Diperbarui: 4 Okt
SEJUMLAH sejarawan yang tergabung dalam Aliansi Keterbukaan Sejarah Indonesia (AKSI) memberi banyak catatan kritis terhadap 10 jilid buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Mulai soal tatanan keilmuan, struktur sejarah, sumber dan metodologi, hingga soal perspektif peranan perempuan.
Buku Sejarah Indonesia (SI) itu di-soft launching pemerintah pada 14 Desember 2025 silam. Bukunya ditulis oleh 123 penulis dari 34 perguruan tinggi dan 11 penulis dari lembaga non-perguruan tinggi se-Indonesia dan diampu 20 editor jilid dan tiga editor umum.
Kendati begitu, secara fisik lima dari 10 jilid bukunya baru dirilis Kementerian Kebudayaan RI pada 31 Agustus 2026 dan sudah bisa dibaca secara daring lewat situs pustakabudaya.id. Kelima bukunya yakni: Akar Peradaban Nusantara (jilid I), Nusantara dalam Jaringan Global: Perjumpaan Budaya dengan India, Tiongkol dan Persia (jilid II), Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah (jilid III), Interaksi Awal dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi (jilid IV), Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial: 1800-1900 (jilid V).
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















