- 4 Jul 2023
- 6 menit membaca
Diperbarui: 21 Mei
OMOH sedang berada di depan rumah ketika dua tentara Jepang datang membawa sepucuk surat dan menyerahkannya ke orang tuanya. Sepeninggal si Jepang, tak satu pun yang berani menyentuh surat itu. Selain takut, kedua orang tuanya yang hidup dari bertani buta huruf. “Hanya katanya, saya akan dipekerjakan,” ujarnya.
Sesuai pesan orang Jepang itu, keesokan harinya Omoh dan kedua orang tuanya datang ke kantor tentara Jepang di Jalan Simpang, Cimahi. Surat itu mereka bawa. Sesampai di sana, mereka baru tahu bahwa surat itu berisi pengumuman bahwa Omoh diterima bekerja sebagai babu di tempat itu.
Pada 1942, Omoh masih berusia 14 tahun. Di sana dia bertemu dengan beberapa perempuan muda yang juga akan dipekerjakan sebagai babu. Selama enam hari, tak ada pekerjaan yang harus dia lakukan, kecuali taiso (senam). Karena heran, dia bertanya kepada juru masak, seorang perempuan bernama Awat. Jawabannya singkat: nanti juga akan tahu. “Saya hanya bisa bertanya-tanya dalam hati apa pekerjaan saya.”
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















