleh gurunya di Makkah, mengangkat dirinya sebagai guru mursyid dan imam. Dia pernah terlibat kesulitan dengan para pejabat Belanda karena melanggar peraturan-peraturan paspor, dan dia sudah dipandang sebagai sebuah cemeti bagi para kafir itu, sebuah duri bagi penjajah,” tulis Simon Winchester dalam Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















