top of page

Ikan, Kuliner Favorit Sejak Dulu

Ikan melimpah ruah di Nusantara. Sejak dulu menjadi makanan favorit.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Penggambaran orang menangkap ikan dalam relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur.

23 Feb 2019
3 menit membaca

“Tidak makan ikan, saya tenggelamkan!” begitu bunyi kelakar yang tak asing lagi terdengar dari Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Lewat candaannya itu, dia mengimbau masyarakat untuk mengonsumsi ikan.


Ikan menjadi makanan favorit sejak dulu kala. Sebagaimana disebut sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin, kekayaan ikan di Kepulauan Nusantara membuat kagum para penjelajah asing. Marcopolo misalnya. Pelaut asal Italia itu sempat menginjakkan kaki di tanah Sumatra pada akhir abad ke-13. “Ikan di kawasan Asia Tenggara merupakan yang terbaik di dunia,” kata Marcopolo.


Laksamana Cheng Ho yang melakukan ekspedisi ke Nusantara pada abad ke-15 M sempat menggerutu langka dan mahalnya beras, daging, maupun sayuran di beberapa pelabuhan Asia Tenggara. Namun, ikan murah dan melimpah di mana-mana.


Jauh sebelum kedatangan mereka, data dari masa kerajaan-kerajaan kuno sudah membuktikan banyaknya ragam ikan yang dikonsumsi masyarakat kuno. Arkeolog Supratikno Raharjo dalam Peradaban Jawa menyebut orang-orang pada masa itu telah memanfaatkan ikan tawar dan laut untuk dikonsumsi.


Ikan tawar, seperti kepiting (hayuyu), udang sungai (hurang), sejenis ikan (wagalan, kawan-kawan, dlag). Ikan laut adalah kepiting laut (gtam), cumi (hnus), kerang-kerangan (iwan knas), sejenis ikan laut (kadiwas, layar-layar, prang, tangiri, rumahan, slar). Ada pula beberapa jenis ikan yang tidak diketahui habitatnya, yaitu bijanjan, bilunglung, harang, halahala, dan kandari.


Sumber prasasti juga menyebutkan beberapa jenis ikan yang diawetkan dalam bentuk dendeng (deng) atau rasa asin (asin-asin) sebelum dikonsumsi. Kedua jenis itu, baik ikan segar maupun yang telah dikeringkan, menjadi komoditas yang diperjualbelikan di pasar.


Data prasasti menggambarkan sajian dari ikan selalu ada dalam upacara penetapan sima. Keterangan itu ditemukan dalam Prasasti Taji (823 Saka/901 M), Panggumulan (824 Saka/902 M), Sangguran (850 Saka/928 M), Paradah (865 Saka/943 M), dan Rukam (829 Saka/907 M).


Pada prasasti-prasasti itu tertulis asin asin dain kakap (ikan asin kakap), kadiwas, bilunglung, hala hala, layar layar , dan kawan. Hewan air lainnya dijumpai dengan istilah hurang (udang).

Untuk ikan yang diasinkan atau dikeringkan istilahnya grih (ikan asin) atau gêreh dalam bahasa Jawa) dan ḍeŋ/ḍaiŋ(dendeng/ikan yang dikeringkan).


Arkeolog Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa menjelaskan, dalam prasasti ada dua macam dendeng yaitu ikan yang dikeringkan dengan rasa asin atau rasa tawar.


“Demikianlah mereka semua menambah kepada daun mereka, lalu menyantap jenis-jenis makanan, nasi matiman menumpuk ikan yang diasinkan, seperti dendeng kakap, dendeng bawal, ikan asin kembung (ikan peda?), ikan layar atau pari, udang, hala hala, dan telur,” sebut Prasasti Panggumulan.


Dalam Prasasti Rukam (829 Saka/907 M), disebutkan jenis makanan yang dihidangkan di antaranya adalah nasi paripurna timan? berlimpah-limpah haraŋ-haraŋ, dendeng kakap, dendeng bawal, dendeng ikan duri, dendeng hanaŋ, kawan kawan, ikan kembung, ikan layar/pari, hala hala, udang, ikan gabus dikeringkan, serta telur kepiting.


