- 14 Jun 2025
- 9 menit membaca
Diperbarui: 9 Jul
HAJI Abdul Karim tidak ikut dalam pemberontakan karena kembali ke Makkah untuk menggantikan gurunya, Ahmad Khatib Sambas, sebagai pemimpin (khalifah) tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Namun, dia telah menanamkan doktrin-doktrin agama yang membakar rakyat Banten untuk memberontak.
“Khotbah-khotbah, janji-janji, dan ramalan-ramalan Haji Abdul Karim tentang Hari Kiamat, kedatangan Mahdi, dan tentang jihad terus membakar semangat rakyat,” tulis Sartono Kartodirdjo dalam Pemberontakan Petani Banten 1888.
Akan tetapi, menurut Sartono, Abdul Karim bukan seorang revolusioner yang radikal. Kegiatannya terbatas pada tuntutan agar menaati berbagai ketentuan agama seperti salat, puasa, zakat, dan zikir. Setelah dia meninggalkan Banten, gerakan itu mulai berpaling dari kegiatan yang semata-mata diarahkan untuk kebangkitan agama.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