Kata Titi, dari jenis hidangan yang disajikan pada upacara penetapan sima terdapat juga jenis makanan yang umum dijadikan konsumsi sehari-hari, yaitu ikan asin.


“Sampai saat ini pun ikan asin masih umum dikonsumsi sebagai salah satu jenis lauk pauk sehari-hari di pedesaan,” jelas Titi.


Relief sajian ikan di Candi Borobudur.
Relief sajian ikan di Candi Borobudur.


Pada sebuah panil di relief Candi Borobudur tergambar beberapa menu dari ikan. Pertama, empat ikan belut yang disajikan dalam posisi melingkar. Kedua, tiga ekor ikan yang cukup besar, disajikan utuh, kepala, tubuh, hingga ekor. Ketiga, dua tusuk potongan tubuh ikan yang dirangkai dengan tusuk bambu persegi memanjang.


“Hal ini memgingatkan kita kepada pepatah Jawa ‘kutuk marani sunduk’. Kemungkinan lain adalah semacam sate daging ikan yang dihaluskan dan dibumbui, kemudian dipanggang, yang kini disebut dengan ‘brengkes ikan’,” kata Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang.


Lalu ada juga dua kepiting atau yuyu dan empat ekor ikan. Kedua jenis masakan itu, masing-masing nampak hanya bagian atasnya, sepasang sapit dan kepala ikan.


“Boleh jadi itu lantaran makanan ini berkuah, bagian tengah dan bawahnya terendam kuah,” kata Dwi. 

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s long journey to fight for justice for women came to a halt during the Japanese occupation.
Sjfaruddin yang memiliki keahlian di bidang ekonomi dipercaya Sjahrir sebagai menteri muda keuangan dalam Kabinet Sjahrir II. Mengeluarkan kebijakan untuk menggunting uang NICA dan uang Javasche Bank pecahan Rp. 5 menjadi dua bagian.
Sjfaruddin yang memiliki keahlian di bidang ekonomi dipercaya Sjahrir sebagai menteri muda keuangan dalam Kabinet Sjahrir II. Mengeluarkan kebijakan untuk menggunting uang NICA dan uang Javasche Bank pecahan Rp. 5 menjadi dua bagian.
Di masa tuanya, Sjafruddin yang sudah tidak berpolitik memilih menampilkan diri sebagai seorang mubaligh.
Di masa tuanya, Sjafruddin yang sudah tidak berpolitik memilih menampilkan diri sebagai seorang mubaligh.
Kepala rumah tangga istana menyembelih ayam kesayangan wakil presiden. Dia dipenjara bersama tahanan politik Peristiwa 3 Juli 1946.
Kepala rumah tangga istana menyembelih ayam kesayangan wakil presiden. Dia dipenjara bersama tahanan politik Peristiwa 3 Juli 1946.
Upaya mencari dana pembangunan di ibukota. Perusahaan Daerah sempat tak memenuhi harapan.
Upaya mencari dana pembangunan di ibukota. Perusahaan Daerah sempat tak memenuhi harapan.
Sejarawan Ayang Utriza Yakin paparkan beberapa kesalahan teknis dalam penyusunan Kamus Sejarah Indonesia Jilid I terbitan Kemendikbud.
Sejarawan Ayang Utriza Yakin paparkan beberapa kesalahan teknis dalam penyusunan Kamus Sejarah Indonesia Jilid I terbitan Kemendikbud.
Kekerasan, darah, seks, dan eksploitasi tubuh perempuan mendominasi film-film silat Indonesia. Wiro Sableng kekinian berusaha meninggalkannya.
Kekerasan, darah, seks, dan eksploitasi tubuh perempuan mendominasi film-film silat Indonesia. Wiro Sableng kekinian berusaha meninggalkannya.
transparant.png
bottom of page